[Fanfiction] Our Love Story (Chap 18 – Destiny…)

 

Title                 : Our Love Story – Destiny…

Length              : Multi chapter – chapter 18

Author              : littleyounghae & missdorky

Cast                  :

  1. Lee Donghae
  2. Cho Kyuhyun
  3. Park Eunyoung (OC)
  4. Lee Younghyun (OC)
  5. etc^^

Genre               : Romance, Family

Rated               : PG-17

Notes               : FF ini merupakan project kolaborasi pertama dari dua penulis (littleyounghae dan missdorky) . FF ini salah satu cara untuk menunjukan cara kami dalam berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita…^^ Enjoy and feel the story… Happy Reading, don’t forget to give comments and We will appreciate it… ^^

Disclaimer        : Cast FF ini yang jelas bukan milik kami tapi Cerita FF ini murni dari otak kami berdua…. susah payah menggabungkan dua ide jadi satu karya, so… don’t be plagiator…

A/N                 : Ga akan banyak omong dari kita. Yang mau baca Full-Enjoy reading and feel it ^^

MasterListOur Love Story (Chap 17 – Moments…)

 

——–^ Destiny… ^——–

 

“Takdir tidak akan pernah bisa diubah, karena Tuhan sudah menggariskan semuanya untuk setiap makhluk-Nya. Bahkan daun yang berguguran-pun tak luput dari garis takdir Tuhan”

Kabut pagi mulai memudar seiring dengan hari yang mulai beranjak siang. Walau begitu, tetap saja tak ada tanda-tanda matahari akan menampakan sinarnya. Sinar hangat yang dapat menghangatkan jiwa-jiwa yang kini tengah dirundung kesedihan. Tak ada tawa, tak ada canda, tak ada senyuman, bahkan tak ada kebahagiaan dari beberapa orang yang silih berganti memasuki gereja tua yang masih berdiri kokoh walau telah makan usia. Semua tampak kelabu. Ya kelabu, hanya kata itu yang pantas untuk menggambarkan suasana saat hari itu.

Sejak pagi air mata langit terus turun, seakan ikut bersedih. Langit-pun sejak tadi berwajah muram, mendung, dengan awan kehitaman yang bersatu untuk memproduksi rintik-rintik hujan. Bahkan dinginnya hembusan angin menyergap kulit, menusuk hingga ke tulang. Dentingan anak lonceng terus menggema di pelataran gereja yang tampak damai dan tentram namun kelabu itu. Kebanyakan dari mereka yang berada di sana, memasang wajah mendung layaknya sang-langit. Hanya segelintir orang yang tampak tegar.

Doa dipanjatkan untuk sang-Terkasih. Satu persatu tangkai bunga Lily diletakkan di atas altar sebagai tanda penghormatan terakhir. Seorang namja berbaring di dalam kotak berbentuk persegi panjang, dengan senyuman indah menghiasi wajahnya. Wajahnya begitu damai dan ikhlas untuk pergi selama-lamanya walau harus meninggalkan orang-orang yang sangat ia sayangi. Sebuah takdir, itulah yang di-mind-set secara permanent di pikirannya. Takdir tidak akan pernah bisa diubah, karena Tuhan sudah menggariskan semuanya untuk  setiap makhluk-Nya. Bahkan daun yang berguguran-pun tak luput dari garis takdir Tuhan.

Tangis dan haru seketika pecah saat peti mati mulai ditutup dengan diiringi alunan lagu rohani yang terasa begitu menyayat hati. Eunyoung masih setia menemani suaminya walau kini peti sudah tertutup rapat dan ia tak akan pernah bisa melihat namja itu lagi. Matanya sendu dan jiwanya seperti meninggalkan tubuhnya begitu saja. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mendekap boneka nemo miliknya dan terdiam seribu bahasa.

Frame foto berwarna hitam membingkai potret hitam putih dari seorang Lee Donghae, dengan pita hitam yang menghiasi bagian atas potretnya. Tak ada guratan kesedihan yang terekam dari gambar itu, yang ada hanyalah tawa lepas. Lee Sungmin, hyung dari Lee Donghae, memegang erat frame foto tersebut dan mendekapnya di dadanya. Wajahnya jelas terlihat sangat terpukul, namun walau begitu, ia tetap berusaha menampilkan sisi tegarnya. Ia menatap jalan yang berada di depannya, bersiap mengiringi kepergian adik tercintanya.

Jongjin, namja kecil yang mengenakan pakaian hitam-hitam lengkap dengan sarung tangan yang membungkus tangan mungilnya, berjalan di samping Sungmin. Namja kecil itu ikut memegang ujung frame foto dengan tangan kanannya, di mana tangan kirinya mengamit beberapa tangkai bunga Lily dan buku gambar kesayangannya yang penuh dengan gambar nemo. Bibir Jongjin terus bergetar, menahan tangis atas kepergian paman tersayang-nya yang kini tak akan pernah ia temui lagi untuk selamanya. Namja kecil ini berjalan terseok-seok, berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah milik Sungmin. Hujan yang turun tak menyurutkan semangatnya untuk berjalan di line paling depan.

Air mata langit masih terus mengiringi kepergian Donghae walau hari sudah beranjak siang. Siwon, Lee Dongjun-Appa Donghae, Jaejoong, Ryeowook, Changmin, Jino dan beberapa sahabat Donghae yang sama-sama berprofesi sebagai dokter, turut mengantar Donghae. Membawanya di atas pundak mereka, menuju tempat peristirahatan terakhir. Hampir semua prosesi pemakaman Siwon–lah yang turun tangan. Ia mem-backing keluarga Lee yang baru saja tiba dari Jepang beberapa jam lalu.

Lee Teuk dan Jihyun, mengamit lengan Eunyoung di sisi kanan dan kiri. Tatapan Eunyoung tak kalah kosong dari Sungmin. Yeoja ini bahkan tak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Lee Teuk-sang appa dan Jihyun. Langkah kakinya hanya mengikuti ke mana arah lengannya dibawa. Boneka nemo miliknya tak pernah ia lepas dari dekapannya.

Shock, kalut, bingung, dan gamang, terpancar jelas di wajah Eunyoung, semua terlalu mendadak diterima oleh-nya. Sesekali langkah kaki Eunyoung terhenti karena kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Lee Teuk dan Jihyun lagi-lagi berperan di sini, mereka mengeratkan amitan tangan mereka di lengan Eunyoung.

Keluarga besar Donghae berjalan di belakang Lee Teuk, Jihyun dan Eunyoung. Omma Donghae termasuk Himawari Jiya, gadis keturunan Jepang, yang merupakan tunangan Sungmin, ikut berjalan di belakang bersama Kim Haesi. Sesuai dengan permintaan Donghae untuk terakhir kalinya, tak ada isak tangis yang terdengar selama perjalanan mereka menuju kompleks pemakaman. Hanya hening dan suara rintik hujan yang terdengar terus membentur jalan aspal yang mereka lalui. Semua kalut dengan pikiran mereka masing-masing. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berjalan mengikuti jalan yang mereka lalui saat ini.

Kyuhyun dan Younghyun mengekor di urutan paling buncit. Tak ada percakapan di antara dua orang yang saling mencintai itu. Pikiran Younghyun terus berkecamuk menjadi satu. Bayangan Donghae yang pergi untuk selamanya, Eunyoung yang sangat terpukul dan shock, dan si kecil Jongjin yang harus kembali kehilangan sosok orang yang ia sayangi. Kyuhyun dengan setia menguatkan isterinya dengan merangkul erat pinggangnya. Kyuhyun sendiri tak jauh beda dari Younghyun. Sahabat terbaiknya yang selalu bersama-sama sejak dulu, kini harus berpisah dalam dunia yang berbeda.

Jasad Donghae mulai dikebumikan. Suasana kelabu menjadi semakin kelabu saat mereka semua yang berada di sana menangis dalam diam. Kelopak bunga digugurkan ke dalam liang lahat untuk mengiringi kepergian Donghae untuk selama-lamanya. Sungmin, Kyuhyun dan Younghyun menutupi kesedihannya dengan mengenakan kaca mata hitam untuk membingkai mata sembab mereka. Eunyoung hampir terjatuh, kalau saja tak ada Lee Teuk dan Jihyun yang berada di sisinya. Ia melihat liang lahat itu kini sudah tertutup dan menggunduk dengan nisan yang menghiasi.

Pemakaman usai, beberapa pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Orang tua Donghae-pun bersiap untuk kembali ke Jepang, mereka tak ingin berlama-lama di Korea, karena itu hanya akan mengingatkan kenangan dari putera bungsu mereka. Mereka bukan ingin melupakan semua, tapi mereka hanya perlu menenangkan diri setelah kehilangan Donghae. Eunyoung masih terdiam menatap gundukan tanah basah di hadapannya. Tak ada ungkapan yang pas untuk menggambarkan keadaan Eunyoung saat ini.
“Young-ah, ayo kita pulang,” Sungmin menghampiri Eunyoung, berlutut menyamakan tinggi badan mereka. Tak ada jawaban yang diterima oleh Sungmin. “Young-ah, Donghae sudah pergi. Biarkan dia tenang di sana,” ucap Sungmin lagi. Hening, tetap tak ada respon dari Eunyoung.

“Young-ah, kau ingat apa yang sering Donghae oppa katakan padamu bukan? Kau yeoja yang kuat, hebat dan apapun yang terjadi kau harus tetap bisa tersenyum,” Younghyun angkat suara, ia lepas kaca mata hitamnya dan menghampiri Eunyoung.

“Young-ah, ayo kita pulang, kasian baby, di sini sangat dingin,” Eunyoung menoleh, segera saja Younghyun tersenyum manis. Namun senyum itu seketika hilang, Eunyoung kembali menatap nisan Donghae.

Younghyun menghela nafas panjang. Ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang sudah menganak di sudut matanya. “Young-ah, aku mohon, jangan seperti ini, oke?” Younghyun menggapai tangan Eunyoung dan bersiap membantu yeoja berbadan dua itu untuk berdiri. “Young-ah,” panggil Younghyun lagi, karena Eunyoung melepaskan genggaman Younghyun.

Kyuhyun segera merangkul isterinya itu dan sedikit menjauh dari tempat Eunyoung berada. Ia tahu isterinya itu sebentar lagi pasti akan berubah menjadi histeris. Dan benar saja setelah sepasang suami isteri itu menjauh suara tangis Younghyun terdengar jelas sekali. Lee Teuk yang berada di samping Eunyoung ikut membujuk puterinya itu agar mau pulang.

“Young-ah, ayo kita pulang sayang. Appa tau kau ingin berada di sini, tapi hari ini hujan sayang, appa tidak ingin kau sakit, baby juga. Kita bisa ke sini lagi besok kalau kau mau, sekarang ayo kita pulang.” Suara lembut Lee Teuk terdengar bagai penyejuk untuk hati Eunyoung yang masih kelabu. Perlahan Eunyoung menoleh pada Lee Teuk, ia mulai berdiri mengikuti gerakan Lee Teuk yang merangkul bahunya.

Tangan hangat Lee Teuk senantiasa menghangatkan tangan Eunyoung selama perjalanan keluar area pemakaman. Sungmin dan Jiya telah lebih dahulu pulang untuk mengantar kepergian orang tua Donghae ke Jepang. Kyuhyun, Younghyun beserta Jaejoong, Changmin dan lainnya mengekor di belakang Lee Teuk dan Eunyoung.

——–^ Destiny… ^——–

Langit semakin gelap, awan kelabu serta hujan yang kian deras, mengiringi kepulangan Eunyoung dari pemakaman. Tidak ada satu kata terucap dari bibir manis yeoja itu, bahkan ia hanya menatap kosong apapun di depannya. Tanpa tangis, tanpa senyuman yang selalu Donghae ingin lihat. Jiwa Eunyoung seakan menghilang dari raganya, dan itu membuat orang-orang di dekat Eunyoung merasa khawatir.

Kyuhyun masih berusaha fokus mengemudikan mobilnya walau sesekali ia melihat Eunyoung, Younghyun dan Jongjin yang duduk di bangku belakang lewat kaca spion. Lee Teuk yang terpejam di sebelahnya, tidak luput dari mata obsidian seorang Kyuhyun. Nampak gurat sedih dan lelah pada wajah namja paruh baya itu dan Kyuhyun amat sangat mengerti apa yang dirasakan ayah mertuanya.

Jongjin, yang tadi sempat membuat panik karena tiba-tiba terserang asma, sudah terlelap tidur dalam dekapan Younghyun. Sedangkan Eunyoung bersandar merapat pada pintu, ia arahkan padangannya pada tetesan air hujan yang membasahi kaca mobil. Sorot matanya sendu dan Eunyoung masih mengunci dirinya dalam keheningan tanpa ekspresi. Kyuhyun hanya bisa menghela nafas. Bingung, sedih, dan khawatir begitu mendominasi pikiran Kyuhyun saat melihat keadaan Eunyoung seperti itu.

Appa, Omma…” suara lirih Eunyoung seketika membuat Younghyun yang berada di dekatnya menoleh ke arah yeoja itu.

Eunyoung memejamkan matanya setelah berucap lirih memanggil kedua orang tuanya. Younghyun dengan refleks mendekat, memeriksa keadaan Eunyoung setelah ia lihat wajah yeoja itu kian memucat dan berpeluh. Dengan mempertahankan Jongjin dalam dekapannya, ia menyeka peluh di wajah Eunyoung dengan tissue.

Omo! Young-ah, tubuhmu panas sekali. Young-ah, kau bisa mendengarku?” panik Younghyun menepuk pelan pipi Eunyoung yang kian rapat menutup matanya.

Kyuhyun di balik kemudi, ikut merasa panik, begitu juga Lee Teuk yang terbangun dari istirahatnya. Younghyun sedikit kesusahan memastikan kondisi Eunyoung karena Jongjin yang masih dalam pangkuannya.

Appa, Oppa, Ottokhae? Young-ah, Eunyoung-ah!” berulang-ulang Younghyun kembali menepuk pipi Eunyoung agar sedikit saja menunjukan responnya. Namun semuanya nihil, Younghyun mulai menitikan air mata, sambil berusaha membuat Eunyoung bersandar padanya.

“Tepikan mobilnya Kyu!” seru Lee Teuk.

Kyuhyun segera memotong jalan, menepikan mobilnya dengan tiba-tiba, tidak peduli pengendara mobil lain merutuknya. Lee Teuk segera keluar dari mobil, berpindah posisi ke bangku belakang. Kyuhyun pun ikut keluar dari mobil, lalu memeriksa keadaan Eunyoung dengan seksama.

“Eunyoung-ah, kau mendengar Appa, nak? Bangun, sayang, Young-ah, Eunyoung-ah!” tangis Lee Teuk pecah. Ia dekap puterinya itu erat, sesekali ia menepuk pipi Eunyoung. Memorinya kembali berputar saat ia kehilangan salah satu puterinya, Younghee, saudara kembar Younghyun.

Jagi, kau pindah ke depan, biar aku periksa Eunyoung sebentar,” Younghyun menurut perkataan suaminya, dengan air mata panik yang masih terus keluar dari sudut matanya. Ia eratkan dekapannya pada tubuh mungil Jongjin, melindungi namja itu dari tetes air hujan yang masih belum berhenti.

Kyuhyun mencoba berkonsentrasi memeriksa nadi Eunyoung. Kyuhyun terperangah kaget, ia periksa sekali lagi bola mata Eunyoung memastikan dugaannya. Tanpa pikir panjang ia segera kembali ke depan kemudi, secepat mungkin menyalakan mesin mobilnya.

“Nadinya sangat lemah, aku tidak mengerti mengapa. Demamnya juga sangat tinggi, kita harus segera ke rumah sakit,” putus Kyuhyun sebelum Younghyun membuka suara menanyakan keadaan Eunyoung.

Andwae! Kita langsung ke rumah, oppa!” ucap Younghyun pasti sesaat mobil Kyuhyun mulai melaju kembali membelah jalan raya yang basah oleh hujan. Kyuhyun sedikit terkejut dengan perkataan isterinya itu, masalahnya kondisi Eunyoung bisa saja memburuk jika tidak ditangani dengan baik.

“Tapi…”

Andwae, jangan ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Appa untuk menyiapkan semua peralatan, agar Eunyoung bisa dirawat di rumah. Aku juga akan menghubungi dokter Kim, untuk memeriksa keadaan baby. Kumohon, oppa, Eunyoung akan lebih memburuk jika berada di rumah sakit, suasana rumah yang sangat Eunyoung butuhkan,” jelas Younghyun.

Younghyun sangat tahu kondisi Eunyoung saat ini butuh perawatan medis yang baik, terutama demi keselamatan calon bayi yang ada dalam kandungannya. Namun Younghyun kembali teringat dulu, saat Eunyoung tiba di rumah sakit. Yeoja itu penuh luka, bukan hanya luka luar tapi luka kehilangan yang begitu dalam. Oleh karena itu, kali ini Younghyun tidak akan membiarkan keadaan itu terulang kembali. Ia melihat Eunyoung tertekan dengan keadaan ini, hingga membuat kondisinya menurun drastis.

Kyuhyun tidak membantah, ia justru melajukan mobilnya secepat mungkin agar cepat sampai di rumah Eunyoung dan Donghae. Younghyun berusaha tenang, menghubungi Siwon dan juga dokter Kim agar mempersiapkan semua perawatan medis yang dibutuhkan Eunyoung. Tidak lupa ia memberitahu Sungmin tentang kondisi Eunyoung. Lee Teuk tanpa sedikitpun melepaskan pelukan hangatnya pada Eunyoung, tangisnya pun tanpa henti membasahi wajahnya.

Tidak membutuhkan waktu cukup lama, mobil Kyuhyun sudah memasuki pekarangan rumah Donghae dan Eunyoung. Hujan masih terus turun, meskipun intensitasnya sedikit berkurang. Sungmin dan Jiya, menghampiri mobil Kyuhyun, sudah siap memayungi mereka. Kyuhyun segera turun dari mobil, lalu membantu Eunyoung menuju ke dalam rumah. Ia langkahkan kaki dengan cepat, Sungmin yang memayungi mereka pun sedikit kesulitan menyamakan langkahnya.

Younghyun, yang masih mengendong Jongjin, mengekor mereka dengan raut wajah yang tidak bisa tergambarkan. Lee Teuk pun demikian, namja paruh baya itu panik, cemas dan bingung melihat kondisi Eunyoung. Kepergian Donghae sudah membuat semua orang sedih dan terkejut dan ditambah lagi kondisi Eunyoung yang bahkan dikatakan jauh dari baik.

Sesampainya di kamar, Kyuhyun merebahkan Eunyoung di tempat tidur dengan hati-hati. Dokter Kim dan seorang perawat segera memeriksa keadaan Eunyoung. Semua menanti dengan panik. Kyuhyun yang masih terengah, dengan pakaian sedikit basah, tidak sekalipun beranjak dari kamar. Baginya, Eunyoung sudah menjadi tanggung jawabnya, mengingat ia adalah yeoja yang sangat dicintai sahabatnya, Donghae.

Oppa, bagaimana Eunyoung?” Younghyun yang tergesa-gesa masuk ke dalam kamar, setelah menidurkan Jongjin di kamar lain, ia langsung menghampiri Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng, belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Eunyoung.

“Eunyoung-ah..” lirih Younghyun. Yeoja itu kembali menitikan air matanya, panik akan semua yang tiba-tiba terjadi sejak kemarin.

Kyuhyun membawa isterinya yang sedang kalut itu masuk dalam dekapannya. Ia dan Younghyun adalah dua orang yang paling merasakan kepahitan bertubi-tubi hari itu. Bagaimana tidak, kepergian Donghae yang tiba-tiba, ditambah kondisi orang-orang di dekatnya yang cukup membuatnya sedih dan khawatir.

Jongjin, yang sama terpukulnya dengan Eunyoung, mendadak shock dan asma yang diderita namja kecil itu cukup membuat Younghyun panik. Ditambah dengan sikap Eunyoung yang belum merespon apa-apa atas semua yang terjadi. Kini keadaan bertambah buruk, Eunyoung tidak sadarkan diri, dengan muka pucat dan kondisi yang sama sekali tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dan satu lagi, Lee Teuk, sang Appa yang menangis tersedu melihat Eunyoung. Ini mengingatkannya pada saudara kembar Younghyun, Younghee, yang meninggal karena depresi. Sungguh, kalau bisa, mereka  ingin keluar dari semua perasaan itu.

“Kondisinya sangat lemah, suhu tubuh Eunyoung-ssi mencapai 40° celcius, nadi-nya lemah dan kondisi ini bisa berdampak pada bayi dalam kandungannya. Yang bisa kita lakukan sementara, menurunkan demamnya sambil menunggunya sadar,” jelas Dokter Kim setelah memeriksa kondisi Eunyoung.

“Tapi semua akan baik-baik saja kan?” tanya Younghyun.

“Kita akan berusaha membuat kondisinya stabil dan normal kembali. Kurasa shock dan gangguan psikis sangat berperan penting dalam hal ini, jadi aku mohon bantuan kalian semua,” ujar dokter Kim menatap satu per satu yang ada di sana. Sementara perawat sedang membantu memasangkan infus dan oksigen pada Eunyoung.

——–^ Destiny… ^——–

Kepanikan semua orang di kediaman Donghae sudah mulai mereda, meskipun belum sepenuhnya hilang karena Eunyoung belum juga sadarkan diri. Younghyun, Jiya, Sungmin dan Kyuhyun masih setia di kamar Eunyoung, menunggu yeoja itu sadar. Hampir satu jam Eunyoung tertidur, tidak ada tangis di ruangan itu, hanya wajah sembab yang terlihat.

“Aku tidak mengerti, mengapa anak nakal itu pergi secepat ini?” Sungmin tersenyum getir sambil menatap wajah Eunyoung yang masih terpejam.

Hyung…” Kyuhyun protes kecil.

“Inikah yang ia inginkan? Bahagiakah ia melihat isteri dan calon anaknya menderita seperti ini?”

Hyuuung!” bentak Kyuhyun. Sungmin menunduk, tersenyum getir lalu perlahan kembali menitikan air mata.

Meskipun Sungmin dan Donghae jarang sekali bertemu, namun dapat dikatakan mereka sangat dekat satu sama lain. Sungmin yang hangat, dan sebenarnya sangat perhatian dengan adik kecil satu-satunya itu. Ya, adik kecil, Sungmin selalu menganggap Donghae adik kecilnya yang sangat manja dan cengeng.

Dulu, ia bahkan selalu membuat Donghae menangis, tapi ia juga yang mampu membuat Donghae berhenti menangis jika sudah begitu. Namun Donghae kecilnya berubah 180 derajat sejak hidup sendiri di Korea, lebih mandiri, jarang mengeluh bahkan ia tidak pernah sekalipun mengeluh sedih ataupun sakit pada Sungmin atau orang tuanya.

Sungmin masih larut dalam tangis, duka kehilangan belum lepas dari dirinya. Dan satu yang ia sesali, ia tidak selalu punya banyak waktu luang saat Donghae memintanya datang. Padahal satu-satunya keluarga dekat Donghae di Korea hanya dirinya.

Oppa, Donghae oppa akan sedih jika melihatmu seperti ini,” ucap Younghyun.

“Hyunnie benar, Honey. Adikmu itu sangat ceria, ia selalu ingin membuat orang di dekatnya tersenyum bahkan tertawa lepas dengan kepolosannya jika berbicara. Walau aku baru bertemu dengannya beberapa kali, ia namja yang manis, dan tidak ingin melihat orang di dekatnya bersedih,” Jiya menambahkan.

Sungmin memijat pelipisnya, sungguh berat ia rasakan saat mengingat semua moment singkatnya dengan Donghae, Jiya dan Eunyoung. Jiya tahu namja-nya sedang butuh dukungan. Yeoja keturunan Jepang itu lantas memeluk hangat punggung Sungmin, berharap ia bisa mengurangi kesedihan tunangannya itu.

“Kalimat terakhir, ucapan selamat tinggal, bahkan ia tidak berpesan apa-apa padaku, Appa dan Omma. Sungguh Lee Donghae, mengapa semua begitu mendadak?”

Honey, tidak ada yang pernah tahu takdir Tuhan, kita, Eunyoung bahkan Donghae. Kita semua harus tenang, memikirkan kesehatan Eunyoung dan bayinya, membantunya pulih karena mungkin hanya itu yang bisa membuat Donghae tenang di sana,” ucapan Jiya mengalihkan kesedihan Sungmin. Ditambah lagi, melihat Eunyoung yang terbaring lemah dan belum sadarkan diri sampai sekarang, membuat Sungmin membenarkan perkataan tunangannya itu dalam hati.

Kyuhyun dan Younghyun hanya bisa terdiam. Sungmin benar, semua ini terlalu mendadak, dan benar bahwa Donghae tidak berpesan apapun pada mereka. Mungkin satu-satunya orang yang ia berikan pesan hanya Eunyoung kemarin.

Saat ini mungkin Jiya yang bisa menetralkan kesedihan sementara. Kyuhyun dan Younghyun, yang notabene adalah orang terdekat Donghae sebelum kepergiannya, masih shock akan semua yang terjadi.

“Kalian bertiga, istirahatlah. Aku sudah membuat teh panas tadi di dapur. Biar aku yang menjaga Eunyoung di sini,” usul Jiya.

“Aku temani, Onnie,” sanggah Younghyun cepat. “Aku ingin ia cepat sadar, kembali menjadi Eunyoung yang Donghae oppa inginkan. Tersenyum lepas, pasti Donghae oppa senang melihatnya dari sana,”

Tes…tes…

Lagi. Tetes air mata mengalir indah dari sudut mata cantik Younghyun. Entah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan hari itu. Wajahnya yang sembab cukup memberitahu bahwa yeoja itu selalu bersahabat dengan air mata bahkan sejak kemarin.

“Aahh, aigoo,” Younghyun segera menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Ia hanya tidak ingin terlihat sedih saat Eunyoung sadar nanti. Ia pikir dengan cara itu, Eunyoung bisa menerima semuanya dan bisa membantu memulihkan psikis-nya.

“Hyunnie, kau justru lebih butuh istirahat. Akan lebih baik kau temani Jongjin tidur. Aku akan menemani Jiya di sini,” ucap Sungmin.

Younghyun menggeleng, ia genggam tangan Eunyoung lalu mengusapnya lembut. “Young-ah, kapan kau bangun? Donghae oppa hanya ingin lihat senyumanmu, kau ingat ia selalu mengatakannya kan?” terlihat jelas air mata kembali menggenang di pelupuk mata Younghyun. Ia hembuskan nafas pelan, mengatur emosi sambil sesekali merapikan rambut Eunyoung yang menutupi dahi.

Jagi, Sungmin hyung benar, istirahatkan dirimu sejenak. Kau juga belum makan sejak pagi. Bagaimana bisa Eunyoung melihatmu seperti ini saat sadar nanti, hm?” Kyuhyun mendekat, membujuk Younghyun untuk beristirahat.

Younghyun diam sejenak, lalu tidak lama dengan sedikit berat hati, ia beranjak dari samping Eunyoung. Kyuhyun merangkulnya hangat, membimbing isterinya keluar kamar. Jiya pun mengekor mereka menuju dapur mengambikan teh hangat dan makanan untuk Sungmin.

——–^ Destiny… ^——–

Sudah hampir dua jam, Eunyoung masih terlelap dalam ketidaksadarannya. Younghyun terlihat terlelap tidur di atas pangkuan Kyuhyun yang juga memejamkan mata. Sepasang suami isteri itu sejenak melepas lelah di ruang tengah, setelah sebelumnya terus gelisah menanti Eunyoung sadar. Sungmin dan Jiya lagi-lagi membantu menetralkan semua, hingga akhirnya Younghyun dan Kyuhyun mampu mengurangi beban mereka sedikit dengan beristirahat.

“Kyu,” panggil Sungmin. Sedikit tidak tega ia menepuk bahu Kyuhyun agar terbangun.

Kyuhyun sedikit kaget, lalu sejenak menyesuaikan cahaya yang ditangkap indera penglihatannya. Ia usap wajahnya dengan telapak tangannya, sebelum akhirnya matanya terbuka sempurna.

“Eunyoung sudah sadar Hyung?” tanya Kyuhyun.

“Belum” Sungmin menggeleng lemah, namun tatapannya lekat pada Kyuhyun. “Mianhae, aku harus membangunkanmu, ada seseorang bernama Jaejoong dan ia ingin menyampaikan sesuatu,” jelas Sungmin.

Mwo? Jaejoong hyung? Menyampaikan se..suatu?” heran Kyuhyun. Setahu Kyuhyun, Jaejoong langsung kembali ke Amerika sepulangnya dari pemakaman karena Jaejoong tadi mengatakan bahwa ia menyesal tidak bisa mengantar Eunyoung sampai rumah.

“Iya, Kyu. Ada yang harus aku sampaikan,” Jaejoong muncul dari kamar Eunyoung dengan membawa sebuah amplop cokelat besar di tangannya.

Hyung, tadi kau…” Jaejoong diam, raut wajahnya nampak datar saat menghampiri sofa dan kemudian duduk berhadapan dengan Kyuhyun dan Younghyun. Sungmin pun ikut duduk di sampingnya.

Younghyun menggeliat kecil, sedikit terusik dengan percakapan para namja di dekatnya. Ia bangkit dari posisinya, memijat keningnya perlahan. Kepalanya sedikit pusing karena bangun tiba-tiba.

Oppa?” ekspresi terkejut yang sama diberikan Younghyun saat melihat Jaejoong.

“Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? Chakamman, kau dokter pengganti Donghae waktu itu kan? Ah, mianhae aku terlambat mengenalimu, aku kira kau kerabat Eunyoung tadi,” ucap Sungmin sungkan.

Gwenchana, Sungmin-ssi. Mianhae sepertinya aku juga sedikit terlambat sampai ke sini,” Jaejoong meletakan amplop cokelat itu di meja lalu menatap Kyuhyun, Younghyun dan Sungmin satu per satu.

Oppa, bukankah kau…” Younghyun yang sudah sadar sepenuhnya dari tidurnya masih menatap heran Jaejoong.

“Amerika? Ya, aku seharusnya langsung kembali ke sana setengah jam yang lalu. Tapi aku menemukan ini di kotak surat yang ada di apartemen Changmin tadi ketika aku ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal di sana…” Jaejoong masih memasang raut datar sambil menatap amplop cokelat di hadapannya.

Kyuhyun berinisiatif mengambil amplop cokelat itu lalu dengan segera mengeluarkan isinya. Kyuhyun sontak mengerutkan kening, “Surat?” tanya Kyuhyun. Dan yang lebih membuatnya bingung, surat di dalam amplop besar itu tidak hanya satu, tapi banyak surat di dalamnya dan tertulis nama penerimanya di sampul setiap surat itu.

“Donghae. Itu semua dari Donghae,” ucap Jaejoong. “Ada dua amplop, satu amplop kecil yang tertulis namaku dan amplop besar itu… Mianhae tadi aku sempat membukanya dan ada nama kalian dan keluarga jadi aku harus menyampaikannya,”

Kyuhyun menjajarkan beberapa surat di atas meja. Lima buah surat dengan amplop berwarna biru muda bertuliskan nama penerimanya, ‘Hyun Couple’, ‘Appa dan Omma’, ‘Sungmin Hyung’, ‘Appa dan Wookie’, ‘Keluarga Cho’ dan satu amplop khusus berwarna pink bertuliskan My Beautiful Pricess : Park Eunyoung^^’

Younghyun terperangah melihat semua surat itu. Tangisnya kembali pecah, seakan tidak percaya Donghae menulis semua surat-surat khusus untuk orang-orang terdekatnya. Sungmin segera membuka surat miliknya, begitu juga Kyuhyun dan Younghyun.

Hening. Ketiganya fokus mencermati kata demi kata yang ditulis Donghae dalam surat masing-masing. Jaejoong hanya bisa menunduk sedih, ia sudah membaca surat untuknya sebelum ia datang. Sedikit tidak menyangka kalau Donghae mempercayainya untuk menyampaikan ini semua. Dan satu yang ia sadari, Donghae sangat menyayangi orang-orang terdekatnya.

Younghyun sudah berlinang air mata, wajahnya sembab namun bibirnya terukir senyum kecil. Kyuhyun pun sempat menitikan air mata, dan tidak lama senyuman simpul menghiasi wajahnya.

“Aissh, jinja Lee Donghae. Anak nakal itu tidak pernah berubah,” Sungmin sesekali mengumpat, namun sudut matanya basah oleh tetes-tetes air mata yang mengalir tanpa ia minta.

Kyuhyun dan Younghyun yang pertama selesai membaca. Keduanya berangkulan, senyuman terukir jelas di wajah keduanya, namun kontras dengan tangis dan air mata yang masih membasahi wajah mereka. Tidak ubahnya dengan Sungmin, ia menunduk menahan tangis namun terlihat ia juga memasang senyuman getir sambil meremas surat yang ia terima.

“Anak itu…Ck…” bulir air mata yang tidak mampu ia tahan, meluncur dari sudut mata Sungmin.

Younghyun kini mengeratkan lengannya memeluk Kyuhyun dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Kyuhyun hanya bisa tersenyum getir, menertawakan ulah sahabatnya dengan semua surat itu.

“Lee Donghae kalian memang yang terbaik, aku mengaguminya sejak pertama bertemu,” Jaejoong angkat bicara. Namja itu masih setengah percaya Donghae memberikan amanat ini.

“Sungmin-ssi, kau beruntung menjadi hyung-nya. Donghae, dongsaeng yang memang bisa dibanggakan. Banyak hal yang ia capai, seorang yang ambisius dengan tanggung jawab yang tinggi. Dan aku iri dengan kehangatan yang tidak pernah habis untuk orang di sekelilingnya,”

Jaejoong menggenggam bahu Sungmin, menguatkan sekaligus menunjukan simpatinya. Sungmin mengangguk, semua perkataaan Jaejoong benar. Donghae adalah adik kebanggaannya. Siapapun pasti berpendapat bahwa Donghae seorang yang hangat, tidak ada satu orang pun yang mampu membencinya dalam waktu lama.

Kamsahamnida, Jaejoong-ssi,” ucap Sungmin. “Donghae sudah menganggapmu orang terdekatnya dengan mempercayakan ini semua. Akan kusampaikan surat ini pada Appa dan Omma,”

Jaejoong tersenyum, ya, itu jawabannya, Donghae sudah menganggapnya sebagai orang terdekatnya. Ia sungguh terharu, bisa mengenal Donghae dan orang-orang baik di sekelilingnya, termasuk seseorang yang ia yakini harus ia jaga yaitu Eunyoung.

——–^ Destiny… ^——–

Sudah dua hari, terhitung sejak usainya pemakaman Donghae, Eunyoung masih belum bangun dari tidurnya. Yeoja itu tampak begitu lelah berapa hari belakangan ini, hingga tak mampu membuka matanya. Jaejoong berkali-kali memeriksa keadaan Eunyoung yang begitu mengkhawatirkan, namun pagi ini ia bisa sedikit mengambil nafas lega. Keadaan Eunyoung mulai stabil walau nadinya masih berdetak lemah dan demamnya-pun sudah mulai turun. Semua berharap Eunyoung cepat membuka matanya, tersenyum dan kembali seperti Eunyoung yang mereka kenal.

“Lagu selesai, my princess. Ini lagu sangat mewakili perasaanku, untuk saat ini dan seterusnya,”

 

“Aku suka lagu itu. Gomawo oppa, suaramu sangat merdu…”

“Oppa, matahari mulai terbenam. Kau tak ingin melihatnya, hmm? Tadi kau sendiri yang ingin melihatnya.”

 

“Aku tahu, Jagi. Aku bisa merasakannya, aku hanya ingin merasakan hangatnya sinar matahari bersama yeoja yang aku cintai di kala terbenam bukan untuk melihatnya.”

“Kau pasti sedang memajukan bibirmu lagi kan? Kau ini, kau sungguh jelek tahu, tersenyumlah my princess,”

“Isshh, pasti saat ini kau sedang berfikir, kenapa aku tahu? Karena kau yeoja yang aku cintai. Oke, oke, aku tidak akan menggodamu lagi,”

 

“Oppa, kau jahat!”

 

“Tapi kau mencintaiku bukan, jagi? Dan kau masih ingat dengan janjimu padaku.”

 

“Janji apa, oppa?”

 

“Jangan pernah merasa sendiri, kau masih mempunyai appa, Kyuhyun dan Younghyun yang akan selalu berada di sisimu,”

 

“Oppa kau ini bicara apa sih?”

 

“Younghae omma harus selalu tersenyum, agar baby kelak menjadi anak yang riang. Apapun yang terjadi, kau harus tetap tersenyum, karena semua akan lebih mudah jika dilalui dengan senyuman. Jangan pernah sekalipun kau bersedih. Kesedihan dan tangisan hanya akan membuat semuanya menjadi semakin berat. Eunyoung selamanya milikku, milik Lee Donghae. Demi Younghae, kau masih percaya kalau aku selalu di sampingmu kan, jagi?”

 

Eunyoung tidak memberikan jawaban apapun, tapi anggukan kepalanya dan senyum manisnya menjawab semuanya. Donghae merekam senyum manis itu dalam pikirannya dan menyimpannya sedalam mungkin. Sebuah ucapan ‘Gomawo’ tanpa suara Donghae berikan untuk Eunyoung, dengan diiringi senyum terbaik yang ia punya. Eunyoung, yeoja yang telah mengisi hidupnya dengan kebahagiaan dan yeoja yang tak akan pernah tergantikan oleh yeoja manapun. Karena Lee Donghae telah ber-ikrar pada Tuhan, Eunyoung adalah yeoja satu-satunya yang ia cintai hingga akhir hayatnya.

 

“Tubuhmu dingin oppa, mianhae aku tidak membawa extra selimut atau jaket untuk menghangatkanmu. Bagaimana kalau aku peluk saja, kau pasti suka bukan??” Eunyoung merundukkan tubuhnya sedikit. Perut besarnya sedikit mengganggu, menghalangi dekapan yang ia ingin berikan pada Donghae.

“Sulit oppa, karena baby cemburu appa-nya mau di peluk omma-nya.. hehehe. Genggaman tangan saja yaa..Op…pa,” Eunyoung terdiam beberapa saat menatap tangan Donghae yang terlepas begitu saja dari tangannya. Tangan itu terkulai lemah di sisi bangku yang mereka duduki.

 

“Oppa…..secepat itu kah?? Hei Mr. Fishy! Buka matamu!” lirih Eunyoung menatap wajah damai Donghae yang terpejam.

 

Eunyoung terus menatap langit malam itu dengan ditemani oleh deburan ombak yang kian malam kian terdengar sangat jelas. Tangannya-pun masih tetap menggenggam erat tangan Donghae yang semakin terasa dingin di kulitnya. Sesekali Eunyoung mengusap-usap tangan itu agar kembali hangat, bahkan ia menguapinya dengan uap hangat yang sengaja ia keluarkan dari mulutnya. Pikirannya kembali melayang, seperti rekaman yang terus menerus terputar secara otomatis di benaknya.

 

“Apapun yang terjadi, kau harus tetap tersenyum, karena semua akan lebih mudah jika dilalui dengan senyuman.”

 

“Eunyoung selamanya milikku, milik Lee Donghae.”

 

“Demi Younghae, kau masih percaya kalau aku selalu di sampingmu kan, jagi?”

 

“Aku akan selalu di sampingmu, selamanya. Aku akan selalu di sampingmu, selamanya, selamanya.”

Oppa! Donghae oppa!” Eunyoung tiba-tiba membuka matanya, ia terduduk di atas ranjang dengan wajah pucat dan berpeluh.

Younghyun tersentak bangun dari tidur tak pulasnya. Segera ia dekati Eunyoung yang tiba-tiba berteriak memanggil nama suaminya itu. Jiya yang berada di sana-pun ikut mendekat pada Eunyoung. Kyuhyun, Sungmin dan Jaejoong yang berjaga di ruang tengah, tepat di depan kamar Eunyoung segera masuk dengan wajah panik terpancar di wajah mereka saat mendengar teriakan Eunyoung beberapa saat lalu.

“Donghae oppa, Donghae oppa,” Eunyoung menangis seraya memanggil nama Donghae.

Semua mata kini tertuju pada Eunyoung yang masih menangis sambil meracau tak jelas. Jaejoong maju hendak mendekati Eunyoung namun ditahan oleh Kyuhyun. Jaejoong mengerti maksud tatapan Kyuhyun padanya, perlahan ia mundur membiarkan Younghyun dan Jiya memeluk Eunyoung untuk menenangkan. Younghyun mulai menangis tatkala Eunyoung semakin histeris memanggil nama suaminya itu.

“Mengapa Donghae oppa pergi secepat ini? Mengapa semua ini terjadi padaku? Mengapa aku selalu dipisahkan oleh orang-orang yang aku sayangi? Apakah Tuhan tidak tidak sayang padaku, dan baby? Baby bahkan belum melihat appa-nya. Jawab aku Hyunnie? mengapa semua ini harus terjadi? Aku…aku mencintai Hae oppa! Sangat mencintainya, demi Tuhan aku mencintai-nya, apa ia tidak mencintaiku? Hyunnie, jawab aku! Kyuhyun oppa, Jae oppa, Sungmin oppa jawab aku! Kenapa semua hanya diam, aku..” Tak ada satupun jawaban yang Eunyoung terima. Semua terdiam, membiarkan Eunyoung meluapkan semua emosinya. Walau terlihat memilukan, tapi setidaknya akhirnya mereka bisa melihat Eunyoung merespon kepergian Donghae.

“Young-ah, Eunyoung-ah, masih ada kami di sini,” Younghyun mengeratkan pelukannya pada Eunyoung yang tergugu dalam tangis dan kesedihannya. Sungmin keluar dari kamar, tak sanggup melihat Eunyoung lebih lama lagi, dan tak lama Jiya menyusul-nya keluar. Kyuhyun duduk, me-replace tempat Jiya, menggenggam tangan Eunyoung.

“Semua terlalu cepat, mengapa tak ada yang bisa menjawab pertanyaanku!” lirih Eunyoung mulai tenang, walau isak tangisnya masih terdengar sangat jelas.

“Young-ah,” ucap Younghyun, yang langsung mendapat perhatian dari Eunyoung. Emosinya juga sudah mulai tenang. “Hae oppa sudah tenang di sana. Aku yakin Hae oppa tidak meninggalkanmu Young-ah, Hae oppa akan selalu ada di sisi-mu, senantiasa menjagamu dan juga baby. Hae oppa tidak akan pergi jauh dari sisimu, ia ada di sini.” Younghyun menyentuh dada Eunyoung. “Akan selalu ada di hatimu,” senyum getir terpancar di wajah Younghyun. Susah payah Younghyun menahan agar tidak menangis lagi di hadapan Eunyoung.

“Lebih baik aku menyusulnya pergi, menanyakan secara langsung apakah ia masih mencintaiku atau tidak,” lirih Eunyoung menatap tajam mata Younghyun. Tanpa sadar Younghyun kembali menitikkan air mata. Ia tahu beban yang kini tengah dipikul Eunyoung, beban psikisnya begitu berat. Kalau-pun ia berada di posisi Eunyoung saat ini, mungkin ia akan sama seperti Eunyoung.

“Young-ah,” perlahan Jaejoong mendekat, tangannya terulur mengusap air mata yang membasahi pipi Eunyoung. Hatinya ikut sakit melihat yeoja yang ia cintai seperti ini. “Dengarkan aku, kau sayang dan mencintai Donghae bukan?” Eunyoung mengangguk.

“Biarkan Donghae tenang di sana, kau ingin Donghae bahagia bukan di sana?” Eunyoung kembali mengangguk. Layaknya seorang oppa, Jaejoong kembali mengusap air mata Eunyoung. “Donghae juga sangat mencintaimu, dan ia ingin kau bahagia di sini. Donghae tidak akan meninggalkanmu, Young-ah, aku yakin! Seperti apa yang Hyunnie katakan, ia akan selalu berada di hatimu, di sisimu selamanya, dan di sisi baby,

“Masih ada baby, harta berharta milikmu bersama Donghae oppa yang perlu kau jaga, Young-ah,” Younghyun masih mencoba mengatur emosi dan nada suaranya. Kyuhyun memberi dukungan pada Younghyun, dengan mengusap puncak kepalanya. Eunyoung terdiam, semua ucapan orang-orang di sekitarnya, membuka pikirannya yang sempat buntu sesaat.

“Tersenyumlah, kau akan terlihat sangat cantik saat tersenyum. Apa kau mau, Donghae melihatmu dalam keadaan seperti ini?” ucap Jaejoong, kembali menyeka air mata Eunyoung.

Eunyoung menggeleng. Ia tatap Younghyun yang berada di sisi kirinya, kemudian Kyuhyun yang berada di sisi kananya, dan Jaejoong secara bergantian. Eunyoung hanya melihat senyuman dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Young-ah, ayolah,” ajak Kyuhyun. Tak lama senyum manis terukir di bibir pucat Eunyoung. Younghyun dan Kyuhyun memeluk Eunyoung dengan penuh suka cita. Jaejoong yang melihat itu hanya bisa mengulum senyum melihat persahabatan ketiganya yang terlihat kuat sekali.

——–^ Destiny… ^——–

Hampir seminggu berlalu, semenjak kepergian Donghae, Eunyoung lebih banyak berdiam diri di rumah. Dengan kehangatan orang-orang di sekelilingnya, perlahan Eunyoung mulai menerima semua, walau rasa kehilangan masih tetap ada dalam benaknya.

Sungmin dan Jiya dengan senang hati menemaninya tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan Donghae itu. Kyuhyun, Younghyun dan Jongjin juga sering menginap, demi membantu Eunyoung kembali seperti semula. Jaejoong pun akhirnya memutuskan menetap di Korea demi niatnya menjaga Eunyoung.

Hampir setiap hari Jaejoong datang, sekedar menemani yeoja itu berbincang, atau hanya untuk mendengarkan cerita Eunyoung tentang kenangan akan suaminya. Semua ingin Eunyoung kembali ceria, karena itu salah satu amanat Donghae pada semua orang terdekatnya.

Hari ini, kediaman Eunyoung tampak lengang. Jiya yang biasa menemaninya di rumah, pagi ini harus kembali ke Jepang untuk mengurus beberapa dokumen. Yeoja keturunan Jepang itu berencana menetap di Korea setelah menikah dengan Sungmin dalam waktu dekat ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, Eunyoung sedang asyik dengan kegiatan barunya dengan setumpuk album kenangan. Sambil menunggu Younghyun datang, Eunyoung membuka halaman demi halaman album-album foto milik Donghae. Kadang ia tertawa geli melihat beberapa pose lucu suaminya waktu kecil.

Bagi Eunyoung, kegiatannya itu seperti menyusuri perjalanan hidup seorang Lee Donghae. Dokter muda yang ramah, pendiam dan romantis padanya. Sedih? Pasti. Tapi Eunyoung meyakinkan dirinya untuk menahan semua kesedihan itu. Ia yakin pada janji yang selalu diucapkan Donghae, janji untuk selalu ada di sampingnya walau apapun yang terjadi.

Senyum rindu terpancar dari wajah Eunyoung saat mengamati satu per satu potret diri di hadapannya. Waktu dengan seorang Lee Donghae cukup singkat, namun begitu banyak kenangan manis yang Donghae berikan untuk Eunyoung. Termasuk calon bayi yang beberapa hari lagi mungkin akan hadir ke dunia.

“Younghae-ya, appa-mu sangat tampan bukan? Kau tahu? Appa satu-satunya dokter tertampan yang pernah omma kenal,” ucap Eunyoung sambil mengelus perutnya, seakan berbicara pada calon bayinya. Younghae, nama yang diberikan Donghae untuk anaknya kelak, sudah ia pakai untuk menyapa calon bayi yang masih di dalam perutnya.

“Hm, sepertinya appa sedang tertawa senang mendengar ucapan omma tadi. Ah, tapi omma yakin kau lebih tampan dari appa kan, sayang?” kali ini Eunyoung berbisik tertawa kecil, menggoda Donghae seakan suaminya itu ada di dekatnya.

Eunyoung melanjutkan kegiatannya, sesekali tertawa kecil melihat album foto di pangkuannya. Meskipun hampir setiap hari album foto itu berkali-kali ia lihat, tetap saja ada hal lain yang menarik perhatiannya. Tanpa bosan, Eunyoung bersemangat menyusuri rekam jejak kehidupan seorang Lee Donghae. Semua moment tergambar dalam setiap potret yang tertata rapi di hadapannya.

“Ah, iya, Younghae-ya, appa hebat sekali bermain sepak bola. Nanti kalau kau sudah besar, kau pasti menjadi pemain sepak bola yang hebat seperti appa” Senyuman indah tersungging di bibir manis Eunyoung, matanya pun menyipit melukis lengkung bahagia yang cantik menghiasi wajahnya

Eunyoung terdiam, satu moment indah tergambar jelas dan menyita pandangannya. Senyum bahagia dirinya dengan balutan gaun pengantin putih sambil mengamit lengan Donghae yang mengenakan tuxedo. Tanpa sadar Eunyoung meraba foto di hadapannya, matanya nampak berkaca-kaca, kerinduan mendalam kian menerpa batinnya.

Oppa, bogoshipo…” lirih Eunyoung.

Semakin lama pandangan Eunyoung semakin lekat, pelupuk matanya basah oleh air mata yang mulai menggenang. Batin Eunyoung berharap ia bisa mendengar jawaban atas ucapannya.

Nado Bogoshipo, Jagiya…” Eunyoung berucap lirih, sedikit kecewa ia menjawab sendiri ucapannya. “Kau ingin mengatakan itu kan, Oppa?”

Pertahanan Eunyoung hancur, air mata mulai mengalir membasahi wajah pucatnya. Eunyoung masih hanyut dalam emosi batin yang begitu menyesakan dada. Kerinduan mendalam pada Donghae begitu memenuhi dirinya.

Banyak yang mengatakan kontak batin seorang ibu dan anak sangat kuat, mungkin itu yang dirasakan Eunyoung. Sesekali ia mengelus perutnya yang terasa sedikit sakit karena pergerakan calon bayinya yang sedikit kasar. Ternyata apa yang dirasakan Eunyoung, dapat dirasakan juga oleh calon bayi dalam kandungannya.

Tangis Eunyoung makin menjadi, mengingat hanya Donghae yang selalu membuat bayinya tenang dengan belaian lembut tangannya.

“Younghae merindukan appa juga, hm?” lirih Eunyoung dengan sedikit meringis sambil mengelus lembut perutnya. Tidak lama, bayinya mulai tenang, namun air mata seakan belum habis untuk menggambarkan perasaan hatinya.

Saat Eunyoung masih mencoba menetralkan emosinya, tiba-tiba ia sedikit dikejutkan dengan suara bel rumahnya. Ia usap pipinya yang basah, lalu perlahan bangkit dari duduknya menuju pintu. Sedikitpun ia tidak ingin menunjukan keterpurukannya pada siapapun. Selama seminggu ini, Eunyoung lebih sering memendam semuanya agar tidak membuat cemas semua orang di dekatnya.

“Iya, tunggu sebentar!” seru Eunyoung.

Ia mempercepat langkah, namun tidak mengurangi kehati-hatiannya pada kandungannya yang kian aktif menjelang persalinan. Hari masih terlampau pagi untuk Jongjin pulang sekolah dan Sungmin pulang bekerja, jadi kemungkinan besar bukan Younghyun, Jongjin ataupun Sungmin yang datang.

“Oh, Changmin Oppa!” Eunyoung sedikit terkejut melihat namja berperawakan tinggi dengan kardus besar di tangannya, tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi.

Annyeonghaseyo, ada kiriman paket, Nyonya!” ujar Changmin dengan penuh canda. Changmin tahu kalau Eunyoung selalu terlihat canggung dengannya, jadi ia lebih sering mulai mencairkan suasana jika bertemu dengan Eunyoung.

Eunyoung agak sedikit heran melihat Changmin yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Meskipun ia mengenal arsitek muda itu sudah cukup lama, tapi tetap ada kecanggungan jika bertemu dengan Changmin. Ditambah lagi, Changmin hanya beberapa kali datang ke rumah, itu pun bersama Jaejoong atau Younghyun.

Annyeonghaseyo,” Eunyoung membalas sapa dengan senyum ramah. “omo! Kardus apa itu Oppa?” tanya Eunyoung penasaran melihat kardus besar yang Changmin bawa.

“Jaejoong hyung memintaku untuk mengantarnya ke sini. Untukmu katanya,” jelas Changmin. “Mmm…boleh aku masuk? Kardus ini cukup berat ternyata,” tanya Changmin sambil sesekali membenarkan letak kardus di tangannya.

“Oh, Mianhae, silahkan masuk, Oppa,” ramah Eunyoung.

Kamsahamnida…” Changmin pun segera masuk dan mengekor Eunyoung menuju ruang tengah.

Changmin sedikit bernafas lega sesaat ia meletakan kardus besar yang menurutnya cukup berat di atas meja. Namja tinggi itu lantas mengistirahatkan dirinya di salah satu sofa setelah dipersilahkan oleh Eunyoung.

“Kau sendiri di rumah, Young-ah?” tanya Changmin yang baru menyadari bahwa tidak ada Jiya yang biasa menemani Eunyoung.

Ne. Mm…Jiya onnie kembali ke Jepang tadi pagi, mengurus beberapa dokumen, mungkin lusa baru kembali. Sungmin Oppa bekerja. Tapi, Kyu oppa, Hyunnie dan Jongjin akan menginap beberapa hari di sini, nanti setelah Jongjin pulang sekolah, Hyunnie akan langsung ke sini katanya,” jelas Eunyoung.

Changmin hanya mengangguk mengerti, padangannya kini tertuju pada setumpuk album foto di dekat kardus yang ia bawa tadi. Salah satu album dengan halaman terbuka menarik perhatiannya. Halaman di mana tampak wajah cerah sepasang namja dan yeoja yang berbahagia di depan sebuah gereja. Changmin lantas mengambil album itu, mengamatinya dengan seksama halaman demi halaman.

Sedangkan Eunyoung yang penasaran, langsung membuka kardus besar di hadapannya. Ekspresinya nampak terkejut setelah ia melihat begitu banyak barang di dalamnya. Sebuah bingkisan manis dengan boneka teddy bear menghiasi keranjang yang berisi pakaian bayi serba biru. Bersama dengan bingkisan itu juga terdapat beberapa keperluan bayi, mulai dari pakaian, sepatu, mainan, hingga keramik hiasan berbentuk sepatu mungil yang siap menghiasi kamar bayinya kelak.

Aigoo, Kyeopta! Jaejoong Oppa memberi semua ini terlalu dini dan terlalu banyak,” Eunyoung mengeluarkan satu per satu barang di dalam kardus. Matanya berbinar riang menatap sepatu-sepatu mungil dengan berbagai motif. Tidak sabar melihat namja kecilnya belajar berjalan dengan memakai sepatu-sepatu itu.

 


“Oh? Bunga?” Ternyata keterkejutan Eunyoung belum berakhir. Seikat bunga mawar pink dengan sebuah amplop putih terselip di antaranya sedikit menarik perhatiannya.

Changmin tersenyum kecut melirik bunga yang kini ada dalam pangkuan Eunyoung. Namun ekspresinya sedikit berubah, saat Eunyoung terlihat sedikit melupakan bunga itu. Yeoja itu kembali melihat ke dalam kardus dan nampak berbinar menemukan beberapa baby stuff bertemakan Nemo.

“Lee Donghae…” Eunyoung menggumam, seraya mengelus lembut beberapa pakaian dan perlengkapan bergambar Nemo di pangkuannya. Rautnya yang riang berubah drastis menjadi sendu penuh kerinduan.

Changmin yang masih melihat-lihat beberapa foto di album, sesekali melirik Eunyoung. Ia menangkap ekspresi Eunyoung yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa bertanya pun ia tahu, yeoja itu merindukan suaminya yang juga pecinta Nemo itu.

“Lee Donghae. Namja seperti apa suami itu, Young-ah?” tanya Changmin tiba-tiba.

Ne?” Eunyoung berbalik tanya, sedikit heran mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari Changmin.

“Bagimu, Lee Donghae seperti apa? Kau sangat mencintainya kan?” Sekali lagi Changmin bertanya, kali ini ada nada keingintahuan dalam ucapannya, walau pandangannya masih tersita halaman demi halaman potret kebahagian Donghae dan Eunyoung.

Eunyoung terdiam sejenak, emosi itu datang kembali. Calon bayinya bahkan merespon dengan bergerak halus dalam perutnya. “Aku sangat mencintainya,” lirih Eunyoung. Terdengar ada emosi yang tertahan dalam setiap nada ucapannya.

Eunyoung menghela nafas sejenak sebelum meneruskan jawabannya. Ia dapat merasakan matanya mulai kembali memanas dan kelenjar air matanya sudah bersiap kembali bekerja.

“Donghae Oppa seperti appa, omma, oppa, suami bahkan teman untukku. Hidupku adalah dirinya, ia melengkapi aku. Entah akan seperti apa aku sekarang kalau tidak ada dirinya,”

Changmin menyudahi kegiatannya, ia tutup album di tangannya lalu menatap Eunyoung dengan tatapan sedikit sedih.

“Sekarang, hidupmu hanya milikmu, Young-ah. Cobalah berhenti menangisi kepergiannya, banyak orang yang berada di sampingmu. Bahkan ada satu orang yang selalu menyesal, mengapa ia tidak bertemu denganmu lebih awal. Ia namja yang terlihat kuat tapi rapuh dengan traumatik cinta dalam hidupnya,”

Eunyoung mencermati dengan seksama ucapan panjang seorang Changmin. Ia sedikit terkejut saat mendengar ada satu orang, dan itu namja. Apa maksud Changmin?

Namja ini selalu berlindung di balik kalimat ‘mencintai dengan caranya sendiri’ karena ia tahu cintanya itu terlihat bodoh. Entah apa yang ada dalam pikirannya, menyukai yeoja yang sudah menjadi isteri orang lain. Suatu hal bodoh dirinya sampai memutuskan bertahan mencintaimu, hanya karena kau mengingatkannya pada cintanya yang hilang 3 tahun lalu,”

Eunyoung semakin bingung, Changmin terus saja berkata tetang namja yang mencintai dirinya. Sungguh semua ini diluar jangkauan pikirannya.

“…” Eunyoung menatap diam penuh tanya pada Changmin.

“Tiga tahun lalu, hatinya hancur karena keadaan. Cintanya terpaksa pergi karena keegoisan. Namun sejak ia melihatmu, ia seperti melihat cintanya yang sudah pergi untuk selamanya. Hingga ia bertekad akan mencintaimu sampai kapan pun, dengan caranya,”

Bertubi-tubi Eunyoung dibuat bingung dengan semua ucapan panjang Changmin. Sedikit shock dengan kenyataan ada seorang namja yang …

“Jaejoong hyung. Ia mencintaimu….”

Eunyoung membelalakan matanya, tersentak dengan sebuah nama yang terucap dari mulut Changmin. Salah satu tangannya refleks menutup mulutnya, terkejut. Dan entah mengapa dadanya kian sesak, entah emosi apa yang timbul. Semua tentang Jaejoong berputar di kepalanya. Jaejoong yang sangat baik, hangat dan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak yang melindunginya. Perkenalan yang singkat, tapi Jaejoong sudah mampu menjadi orang terdekat baginya.

“Aku… Aku…” Eunyoung akhirnya buka suara, walau ia bingung harus merespon apa terhadap semua yang dikatakan Changmin.

“Ah, aku lupa belum menyediakanmu minum. Chakamman oppa,” ucap Eunyoung mengalihkan. Eunyoung bangkit dari duduknya, dan tanpa sedikit pun menatap Changmin lagi, ia berjalan ke arah dapur.

Semua begitu membingungkan, dan terpaksa membuat otaknya terus bekerja. ‘Apa maksudnya ini? Mengapa seperti ini?’ Batin Eunyoung ingin teriak dan bertanya pada siapa saja yang mampu membuatnya berhenti berpikir.

Oppa…” lirih Eunyoung saat sampai di dapur. Tenaganya seakan hilang. Ia bertahan di posisinya yang sedikit limbung hingga tidak mampu berdiri jika tidak bertumpu pada meja makan.

Eunyoung kembali menangis, hanya itu yang bisa Eunyoung lakukan untuk meluapkan perasaannya. Kini satu orang yang ia butuhkan, satu orang yang terus ia panggil dalam hatinya.

“Donghae Oppa…” panggil Eunyoung sambil meringis. Pergerakan calon bayinya sangat kasar kali ini. Wajah Eunyoung memucat, tubuhnya membungkuk, mengejan menahan sakit.

Eunyoung yang hampir terjatuh, masih kokoh berpegangan pada meja makan. Tanpa ia sadari darah segar mengalir dari sela kakinya.

“Arrgghh…!” teriak Eunyoung.

Peluh membanjiri wajahnya, bibirnya kian memutih dan pandangannya kian buram. Sayup-sayup ia dengar derap langkah mendekatinya.

“Young-ah! Apa yang terjadi? Ya Tuhan! Darah!” Changmin langsung menangkap tubuh Eunyoung yang hendak terjatuh. Ia tepuk pipi Eunyoung berharap yeoja itu membuka matanya kemabali. Darah segar terus mengalir di kaki yeoja yang sudah terkulai lemah. Tanpa pikir panjang, Changmin segera mengangkat Eunyoung menuju mobil.

Immo, aku dataaang!” Lengkingan suara Jongjin terdengar riang menuju pintu masuk rumah. Dan tepat saat Younghyun membuka pintu, ia dikejutkan dengan pemandangan Changmin yang tergesa-gesa berlari kecil dari arah dapur.

Omo! Young-ah! Oppa! Apa yang terjadi? Eunyoung-ah!” Histeris Younghyun saat melihat kaki Eunyoung dan kemeja Changmin yang belumuran darah. Changmin yang panik, mengacuhkan pertanyaan Younghyun. Ia menerobos Younghyun dan Jongjin yang masih di depan pintu, lantas ibu dan anak itu pun mengekor Changmin dengan langkah panik.

Oppa, apa yang terjadi? Mengapa Eunyoung…”

“Nanti aku jelaskan! Kita tidak punya banyak waktu!” ucap Changmin dengan nafas tersengal.

Nada bicara Changmin sedikit keras, hingga membuat Jongjin yang bingung dan panik, menangis. Changmin menghiraukan tangisan Jongjin yang kian menguat. Dengan hati-hati, ia baringkan Eunyoung di kursi belakang. Lalu segera mengambil posisi di depan kemudi. Younghyun dan Jongjin pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Mereka hanya berharap bisa sampai ke rumah sakit tepat pada waktunya.

——–^ Destiny… ^——–

Suasana ruang UGD begitu mencekam, terutama bagi Kyuhyun dan Younghyun. Sepasang suami isteri itu sangat cemas dan panik melihat Eunyoung yang tidak sadarkan diri sedang ditangani oleh perawat. Sejak tadi, Younghyun hanya bisa menangis dalam pelukan Kyuhyun, memorinya berputar kembali saat ia harus kehilangan bayinya beberapa bulan lalu.

Semula reaksi Younghyun masih bisa terkontrol. Namun saat ini, yeoja itu bahkan hampir terjatuh kalau tidak Kyuhyun memeluknya erat. Melihat kondisi Younghyun yang demikian, Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk membawanya keluar ruang UGD. Ia tahu apa yang dirasakan isterinya itu jika terus berada di sana.

Jagiya,” panggil Kyuhyun.

Keduanya sudah duduk di bangku tunggu di depan ruang UGD. Younghyun tidak merespon, ia hanya mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun, bersembunyi di dada suaminya itu. Kyuhyun mengelus lembut punggung lalu mengecup pucuk kepala Younghyun, berharap isterinya lebih tenang.

Jagiya, uljimma…” ucap Kyuhyun.

Oppa, apa yang akan terjadi pada baby?” lirih Younghyun. Isak tangis masih terdengar lirih dari bibir Younghyun.

“Baik-baik saja, Ya, semua akan baik-baik saja…” Kyuhyun sekali lagi mengecup pucuk kepala Younghyun. Ia hanya berharap ucapannya adalah sebuah doa, meski ada sedikit keraguan dari nada bicaranya.

Derap langkah tergesa-gesa sedikit mengalihkan kesedihan Younghyun dan Kyuhyun. Sungmin, dengan kemeja putih digulung hingga lengan dan dasinya yang sudah berantakan, berjalan panik menghampiri sepasang suami isteri itu.

“Kyu, di mana Eunyoung? DI MANA!!!” Sungmin berteriak frustasi, tidak sengaja mencengkram kuat bahu Kyuhyun.

Hyung, tenang! Eunyoung sedang ditangani dokter,” ucap Kyuhyun. Ia bangkit dari duduknya, sedikit mengguncangkan bahu Sungmin untuk menenangkannya.

Dari ketiganya, Kyuhyun berusaha menjadi orang yang paling waras saat itu. Ia yakin dan percaya, dokter Kim akan melakukan hal yang terbaik, setidaknya itu yang ia tahu jika ia memposisikan dirinya sebagai dokter. Ya, hanya itu yang membuatnya berpikiran logis. Meskipun sangat sulit, karena bagaimana pun ia tetap mengkhawatirkan Eunyoung yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Sungmin mencoba berusaha tenang dengan menanti penjelasan dari dokter tentang adik iparnya. Namja yang biasanya selalu terlihat rapi itu sekarang berubah drastis dengan penampilan yang jauh dari kata rapi dan trendy. Sungmin hanya bisa meluapkan emosinya dengan tangis tertahan. Seandainya saja ada Jiya di sampingnya saat ini, mungkin kekalutannya bisa diminimalisir.

“Kyu, Hyunnie, Sungmin-ssi,” suara berat seorang namja memanggil ketiganya. “Bagaimana keadaannya?”

Changmin yang baru saja kembali dari toilet berjalan lesu. Baginya hari itu sungguh di luar kendalinya. Sempat terbersit kalau apa yang terjadi pada Eunyoung itu karena dirinya. Atas alasan itu pula, Changmin enggan meninggalkan rumah sakit, demi berharap Eunyoung dan bayinya tidak apa-apa.

“Belum ada penjelasan dokter. Changmin-ah, gomawo, entah apa yang terjadi kalau kau tidak ada,” ucap Kyuhyun.

Changmin hanya bisa terdiam, ada yang salah atas perkataan Kyuhyun padanya. Pantaskah ia menerima ucapan itu? Changmin mengangguk lesu, ia hempaskan tubuhnya ikut duduk bersama Sungmin.

Oppa, Jongjin di mana?” Tanya Younghyun yang perlahan sudah mulai tenang.

“Di ruanganku, bersama Wookie. Asma-nya sudah ditangani, ia sedang tidur sekarang,” Younghyun sedikit bernafas lega mendengar ucapan Kyuhyun.

Tadi diperjalanan mengantar Eunyoung, Jongjin terserang asma karena tidak hentinya menangis. Namja kecil Kyuhyun dan Younghyun itu lagi-lagi harus merasakan suasana panik dan sedih. Kadang kalau dipikir, kepahitan selalu bergelayut dalam kehidupan Younghyun dan Kyuhyun. Younghyun kadang merasa menyesal tidak mampu memberikan kebahagiaan bagi Jongjin, atau setidaknya menghilangkan tekanan batin pada namja ciliknya itu.

Semua menunggu, semua cemas, bahkan Lee Teuk, sang appa, lebih memilih berdiam diri di sebuah kapel kecil yang masih terdapat di lingkungan rumah sakit. Lee Teuk hanya bisa berdoa, ia berharap banyak pada Tuhan agar puteri dan cucunya bisa selamat.

——–^ Destiny… ^——–

Hampir setengah jam berlalu, di depan ruang UGD masih penuh dengan wajah-wajah cemas menanti penjelasan dokter tentang kondisi Eunyoung. Doa tidak henti-hentinya dipanjatkan oleh mereka. Lee Teuk bahkan sudah bergabung bersama yang lainnya, ia cukup yakin Tuhan bisa menjawab semua doanya.

Kyuhyun dan Younghyun duduk di bangku dekat pintu masuk. Mata Younghyun masih berair, entah sampai kapan ia berhenti mengeluarakan air mata. Pikiran yeoja itu sungguh penuh akan kekhawatiran dan memori pahitnya beberapa bulan lalu. Kyuhyun di dekatnya hanya bisa memberikan pelukan hangat untuk menenangkan isterinya itu.

Sungmin tidak kalah kalut, sedari tadi ia meminta dukungan dari Jiya melalui telfon, bahkan ia pun sempat menitikan air mata. Ia teringat akan pesan Donghae untuk menjaga Eunyoung dan anak Donghae kelak. Hal yang sama pun terlihat dari Changmin yang enggan beranjak dari bangkunya. Namja tinggi itu menunduk lesu sambil memainkan telepon gengamnya. Sejak tadi ia nampak ragu untuk menghubungi Jaejoong. Ada rasa bersalah menggelayut dalam hatinya pada Eunyoung dan sudah dipastikan hyung-nya akan bereaksi atas kesalahannya itu.

Tidak lama, dokter Kim keluar dengan wajah yang sedikit kurang meyakinkan. Kyuhyun dan Sungmin sontak menghampirinya.

“Bagaimana Dok?” seru Kyuhyun dan Sungmin hampir bersamaan.

“Eunyoung-ssi mengalami pendarahan hebat. Plasenta luruh sebelum waktunya, dan kemungkinan ada beban psikis yang membuat tekanan darahnya cukup tinggi,” Dokter Kim menjelaskan.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Sungmin tidak sabar.

“Pendarahan sudah dapat kami minimalisir, dan persalinan harus segera dilakukan. Namun Eunyoung-ssi kehilangan banyak darah, kami masih membutuhkan donor golongan A negative. Stok darah di rumah sakit maupun di pusat golongan darah, golongan A negative sangat langka, jadi saya minta bantuan kalian untuk membantu mencari donor golongan A negative untuk Eunyoung-ssi.” jelas dokter Kim lagi.

A negative?” tanya Sungmin. Dokter Kim mengangguk, semua yang ada pun bangkit dari duduknya, tidak terkecuali Lee Teuk dan Changmin.

“Saya A negative, ambil sebanyak yang Eunyoung butuhkan, dan lakukan persalinan secepatnya,” seru Kyuhyun.

“Syukurlah, tapi satu donor belum cukup. Saya harap kalian bisa mencari donor lain. Dan ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan,” Dokter Kim tersenyum hangat, namun ia kembali menjeda ucapannya dan menghela nafas sebelum meneruskan.

“Memang ini pilihan sulit, sangat sulit. Dalam kondisi Eunyoung-ssi saat ini, persalinan akan berjalan dengan penuh resiko, kesempatan hidup ibu dan anak hanya 50 : 50. Dan sebelum persalinan, sebaiknya kita memutuskan untuk memprioritaskan ibu atau anaknya yang diselamatkan,”

Mwo? Apa maksudmu?” Sungmin bereaksi lebih cepat, tanpa sadar ia mencengkram kerah jas putih milik dokter Kim. Kyuhyun di sampingnya tidak kalah terkejut mendengar perkataan dokter Kim. Namun ia justru lebih mengontrol emosinya dan berusaha menahan Sungmin untuk tidak berbuat lebih pada dokter Kim.

Younghyun hampir saja terjatuh kalau tidak Changmin yang berada di dekatnya, tidak menopangnya. Penjelasan dokter Kim membuatnya shock, seketika air mata meluncur manis dari sudut matanya. Tidak peduli Kyuhyun ada di situ, Changmin langsung memeluk Younghyun hangat untuk membuat yeoja itu tenang.

“Maaf aku memang harus menyampaikan hal ini. Saya hanya menjalankan profesi dokter, keluarga pasien harus ikut andil dalam hal ini, jadi saya mohon…”

“Arrrggghh!!! Selamatkan keduanya, tidak salah satu TAPI DUA-DUANYA!!!” Sungmin lagi-lagi loose control dan mengeratkan cengkramannya di kerah jas. Ia berteriak cukup keras di depan wajah dokter Kim. Susah payah Kyuhyun menarik Sungmin menjauh dari dokter Kim dengan bantuan Leeteuk.

HYUNG! Bisakah kau mengontrol dirimu sejenak? Kita perlu berpikir jernih untuk ini,” ucap Kyuhyun tegas. Ia guncangkan bahu Sungmin yang merunduk frustasi. Kyuhyun tahu benar dokter Kim menjalankan tugasnya, ia bahkan seperti mengulang pengalamannya sebagai dokter yang harus membuat keputusan sulit.

“Eunyoung dan bayinya harus selamat Kyu. Harus…” lirih Sungmin yang kembali terisak. Ia bingung akan semua keadaan ini.

“dokter Kim,” panggil seorang perawat yang tergesa-gesa keluar dari ruang UGD menghampiri dokter paruh baya itu.

“Eunyoung-ssi merespon,” satu kalimat terucap dari perawat muda itu dan cukup membuat semua mata orang yang berda di situ terbelalak.

Tanpa banyak bertanya lagi, dokter Kim langsung bergegas kembali masuk ke dalam ruang UGD. Kyuhyun, Sungmin, Leeteuk, Younghyun dan juga Changmin pun mengekor masuk.

“Shim Changmin!!!” Changmin yang mengekor masuk ke dalam ruang UGD paling akhir, menghentikan langkahnya setelah ia dengar suara berat memanggilnya dari kejauhan. Mata bulatnya terbuka lebar ketika ia lihat seorang namja berperawakan cukup atletis dengan raut wajah putihnya yang menampakan kecemasan yang diliputi kemarahan.

Kim Jaejoong tergesa-gesa menghampiri Changmin yang memutuskan tidak ikut masuk. Ia didampingi seorang yeoja cantik memakai jas dokter yang tidak lain adalah Kim Haesi. Yeoja itu sedikit kesusahan menyamakan langkahnya dengan Jaejoong.

“Kita perlu bicara!” Jaejoong berucap penuh penekanan tepat di depan wajah Changmin. Haesi yang berada di antara mereka hanya memasang wajah heran menatap dua orang itu.

——–^ Destiny… ^——–

Eunyoung membuka matanya perlahan, padangannya masih kosong dan wajahnya pun terlihat sangat pucat dari sebelumnya. Di lengan kirinya masih terpasang jarum yang terhubung dengan satu kantong darah yang sudah habis setengahnya. Dokter Kim segera memeriksa kondisi yeoja itu dan juga calon bayinya. Perawat dengan hati-hati mengganti masker oksigen dengan selang oksigen khusus yang lebih sederhana untuk membantu Eunyoung mendapat tambahan oksigen.

Kyuhyun, Younghyun, Sungmin dan Lee Teuk pun tanpa ragu mendekat, namun tidak mengganggu dokter Kim yang sedang memeriksa kondisi Eunyoung.

“Young-ah, apa yang kau rasakan? Sakit?” tanya Younghyun dengan penuh kekhawatiran. Ia genggam erat tangan Eunyoung yang bebas, dan sesekali ia menyeka air mata yang tanpa henti mengalir dari matanya.

“Emm…” jawab Eunyoung singkat. Raut wajah Eunyoung menegang saat ia rasakan sakit kembali di perutnya.

“Kita harus lakukan operasi sekarang,” dokter Kim berucap dengan menatap tegas pada Kyuhyun dan Sungmin. Dokter itu bermaksud memberi tanda agar mereka harus mengambil keputusan.

Lee Teuk tidak mampu mengeluarkan kata-kata, ia hanya bisa mendekat ke arah Eunyoung mencium kening puterinya itu dengan berlinang air mata. Reaksi Younghyun pun sama, genggamannya pada Eunyoung menguat, namun pandangan sendunya lekat menatap Kyuhyun dan Sungmin yang memasang wajah bingung.

“Aku… Aku… tidak bisa memutuskan Kyu,” lirih Sungmin. Wajah namja itu memucat, ia terpejam sambil memijat keningnya, merutuk dirinya sendiri dalam hati.

Kyuhyun sudah tahu pasti akan seperti ini. Sungmin terlalu gamang, ia rapuh untuk menentukan. Tinggalah Kyuhyun yang memikul tanggung jawab itu. Kyuhyun menarik nafas lalu ia hembuskan kembali, kedua tangannya mengepal di samping kanan dan kiri tubuhnya. Ditatapnya Lee Teuk yang masih menangis di sebelah ranjang Eunyoung, lalu Younghyun yang menatapnya penuh harapan, dan Eunyoung yang meringis sakit sambil sesekali terpejam.

“Ibunya… Selamatkan ibunya,” ucap Kyuhyun tegas menatap dokter Kim.

“Ada…apa ini? Apa maksud Kyuhyun oppa tadi Hyunnie?” tanya Eunyoung yang sempat mendengar bahkan melihat ekspresi Kyuhyun sekilas.

Younghyun diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Eunyoung. Yeoja itu hanya menjawab dengan tangis sambil mengelus perut Eunyoung lembut. Eunyoung yang semula bingung, perlahan mengerti dan kembali menguatkan genggamannya pada Younghyun seakan memohon.

“Selamatkan baby, selamatkan anakku!” seru Eunyoung. Tangis Eunyoung pecah, bukan karena sakit yang ia rasakan diperutnya tapi karena ia tahu apa maksud perkataan Kyuhyun tadi.

“Young-ah,,,” lirih Younghyun seakan membujuk.

Andwae!!! Anak ini harus lahir, biarkan aku yang mengalah. Hyunnie, Appa, aku mohon!” ucap Eunyoung di sela tangisnya.

Semuanya diam, bingung apa yang harus mereka lakukan dan katakan. Tangis Eunyoung makin terdengar pilu, Younghyun tahu apa yang dirasakan Eunyoung yang mendengar bahwa bayinya harus dikorbankan.

“Anak ini satu-satunya yang membuatku kuat selama ini. Anak ini juga yang meyakinkanku untuk bertahan menghadapi kepergian Donghae oppa. Sekarang, setelah semua yang ia lakukan padaku, haruskah aku mengorbankannya? Appa, aku mohon, biar aku yang mengalah, Hyunnie, aku akan berterima kasih kalau kau mau mengabulkan permintaanku ini,” ucap Eunyoung memohon.

Younghyun dan Lee Teuk masih terdiam dalam tangis. Mereka masih belum siap kehilangan Eunyoung. Tapi haruskah sekali lagi membiarkan makhluk tidak berdosa pergi?

Kyuhyun memberanikan diri mendekat, ia peluk Younghyun hangat sejenak lalu beralih memeluk Eunyoung yang masih menangis sedih.

Mianhae, mianhae, Young-ah. Kami tidak bisa membiarkanmu pergi…”

“Demi Donghae oppa, demi dia, Oppa. Aku mohon, biarkan aku yang mengalah. Donghae oppa menginginkan anaknya tumbuh sehat dan ceria. Jika aku tidak ada, anak ini memiliki kalian yang bisa menggantikan aku dan appa-nya,” Kyuhyun tak kuasa lagi menahan air matanya saat Eunyoung memohon dalam pelukannya.

Tangis Younghyun makin menjadi, ucapan Eunyoung bagai ucapan seorang yang sudah rela pergi selamanya. Yeoja itu tidak kuasa menahan semua, ia lantas memeluk appa-nya. Sungmin pun sama terpuruknya, ia sudah bersandar lemah di dinding. Sekali lagi ia menangisi pesan yang ditinggalkan Donghae, untuk menjaga Eunyoung dan bayinya.

Oppa, maaf, aku tahu kau berat memutuskan ini. Tapi aku hanya bisa memohon ini padamu, hanya kau yang bisa mengabulkan permintaanku, Oppa. Aku mohon, selamatkan dan jaga Younghae, anak ini akan sehangat Donghae oppa, dan akan selalu ada untuk kalian, seperti aku,”

“Cukup, Young-ah, kumohon cukup,” Kyuhyun menyela ucapan Eunyoung, ia eratkan pelukannya tanpa berniat menyakitinya.

“Aku mohon…” Lirih Eunyoung tepat di telinga Kyuhyun.

Tidak ada yang terganggu dengan sikap Eunyoung dan Kyuhyun, bahkan Younghyun. Ia tahu Eunyoung butuh itu, dan hanya Kyuhyun yang bisa melakukannya selain Donghae. Kyuhyun melepaskan pelukannya perlahan, lalu ia tatap mata Eunyoung. Cukup sulit baginya untuk memenuhi permintaan Eunyoung kali itu.

“Selamatkan bayinya, dokter Kim, lakukan yang terbaik,” ucap Kyuhyun yang lalu memalingkan wajahnya dari Eunyoung, Younghyun dan yang lainnya. Kyuhyun menjauh, ia hanya butuh meluapkan semuanya tapi tidak di hadapan yang lain.

Oppa, Andwae! Young-ah…” Younghyun dan Lee Teuk berhamburan memeluk Eunyoung. Tangis pilu Sungmin pun mulai terdengar keras.

Gomawo, Gomawo, aku mencintai kalian lebih dari apapun. Kalian keluargaku, semoga nanti Younghae bisa melengkapi kehadiranku di tengah-tengah kalian. Ia akan jadi anak yang manis, anak yang hangat dan ceria,” ucap Eunyoung.

Lee teuk, Younghyun dan Sungmin tidak sedikit pun beranjak dari samping Eunyoung. Sedangkan Kyuhyun lebih memilih keluar dari ruangan, setelah sebelumnya ia diberitahu dokter Kim mengenai donor darah yang harus segera dilakukan untuk Eunyoung. Kyuhyun hanya meyakinkan dirinya kalau keputusan yang ia ambil tepat. Biasanya, saat ia merasakan hal seperti ini, selalu ada Donghae yang menyemangatinya. Sekarang, entah… yang jelas, ia yakin Donghae pasti melihat semuanya dari sana.

“Changmin-ah, sudah kuperingatkan jangan ikut campur urusanku lagi. Kenapa kau bertindak jauh, hah?” suara nyaring Jaejoong dari luar ruangan mengusik kekalutan Kyuhyun.

Hyung! Aku hanya membantumu. Sekarang ia sudah sendiri, ia butuh dukungan, terlihat dari matanya. Dan kau masih bersembunyi dibalik kebaikanmu selama ini?” Changmin menyentak tidak kalah keras.

“Semua ini, semua ini karena kau mengatakannya kan? Ia masih rapuh. Kau membuatnya shock, Shim Changmin!”

Hyung, bodoh atau apa, hah? Kau seharusnya berterima kasih padaku. Aaa… atau hyung sudah menemukan cinta yang lain?” sindir Changmin melirik ke arah Haesi yang bingung berada di tengah pertengkaran mereka.

“Hey! Cukup!” seru Kyuhyun yang tiba-tiba menginterupsi. “Changmin-ah, apa maksudnya ini? Eunyoung shock karena apa? Jawab aku, KARENA APA?” Kyuhyun menatap tajam Changmin seakan bersiap untuk membunuh.

“Aku hanya menyadarkannya kalau ada satu orang yang mencintainya, dengan tulus menunggunya dan bersedia menjadi sandarannya setelah Donghae.” jawab Changmin. “Ya, semua karena aku, karena aku. Aku… Aku… tidak suka Jaejoong hyung membohongi perasaannya dengan berpura-pura berkencan denga yeoja menyedihkan ini,”

Plak…

Satu tamparan cukup keras diberikan oleh Haesi tepat di pipi kiri Changmin. Yeoja itu menggigit bibirnya, menahan kekesalan karena sejak ia datang, Changmin melihat tidak suka pada yeoja itu.

“Jaga mulut dan tatapanmu, Shim Changmin. Kalau aku bisa memilih takdir, aku ingin mengulang semua, dan aku tidak akan pernah mau dipertemukan denganmu,” Haesi, yeoja berparas cantik itu membuat ketiga namja di hadapannya terperangah. Terutama Kyuhyun dan Jaejoong yang menatap heran Haesi dan Changmin bergantian. ‘Ada apa lagi ini?’ pikir mereka.

“Jaejoong-ssi, Kyuhyun-ssi, maaf, aku harus kembali menemui pasienku,” Haesi membungkuk sopan, lalu ia bergegas pergi dengan langkah kesal meninggalkan Changmin yang masih terpaku memegang sebelah pipinya.

“Haesi-ya, tunggu! Apa maksudmu?” Changmin hanya terpaku sejenak, kemudian ia susul yeoja itu. Tidak ada yang tahu masalah mereka selain mereka sendiri.

Ya, ada kisah masa lampau di balik keduanya, dan itu pula yang membuat Changmin bertindak gegabah setelah melihat isi amplop putih yang terselip di buket bunga untuk Eunyoung, yang ternyata foto Jaejoong dan Haesi saat membeli hadiah untuk Eunyoung.

“Hey, Shim Changmin, kita belum selesai!” seru Kyuhyun yang ingin menyusul namun tangannya di tahan oleh Jaejoong.

“Biar aku yang jelaskan, Kyu” ujar Jaejoong.

Kyuhyun menepis tangan Jaejoong lalu duduk di bangku tunggu ruang UGD. Ia tatap tajam Jaejoong yang ikut duduk di sampingnya. Baginya bukan masalah jika Jaejoong adalah seniornya atau lebih tua darinya. Ia hanya tidak suka kenyataan bahwa karena Changmin dan Jaejoong keadaan Eunyoung menjadi seperti ini.

Mianhae,” satu kata awal yang terucap dari bibir Jaejoong tanpa berani menatap Kyuhyun. Namja itu menunduk penuh sesal atas kesalahan yang dilakukan Changmin.

“Mengapa kau harus hadir di kehidupan mereka? Mengapa kau harus memiliki perasaan pada Eunyoung? Dan mengapa Donghae memberikanmu kepercayaan pada saat terakhirnya? MENGAPA HYUNG?” Kyuhyun menaikan nada bicaranya agak tinggi. Emosinya masih belum stabil setelah mengambil keputusan dan sekarang ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada sangkut paut Changmin dan Jaejoong atas kondisi Eunyoung.

Mianhae, Kyu. Aku tidak pernah meminta Changmin melakukan ini semua, aku selalu menegaskan padamu, aku mencintainya dengan caraku. Entah kapan akan berbalas, aku hanya ingin ikut menjaganya, melindunginya, seperti yang Donghae pesankan pada kita semua,”

“Semua perkataanmu bisa kupercaya, jika sepupumu tidak membuat kesalahan bodoh tadi pagi, hyung!” sindir Kyuhyun.

“Eunyoung sudah memutuskan, ia mengalah demi bayinya”

Jaejoong terkejut, ia bangkit dari duduknya. “Tidak akan kubiarkan!”

Hyung! Ia sudah memutuskan!”

“Aku yakin tidak ada yang harus dikorbankan. Percaya padaku, ijinkan aku mendampinginya,” Kyuhyun sedikit tersentak dengan ucapan Jaejoong. Menurutnya Jaejoong sudah bertindak jauh, dan perlu ditegaskan Jaejoong bukan siapa-siapa.

“Aku bicara ini sebagai dokter, dan aku yakin Eunyoung selamat” Jaejoong menatap Kyuhyun dengan yakin. Kali ini, walau ada sedikit hatinya yang ikut andil tapi ia lebih percaya naluri dokternya yang ingin pasiennya selamat. “Ijinkan aku, Kyu. Aku menerima apapun syaratmu, asal kau mengijinkanku mendampingi Eunyoung,”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia mulai menimang ucapan Jaejoong padanya. Ingin rasanya ia menolak Jaejoong untuk masuk terlalu dalam. Namun hati kecilnya berkata lain, ada rasa percaya, Eunyoung dan baby-nya selamat apabila Jaejoong ikut andil di dalamnya. Kyuhyun menarik nafasnya dalam sebelum ia berucap pada Jaejoong.

“Kau boleh masuk, hyung. Tapi kau harus bisa menyelamatkan Eunyoung, aku berjanji pada Donghae agar senantiasa menjaga Isteri dan anaknya. Kalau kau gagal hyung, mianhae tak akan ada lagi toleransi untuk kau mendekati Eunyoung, tidak akan pernah hyung. Dan aku yakin Hyunnie juga akan membenci-mu,”

Jaejoong menelan ludahnya setelah mendengarkan ucapan Kyuhyun. Baginya baru kali ini, seorang dokter Cho berbicara dengan suara dingin dan tatapan maut seperti itu padanya. Reflex Jaejoong menganggukan kepalanya dan menatap tajam Kyuhyun.

“Aku janji, Kyu. Aku akan pergi jauh dari kalian, bahkan jika perlu aku akan meninggalkan Korea untuk selamanya. Ijinkan aku masuk dan aku berusaha semaksimal mungkin,”

“Aku pegang janjimu, hyung!

 

To Be Continue…

Oke Done! gimana, gimana, masih ada yang menantikan Chap berikutnya kah?? *pede* Ayoo di komen panjang kali lebar yaa kkkk~ Mianhae kita publish terlalu lama, tapi kita ga lupa buat publish kok tenang aja😀 Sampai ketemu di chap selanjutnya, Peluk kecup penuh cinta[?] dari duo A-Cha a.k.a Isteri-nya KyuHae *dibantai* :*

129 Comments (+add yours?)

  1. NurAmalia
    Jun 12, 2013 @ 08:34:00

    sukses bikin nangis chapter ini T.T
    mewek abis eon;”(

    Reply

  2. HalcaliGaemKyu
    Aug 13, 2013 @ 08:48:07

    Andwaeeeeeee… Hiks ToT
    berapa kali aku nangis? *ratuuusan* #plaak
    setelah dikejutkan dgn kematian hae dan sekarang… Please jgn buat eunyoung pergiiiiiii *huee* ini bener2 kejam ToT
    ff nya daebak! Feelnya dpt bgt! Dan jd geregetan sm changmin *jambak changmin* #angryface
    huft… Semoga semua lancar

    Reply

  3. ddhaeru
    Sep 10, 2013 @ 15:31:31

    Aaaaaa terharu bacanya min:”””) pokoknya topbgt lahh. Part 19 nya harus di post segera!!

    Reply

  4. ginachoi407
    Oct 27, 2013 @ 10:20:20

    sumpah baca part ini bikin aku nangis sampe mata aku bengkak… T.T

    Reply

  5. enkoi
    Nov 29, 2013 @ 11:34:55

    ya ampun part ini ngaduk2 emosi banget, sampe nangis bacanya…, curang kenapa kyu yang ditodong suruh kasih keputusan…moga ibu anak bisa diselametin…

    Reply

  6. inggarkichulsung
    Mar 20, 2014 @ 23:29:55

    Aigoo benar2 sedih dan menegangkan, eunyoung hrs kuat demi baby nya dan semua sahabat dan keluarga yg dicintainya

    Reply

  7. blue alice
    Apr 03, 2014 @ 15:20:00

    aku suka banget sama ff ini
    aku udah ngikutin dari chap 1 sampe sekarang, walaupun kemaren sempet ga update tapi sekarang udah mulai lagi..
    lanjutin terus please….

    Reply

  8. Cho In Hyun
    May 18, 2014 @ 10:32:25

    Oommoo Donghae oppa meniggal😦😦😦😦 hhuuuaa sedihhh bngttt kasian Eunyoung Dan baby Younghae… Semua sangat menyayangi Eunyoung sepenuh hati🙂 Eunyoung harus selamat, babynya juga harus hidup😦

    Reply

  9. Kim Heena
    Jun 04, 2014 @ 14:31:33

    omooo…penuh emosi,,aigoo sekotak tissue habis krn Nemo ku telah pergi…hiks’
    yg blm paham apa mungkin sebelum Hae pergi dia tahu kalau Jae menyukai Eunyoung? dan Haesi apa punya masa lalu dng Changmin??
    memang sulit untuk memilih ibu / bayi yg hidup..keundae q jd ingat kata dosenku biasanya ibu yg di prioritaskan…ahh neomu joahe*^▁^*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@fanfict_palace

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Memories

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: