[Fanfiction] Our Love Story (Chap 17 – Moments…)

Tittle              : Our Love Story – Moments…
Length             : Multi chapter – chapter 17

Author             : missdorky & littleyounghae

Cast                :

  1. Lee Donghae
  2. Cho Kyuhyun
  3. Park Eunyoung (OC)
  4. Lee Younghyun (OC)
  5. etc^^

Genre              : Romance, Family

Rated              : PG-17

Notes             : FF ini merupakan project kolaborasi pertama dari dua penulis (littleyounghae dan missdorky) . FF ini salah satu cara untuk menunjukan cara kami dalam berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita…^^ Enjoy and feel the story… Happy Reading, don’t forget to give comments and We will appreciate it… ^^

Disclaimer       : Cast FF ini yang jelas bukan milik kami tapi Cerita FF ini murni dari otak kami berdua…. susah payah menggabungkan dua ide jadi satu karya, so… don’t be plagiator… and don’t be a silent reader.

 

Selamat yang sudah bisa menebak Password ^^(jgn lupa feedback –nya yaa^^ *plaak*) dan juga kalian yang udh dapet Password dari kami ^^ Mianhae chapter ini kita Protect ^^

Happy Reading^^

Readers said >>>> Duo a-cha cerewet minta ampun >.<

^^v

Previous Chapter >>>> Here

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

 

“Life is not measured by the number of breath we take, but by the moments that’s take our breath away” – unknown

 

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

 

Kyuhyun menggeleng tanda tak setuju dengan usul Donghae. Seketika senyum yang sedang terukir di bibir Donghae lenyap, seiring dengan gelengan yang makin intens dari Kyuhyun, walau ia sudah mengeluarkan tatapan memohonnya, namun Kyuhyun tetap dalam pendiriannya.

 

“Kyuhyun Oppa,” Younghyun berseru lirih, hatinya terasa pilu melihat ke dalam mata Donghae yang kian lama kian menghitam dan tampak mencekung.

 

“Ayolah, Kyu!” Donghae kembali mencoba peruntungannya pada Kyuhyun. Suasana menjadi hening, Eunyoung berusaha tersenyum pada Donghae, mengisyaratkan untuk tidak meminta apapun untuk saat ini.

 

“Tidak, keputusanku sudah mutlak, Hae! aku tidak akan membiarkanmu berada di luar tanpa pengawasanku,” Donghae menundukan kepalanya, ia tahu, ia kalah. Kalah sebelum mencobanya.

 

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Younghyun mengguncang kecil lengan Kyuhyum sambil terus berharap suaminya itu dapat mengubah keputusannya. Ia terlalu sedih melihat gurat kekecewaan di wajah Donghae. Namun usahanya sia-sia, Kyuhyun tetap tidak bergeming, ia menggeram kesal dan sedikit kasar menepis tangan Younghyun. Younghyun membulatkan matanya, tidak percaya kalau suaminya bersikap demikian padanya.

“Sudahlah Hyunnie, Kyu oppa, tidak perlu ada makan malam. Pasien aneh satu ini terlalu berlebihan,” Eunyoung angkat bicara, setelah ia sadar sepasang suami isteri di hadapannya mulai berdebat dan mungkin tidak lama lagi akan memulai perang dingin.

“Tapi, Jagi, setidaknya ijinkan aku membahagiakanmu untuk malam ini saja, aku tahu, kau selalu memimpikan makan malam romantis di bawah sinar bulan. Hal itu yang ingin aku wujudkan sebelum…”

“Sudah waktunya aku mengontrol pasien, aku pamit,” Kyuhyun beranjak dari kursinya tiba-tiba, hendak berpamitan dan sukses menghentikan ucapan Donghae yang masih bersikukuh menjelaskan keinginannya.

Donghae, Eunyoung dan terutama Younghyun terkejut melihat Kyuhyun yang lantas pergi tanpa berpaling lagi. Younghyun yang semula ikut bangkit, malah tertunduk sedih sambil menghela nafas berat.

“Hyunnie, mianhae… Ah, Kyu oppa pasti sangat marah,” ucap Eunyoung.

Gwaenchana, mungkin Kyu oppa sedang memikirkan jadwal operasi nanti,” lirih Younghyun. Ia sangat tahu Kyuhyun tadi kalut akan keputusannnya, ditambah lagi ucapan Donghae yang sangat jelas menginginkan makan malam itu.

Oppa, kau keterlaluan, sudah seharusnya seorang pasien menuruti dokternya, bukan dokter yang harus mengikuti keinginan aneh pasiennya,” ketus Eunyoung. Donghae terkejut, baru kali ini isterinya itu menatapnya tajam, hingga membuatnya tidak mampu membantah.

Eunyoung mengerti alasan Kyuhyun menentang keinginan suaminya. Kondisi Donghae yang tidak memungkinkan, ditambah rasa tanggung jawabnya sebagai seorang dokter, menuntut Kyuhyun untuk bersikap seperti itu.

Younghyun terdiam, berpikir apa ada yang salah jika makan malam itu tetap dilaksanankan. Setidaknya hal itu bisa membuat Donghae dan Eunyoung tersenyum, walau ia juga tahu kondisi Donghae yang belum stabil mungkin mengganggu. Sepasang suami isteri di hadapan Younghyun itu kembali terperangkap dalam keheningan. Raut wajah Eunyoung ragu, kesal dan cukup kecewa, bukan kecewa karena Kyuhyun tapi kecewa karena keinginan Donghae yang berlebihan.

“Mengapa oppa menginginkan hal yang aneh seperti itu? Kita bisa makan malam romantis lain waktu, tidak harus malam ini dan dalam keadaan seperti ini,” lirih Eunyoung menahan tangisnya. Begitu banyak pikiran yang muncul mengenai alasan Donghae bersikukuh tentang ide makan malam itu, bahkan termasuk pikiran yang paling buruk sekali pun.

“Aku hanya ingin mewujudkannya untukmu. Malam ini pasti sangat cerah dan kesehatanku juga membaik. Mungkin beberapa waktu ke depan akan masuk musim penghujan, akan lebih sulit untuk kita melihat sinar bulan. Lagipula saat hujan bukannya lebih baik berdiam diri di tempat yang hangat,” jelas Donghae panjang.

“Kau membuatku takut, Oppa…” nada bicara Eunyoung semakin lirih, terlihat matanya yang mulai berkaca karena pikiran yang terburuk yang lebih dominan mengisi kepalanya.

Younghyun yang berada di dekatnya mengerti arah pembicaraan Eunyoung. Dan perlu diketahui, yeoja itu pun berpikiran hal yang sama dengan Eunyoung. Tapi ia hanya bisa diam, menahan emosi akan kekalutannya sendiri ditambah sikap Kyuhyun tadi pada mereka.

Ssshhh… Kau ini, sudah kukatakan berulang kali, tidak ada yang harus kau takutkan Nyonya Lee…” Younghyun tersenyum saat melihat Donghae merangkul Eunyoung, persis saat dulu namja itu menenangkan Eunyoung.

Sejenak pikiran buruk yang memenuhi kepala Younghyun perlahan menghilang, seiring senyuman khas seorang Lee Donghae yang kini mengarah padanya. Ditambah pemandangan di depannya yang membuatnya demikian. Eunyoung memang masih terlihat menahan tangis dalam pelukan Donghae. Namun semuanya terbalaskan dengan hangatnya Donghae memeluk yeoja-nya itu.

Ehm, sepertinya aku akan mengganggu kalau terus berada di sini,” sindir Younghyun. “Oppa, Young-ah, aku pamit, banyak pasien yang harus kukunjungi hari ini. Ah, setelah cuti cukup lama akhirnya aku bisa bertemu mereka…” Younghyun mengalihkan topik pembicaraan, dan sekaligus menginterupsi kemesraan Donghae dan Eunyoung.

“Ah, iya, mianhae Hyunnie, sepertinya aku membuat kalian sulit, terutama Kyuhyun. Gomawo sarapannya, katakan pada Wookie, aku hanya ingin makan makanan yang dibuatkannya selama aku di sini hehe…”

Gwaenchana, kau seperti tidak tahu saja perangai dokter Cho yang sangat cerewet itu. Mungkin Kyuhyun oppa sedang banyak yang dipikirkan, dan masalah makan malam itu…”

“Tidak perlu, Hyunnie. Lupakan saja,” Donghae menghentikan ucapan Younghyun dengan cepat dan memutuskan untuk tidak membahas keinginannya lagi.

Younghyun tersenyum, sedikit lega namun juga kecewa karena belum bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi keinginan Donghae yang sudah seperti oppa baginya. Tidak lama, Younghyun pamit dan kembali menuju ruangannya.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Jam makan siang hampir tiba, Younghyun yang baru kembali setelah menemui pasien-pasiennya, sejenak melepas lelah di sofa yang tertata rapi di ruang khusus pribadinya. Konsentrasinya sedikit terganggu kembali dengan ucapan Donghae tadi pagi tentang rencana makan malam itu.

‘Tok….tok…tok…’

Pintu ruangan Younghyun terbuka sebelum sang penghuninya mengijinkan tamunya masuk. Kyuhyun muncul dari balik pintu dengan senyuman lebar tanpa jas putih yang biasa ia kenakan saat bertugas.

Wanna have lunch with me, dokter Lee?” tanya Kyuhyun yang kemudian ikut duduk di samping Younghyun. Tidak lupa kecupan lembut di pipi, sebagai tanda sapaannya siang itu.

“Aku tidak lapar,” jawab Younghyun singkat. Ia rebahkan kepalanya di bahu Kyuhyun, berharap pikiran buruk yang selalu muncul itu menghilang.

“Kau sakit, Jagi?” tanya Kyuhyun cemas. Younghyun menggeleng dan mulai melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.

Oppa, tidak bisakah?” tanya Younghyun. Kyuhyun mengerutkan kening mendengar pertanyaan yeoja yang kini sudah dalam dekapannya dan bersandar di dada bidangnya. “Makan malam itu, Donghae oppa dan Eunyoung, tidak bisakah kau mengijinkannya? Hanya malam ini,”

Kyuhyun menghela nafas, ia renggangkan pelukannya pada Younghyun. Ada sedikit ketidaksukaan terlihat pada sikap Younghyun. “Tidak bisa! Itu sudah final. Jagi, tidak bisakah kita tidak membahasnya lagi?”

Younghyun kini melepaskan lengannya dari pinggang Kyuhyun. Ia sejenak menatap dalam mata Kyuhyun, lalu tertunduk kecewa. “Kau jahat, oppa! Sungguh…” lirih Younghyun. “Hae oppa sangat menginginkannya, tidak kah kau pikir, ini…”

“Berhenti berpikiran macam-macam, Jagi!” Kyuhyun berbicara dengan nada sedikit keras, bahkan ia sampai bangkit dari duduknya dan sontak membuat Younghyun kaget.

Younghyun terdiam, menahan emosi dan kekalutan pikirannya. Ia membenarkan apa yang dikatakan Kyuhyun, namun pikiran buruk itu terlalu mendominasi. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan Kyuhyun menyadari itu.

Kyuhyun mendekat kembali dan duduk di samping Younghyun. Ia usap lembut pipi Younghyun yang basah karena air mata, ada rasa bersalah karena nada bicaranya terlalu keras tadi. “Mianhae, bukan maksudku..”

Younghyun menyergap masuk dalam pelukan Kyuhyun, ia pikir ia hanya butuh itu. Pikirannya tentang Donghae dan Eunyoung sungguh memenuhi ruang dalam kepalannya. Ia ingin menyetujui perkataan Kyuhyun dan mencoba untuk tidak berpikir macam-macam, tapi justru ucapan Donghae dan kehangatan Donghae dan Eunyoung malah membuatnya semakin berpikiran tentang suatu hal buruk.

Jagiya,,,” panggil Kyuhyun. Ia usap lembut rambut Younghyun yang tergerai, berusaha menenangkan yeoja yang masih menangis dalam diam di pelukannya itu.

Oppa, kau tahu? apa yang aku pikirkan ini, persis sama dengan apa yang Eunyoung pikirkan. Takut akan satu hal,” akhirnya Younghyun bicara dengan nada tenang namun lirih.

Kyuhyun hanya diam, kalau boleh jujur, tadi pagi pun ia merasakan kegalauan yang sama dengan isterinya. Takut akan suatu hal. Tapi ia mencoba memutar balik pikirannya, menjadi suatu hal, yaitu ‘harapan’. Sungguh berat untuknya menolak keinginan Donghae, tapi dengan menolaknya ia berharap makan malam itu akan dilakukan saat Donghae sudah lebih baik, karena ia yakin Donghae akan sembuh.

Kyuhyun susah payah mempertahankan pikirannya, berusaha tidak kembali masuk dalam kekalutan Younghyun. Ia lantas menghela nafas panjang, mengelus lembut punggung Younghyun yang masih nyaman bersandar padanya.

Oke, aku setuju. Kita buat makan malam untuk Donghae dan Eunyoung. Aku hanya ingin Eunyoung tidak berpikir macam-macam, kau juga, Jagi. Ia terlalu banyak merasakan banyak hal selama kehamilan, kita bisa membuatnya tersenyum malam ini, Jagi, ottae?” Kyuhyun melepas pelukannya, ditatapnya Younghyun dengan penuh senyuman, mengusir awan kelabu yang menaungi keduanya.

“Eunyoung! iya, Oppa, kita bisa membuat Eunyoung tersenyum dan itu juga bisa membuat Donghae oppa senang,” Younghyun ikut tersenyum sambil mengusap sisa jejak air mata yang membasahi pipinya. “Dokter Cho memang yang terhebat!” seru Younghyun senang.

Kyuhyun tersenyum lebar melihat isterinya sudah kembali ceria, setidaknya pikiran buruk dan ketakutannya sudah menghilang. Sebuah kecupan lembut sekejap diberikan oleh Younghyun disusul pelukan erat dan hangat untuk suami tercintanya itu.

My princess is back,” ucap Kyuhyun mengecup pucuk kepala yeoja tercintanya. Younghyun tersenyum kecil dalam dekapan Kyuhyun.

“Ah, akhir-akhir ini, Jagi-ku sibuk sekali, restoran, Jongjin, ehm.. but i think you miss ‘something’, right?” Kyuhyun jahil menyusuri hidung bangir Younghyun.

Younghyun merenggakan pelukannya, ia tatap Kyuhyun dengan raut bingung. ‘Something?’ pikir yeoja itu dalam hati saat Kyuhyun mulai kembali menyunggingkan seringai mautnya sambil menatapnya. Tanpa aba-aba, Kyuhyun membalas kebingungan Younghyun dengan kecupan lembut dan dalam. Younghyun hanya bisa membulatkan matanya, terkejut menerima ‘serangan’ mendadak dari Kyuhyun.

Cukup lama Kyuhyun menjamah bibir manis Younghyun, dan terhenti saat Younghyun mendorong paksa Kyuhyun menjauh darinya. Kyuhyun kembali mendekat, sudut matanya melirik tempat periksa pasien seakan memberi isyarat tertentu pada Younghyun.

“Aaa, kita harus menelfon Wookie oppa, makan malam nanti harus sukses, oppa!” ucap Younghyun tepat saat Kyuhyun akan kembali melekatkan bibirnya.

Younghyun bangkit dari duduknya dengan sedikit gugup berjalan ke arah meja kerjanya. Ia memalingkan wajahnya, rona merah terlihat di kedua pipinya. Kyuhyun tersenyum kecil, ia peluk Younghyun dari belakang lalu menyembunyikan kepalanya di rambut Younghyun.

May I?” tanya Kyuhyun tepat di telinga Younghyun sambil terus mengeratkan lengannya di pinggang ramping isterinya.

Napeun! Jam makan siang sudah habis dokter Cho, kau harus kembali bertugas, dan aku harus menyiapkan keperluan untuk Eunyoung dan Donghae oppa,” Kyuhyun tidak menghiraukan perkataan Younghyun, tangannya malah semakin gencar menyusuri lekuk tubuh yeoja-nya dengan gerakan seduktif.

Oppa!” Younghyun menjauh, melepaskan diri dan berbalik menatap Kyuhyun.

Hhhh~, Oke, just one kiss, then i’ll go,” Kyuhyun memohon sambil mencondongkan tubuhnya menyejajarkan tatapannya dengan mata cantik Younghyun.

Sirrheo!! Cepat kembali sana!! Ishh,”  Younghyun menggeram, mendorong Kyuhyun menuju pintu agar cepat keluar dari ruangannya.

Kyuhyun berhasil keluar dari ruangan Younghyun, namun Kyuhyun menahan tangan Younghyun yang hendak menutup pintu.

Cup~

Satu kecupan lagi dicuri oleh Kyuhyun, tepat di bibir dan banyak perawat yang sedang melintas. Tanpa rasa bersalah, Kyuhyun melenggang pergi setelah senyuman jahil ia berikan pada Younghyun dan kemudian meninggalkan yeoja yang masih terpaku di depan pintu ruangannya yang terbuka, ditambah tatapan beberapa perawat yang tersenyum melihatnya.

Aishhh, dokter Cho!” rutuk Younghyun dalam hati lalu terburu-buru masuk ke dalam ruangannya menghindari tatapan perawat-perawat yang melihat kejadian tadi. Dan tidak lama senyumnya kembali mengembang, saat mengingat rencananya mempersiapkan makan malam Donghae dan Eunyoung.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Derap langkah terdengar nyaring di koridor rumah sakit yang sore itu tampak lengang dari biasanya. Younghyun, si pemilik derap langkah kaki itu, tergesa-gesa menuju kamar rawat Donghae. Younghyun mendesah berat merutuki kebodohan dirinya, ia lupa mengenakan jam tangannya dan baru sadar kalau hari sudah beranjak malam,

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Younghyun memutar kenop pintu dengan lengannya dan mendorong pintu kamar bernomor 315 itu dengan belakang tubuhnya karena kedua tangannya penuh dengan belanjaan yang ia bawa. Matanya langsung tertuju pada jam dinding yang baru menunjukkan pukul tujuh malam, seutas senyum kelegaan seketika terpancar dari wajahnya.

Pasangan Donghae dan Eunyoung yang sejak tadi bercengkerama di atas tempat tidur, terperanjat akan kehadiran Younghyun di kamar mereka, terlebih lagi dengan penampilan Younghyun yang tak seperti biasanya. Yeoja yang sangat mereka kenal itu hanya mengenakan hotpans dan T-shirt yang kelihatan longgar di bagian dadanya dan dilapis dengan cardigan yang panjangnya mencapai panjang celananya.

“Hyunnie?” Donghae dan Younghyun berucap berbarengan. Mata mereka tak lepas dari yeoja yang baru saja masuk.

“Kenapa kalian memperhatikanku seperti itu? Aneh, sejak tadi aku memasuki lobi, aku serasa menjadi pusat perhatian,” Younghyun terlihat berpikir. Ia menunduk melihat dirinya sendiri.

“Jelas saja! kau tidak terlihat seperti Dokter Lee yang cantik dan anggun, Hyunnie,” jawab Eunyoung. Ia terkekeh melihat Younghyun yang justru bingung dengan pertanyaan mereka.

Younghyun menepuk keningnya pelan, ia akhirnya sadar dengan apa yang ia kenakan. Younghyun hanya menampilkan cengiran lebarnya. Setelah pekerjaannya selesai Younghyun pulang ke rumah setelah jam makan siang untuk berganti pakaian dan karena hari sudah beranjak malam, Younghyun tidak sempat pulang untuk berganti pakaian kembali, setelah berbelanja beberapa keperluan untuk pasangan HaeYoung.

“Aku kira kau masih sibuk, dan Kyu juga tidak bisa di hubungi. Lalu kemana Kyu, kenapa kau tidak datang bersamanya? Apa ia ada jadwal operasi?” Donghae memberondong beberapa pertanyaan sekaligus, membuat Younghyun gugup.

Sejak Younghyun dan Kyuhyun keluar dari ruang rawat Donghae pagi tadi, pasangan Hyun ini memang tak kelihatan lagi. Bahkan di saat jam makan siang, yang biasanya mereka akan datang untuk makan siang bersama. Donghae berpikir mungkin mereka sibuk seperti biasa, dan Kyuhyun tak akan bisa di hubungi seharian kalau ia ada jadwal operasi.

“Oh, Iya, Kyu oppa ada jadwal operasi hari ini,” jawab Younghyun, berbohong. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena dua orang yang ada di hadapannya itu hanya menatapnya intens sejak tadi.

Setengah hari ini, Younghyun dan Kyuhyun memang sibuk menyusun rencana mereka untuk makan malam Donghae dan Eunyoung. Atas persetujuan Kyuhyun dan Siwon, Younghyun sengaja off setelah makan siang. Beruntung jadwalnya tidak terlalu padat dan dokter baru di departemen sangat baik hati menggantikan sisa tugasnya hari itu. Sedangkan Kyuhyun membantu mempersiapkan tempat berlangsungnya makan malam nanti.

Younghyun meletakkan barang bawaanya di sofa. Raut wajah heran kembali terpatri di wajah Donghae dan Eunyoung saat Younghyun mulai mengaduk-aduk barangnya. Tidak biasanya Younghyun seperti ini, mau repot-repot membawa barang yang begitu banyak seorang diri.

“Ini! Hae oppa cepat ganti pakaianmu,” Younghyun mendekat pada Donghae, menyodorkan satu stel jas lengkap, dasi dan sepatu pada Donghae. “Oppa cepat ganti! Ah iya infus, aku akan melepasnya sebentar,” dengan cekatan dan hati-hati, Younghyun melepas infus yang masih dikenakan Donghae.

Donghae yang masih bingung, tetap menuruti perkataan Younghyun. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian tanpa banyak bicara lagi. Setelah Donghae beranjak, Younghyun kembali dan ia mencari sesuatu untuk Eunyoung.

“Sekarang kau yang berganti pakaian.” dengan senyuman lebar, Younghyun memperlihatkan dress yang baru saja ia beli untuk Eunyoung. “Ayo kubantu, cepat, sebelum suami-mu keluar dari kamar mandi,”

“Ini untuk apa, Hyunnie?” tanya Eunyoung heran. Younghyun hanya tersenyum, lantas membantu Eunyoung memakai pakaiannya.

Younghyun mengusap perut Eunyoung lembut setelah ia selesai membantu Eunyoung mengenakan pakaiannya. Yeoja yang tengah hamil besar itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress berbentuk kemben berwarna pastel dengan panjang dress hingga menutupi kakinya. Walau dress itu tampak pas di tubuh Eunyoung, namun tak mengurangi kenyamanan yeoja berbadan dua yang tengah memakainya itu. Tidak lupa, Younghyun memakaikan bolero berbulu untuk membuat Eunyoung cukup hangat menghadapi cuaca malam.

Bersamaan dengan selesainya Eunyoung, Donghae keluar dari kamar mandi, baik Eunyoung maupun Younghyun terpukau melihat Donghae yang tampak gagah walau kini berat tubuhnya banyak berkurang, dan tirus di pipinya tampak semakin jelas. Jas hitam yang menutupi kemeja biru muda dan pemanis dasi berwarna sapphire blue terlihat sempurna di tubuhnya. “Dasi-mu masih belum benar, oppa,” Younghyun yang entah mengapa sikapnya seperti stylist, membantu membenarkan simpul dasi yang di kenakan Donghae.

“Sebenarnya ada apa ini, Hyunnie??” tanya Donghae lagi. Lagi-lagi Younghyun hanya tersenyum. Ia lebih memilih tutup mulut sampai acara utama tiba.

Donghae mengambil posisi duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan Younghyun yang mulai merias isterinya. Make-up tipis dan simple ia poleskan di wajah cantik Eunyoung. Senyum terkembang di wajah Donghae. Ia bisa melihat betapa cantiknya isterinya malam itu dengan balutan dress-nya. Selesai dengan make-up, Younghyun lantas mengurai rambut Eunyoung yang tadi ia ikat asal. Tangannya dengan cekatan memilin sedikit demi sedikit rambut Eunyoung dengan alat khusus, menjadikan rambut Eunyoung yang tadinya lurus menjadi sedikit bergelombang.

“Done!” seru Younghyun senang. Sentuhan terakhir, ia sematkan pemanis di rambut Eunyoung yang sudah tertata sempurna. Segera ia bantu Younghyun untuk mengenakan sepatu flat yang senada dengan dress-nya.

Pancaran kagum tak pernah lepas dari wajah Donghae. “Hyunnie, kau membuat isteriku cantik sekali malam ini,” Donghae membantu Eunyoung berdiri dari posisi duduknya. “Apa ada yang kau rencanakan, Hyunnie?” Donghae kembali bertanya, rasa penasarannya masih belum hilang sejak tadi.

Younghyun hanya mengisyaratkan dua orang di hadapannya itu untuk mengikutinya. Sebelumnya, ia lirik jam yang sudah menunjukkan pukul delapan kurang, yang berarti semua sudah siap, karena Younghyun berjanji bertemu dengan Kyuhyun dan lainnya pukul setengah delapan.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Eunyoung mengamit lengan Donghae mengikuti arahan Younghyun yang berjalan di depan mereka. Sesekali Eunyoung tersenyum, ia sudah mencium gelagat aneh dari pasangan ‘evil’ itu, kalau tebakannya tidak meleset, pasti ada sesuatu yang direncanakan untuk mereka berdua. Tiba-tiba senyum Eunyoung menghilang, ia mengeratkan pegangannya pada lengan Donghae.

Mereka kini berada di tempat gelap, tak ada sedikitpun penerangan selain cahaya yang berasal dari koridor rumah sakit. Younghyun-pun tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka berdua. Donghae hanya bisa terdiam, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakhadiran Hyun Couple saat jam makan siang, kedatangan Younghyun yang tiba-tiba beberapa waktu yang lalu, dan sosok yang tiba-tiba menghilang di tengah kegelapan. Semua pikirannya itu tiba-tiba terhenti saat,

‘Tap’

Lampu menyala, semua tampak jelas di indera visual mereka. Taman rumah sakit, di mana Donghae dan Eunyoung sering menghabiskan waktu sore mereka, kini berubah. Berubah menakjubkan, hingga pandangan mata mereka tak bisa berkedip.

“Silahkan, mari ikuti aku,” namja dengan suara lembut menyadarkan lamunan mereka yang terpukau dengan apa yang mereka lihat. Ryeowook, namja yang malam itu berperan layaknya seorang waiter, lengkap dengan kemeja waiter-nya dan serbet putih yang menggantung di lengan kirinya, plus botol ‘sampagne’ yang ia bawa.

Donghae membimbing Eunyoung untuk duduk di salah satu sisi meja berbentuk persegi. Meja yang lengkap dengan dua buah lilin yang menyala di atasnya, dan terletak di bawah pohon Ek besar yang kokoh nan rimbun. Beberapa lampu lampion kecil menggantung tepat di atas mereka. Garden dinner, begitulah yang di maksud oleh Younghyun tadi siang, Makan malam di taman rumah sakit yang tak berfungsi saat hari sudah beranjak malam.

Temaram lampu yang hanya dihasilkan oleh lampion dan lampu taman yang hanya menyala di sudut-sudut tertentu, menghasilkan suasana yang indah dan romantis. Gemericik air yang turun dari air mancur di kolam buatan, yang letaknya tak jauh dari mereka-pun, ikut menambah khidmat-nya perhelatan makan malam itu.

Semilir angin malam dan harumnya dedaunan di malam hari sungguh dapat dirasakan keduanya. Di bawah taburan bintang dan sinar bulan, semua berpadu-padan melengkapi makan malam yang sangat diimpikan oleh Donghae.

Tepat setahun lalu, mereka pertama kali menghabiskan malam berdua di sebuah kamar rawat pasien bernama Park Eunyoung. Seorang pasien yang rela ia temani di kala malam, takut sang pasien terjaga dari mimpi buruknya. Pasien cantik yang sekarang sedang tersenyum dihadapannya. Yeoja yang sebulan lagi akan memberinya hadiah kecil untuknya.

Ryeowook menuangkan liquid berwarna merah dari botol sampagne yang ia bawa kedalam dua gelas wine yang masih kosong. Walau Donghae dan Eunyoung masih bingung, tapi mereka bisa mengendalikan suasana layaknya seorang aktor dan aktris, mengikuti arahan main dari Ryeowook yang malam itu memimpin.

Jagiya,” Donghae mengangkat gelas wine-nya dan Eunyoung mengikuti gerakan Donghae. Dua gelas beradu lembut di udara, menghasilkan dentingan yang lembut pula. Mata mereka saling menatap dengan senyuman yang sangat menawan dari keduanya.

Donghae sedikit terkejut saat tegukan pertama membasahi lidah dan tenggorokannya. Ia alihkan pandangannya pada Ryeowook yang tersenyum lebar padanya. “Cherry juice, buatanku.” ucap Ryeowook kalem. Eunyoung menahan tawa mendengar penjelasan singkat Ryeowook.

“Kau sangat cantik malam ini, Jagiya,” ucap Donghae lagi sesaat setelah Ryeowook meninggalkan mereka. Semburat merah bisa di lihat Donghae walau penerangan di tempat itu tidak terlalu jelas.

“Kau sudah mengatakan itu berapa kali, oppa,” Eunyoung meletakkan gelas wine-nya dan memegang sebelah pipinya, senyum malu tak bisa ia sembunyikan lagi. “Kau juga sangat tampan, oppa. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan suami yang tampan seperti-mu,” Eunyoung mengangkat dua ibu jarinya. Cengiran lebar yang terbentuk di bibirnya membuat Donghae semakin lekat memandangnya. Ia ingin membuat memori sebanyak-banyaknya untuknya dan juga Eunyoung.

Ryeowook kembali dengan sebuah nampan di tangan kirinya. Salmon steak, Ryeowook hidangkan di depan Donghae dan Eunyoung. Keduanya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di letakkan oleh namja manis itu. Eunyoung melihat salmon steak dan Ryeowook secara bergantian. Rautnya tampak heran, karena setahu-nya makanan ini tak boleh di makan oleh Donghae.

Lain Eunyoung, lain Donghae. Namja pecinta ikan itu tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar senang. Makanan kesukaannya terhidang di hadapannya, sangat menggugah selera. “Gomawo, Wookie,” seru Donghae.

Cheonman, aku membuatnya dengan special, just one time, dan sudah mendapat persetujuan dari Kyuhyun,” balas Ryeowook membalas senyum Donghae. Terdengar helaan nafas lega dari Eunyoung setelah mendengar penjelasan dari Ryeowook. “Oke! Silahkan nikmati acara makan malam kalian. Oiya, Kyuhyun hanya memberi waktu selama satu jam. Manfaatkan sebaik-baiknya, aku pergi dulu,”

“Baik Wookie, Gomawo! Ah sampaikan terimakasih-ku untuk Kyuhyun dan Younghyun,” Ryeowook mengangguk dengan senyuman, sebelum ia meninggalkan Donghae dan Eunyoung. Memberi ruang untuk mereka berdua.

“Aku benar-benar tidak percaya dengan couple itu,” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya. Walau begitu, ia sangat senang, impiannya benar-benar terwujud. Ia berucap sambil memotong beberapa bagian steak salmon di piringnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. “Kemarikan steak-mu, Jagi,

Gomawo, oppa,” perlakuan Donghae padanya tak pernah berubah sejak dulu. Eunyoung kembali terenyum saat pertama kali mereka makan malam berdua dengan suasana yang hampir mirip seperti saat ini. Makan malam pertama setelah pernikahan mereka.

Senyuman yang terus mengembang menghiasi wajah Donghae dan Eunyoung. Firasat Donghae benar, malam itu bulan bersinar lebih terang, seakan menyinari moment indah mereka. Angin malam yang biasanya berhembus kencang, entah mengapa menjadi bersahabat, tidak terlalu dingin seperti malam-malam sebelumnya.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Dari kejauhan, Younghyun, Kyuhyun, Ryeowook, dan juga Changmin, yang ikut membantu menghias taman, tersenyum melihat kemesraan pasangan itu.

“Akhirnya kita berhasil, Oppa. Senyum Eunyoung kembali,”

“Semua karena ide brilliant-mu, Jagi. Lee Younghyun-ku memang hebat,” Kyuhyun merangkul yeoja-nya yang mulai berkaca-kaca menatap moment sepasang suami isteri tidak jauh dari mereka.

Keduanya tersenyum lega, setidaknya, kekalutannya akan firasat aneh tadi pagi mengenai Donghae terhapuskan oleh ide untuk mengembalikan keceriaan Eunyoung.

“Eunyoung cantik sekali, aigoo… tidak ku sangka pesona yeoja hamil begitu memikat. Ah, pantas saja hyung tergila-gila padanya,” ucap Changmin setengah berbisik namun tanpa sadar suaranya masih bisa terdengar oleh ketiga orang di dekatnya.

Mworago?” penasaran Younghyun yang menangkap kata ‘hyung’ dari ucapan Changmin.

“Eh, Donghae pasti tergila-gila padanya maksudku,” sanggah Changmin. Namja tinggi itu merutuki kebodohannya, hampir saja ia membuka kembali rahasia Jaejoong yang masih menyimpan perasan pada Eunyoung.

“Haruskah aku mengantar makanan penutupnya sekarang, Hyunnie?” sela Ryeowook.

Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangannya, toleransi waktu yang diberikannya hanya satu jam. Bukannya apa-apa, tapi Donghae masih dalam masa perawatan dan udara malam tidak cukup bagus untuk Eunyoung yang sedang mengandung. Kyuhyun mengangguk, Ryeowook mengerti, lantas ia mengambil makanan penutup dan beranjak menuju Donghae dan Eunyoung.

 OOooooooo-Moments…-oooooooOO

“Wah pudding!” Eunyoung berbinar senang. Ryeowook meletakkan dua piring kecil pudding dengan lelehan fla yang menghiasi permukaannya. “Lagi-lagi makanan kesukaan-mu, oppa,” tanpa banyak berkata, Ryeowook kembali meninggalkan mereka berdua.

Donghae hanya tersenyum dan mulai memakan pudding-nya. Suasana kembali hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.

Acara makan malam-pun selesai. Donghae melirik jam tangannya, masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum batas waktu yang diberikan Kyuhyun habis. Donghae mengajak Eunyoung untuk menyusuri jalan setapak menuju air mancur buatan. Mereka duduk di bangku panjang menatap langit malam itu yang bertaburan bintang.

“Impianku untuk mengajakmu makan malam yang romantis terkabul sudah. Mian aku tak bisa membuatnya lebih indah karena ketidak-berdayaanku, Jagi,” ucap Donghae lirik. Ia genggam tangan Eunyoung yang mulai dingin untuk memberikan kehangatan.

“Ini sudah sangat indah untukku, oppa. Jangan pernah menyesali keadaanmu, aku tak mau mendengar kalimat itu lagi,” perasaan bersalah memenuhi ruang dada Donghae. Ia tak bermaksud seperti itu. Donghae menoleh, meraih dagu Eunyoung yang tertunduk.

Mata mereka kini beradu. Senyum sendu menghiasi wajah Donghae, menatap ke dalam mata Eunyoung yang berkaca-kaca. Sinar rembulan yang membias pantul pada wajah Eunyoung, membuat Donghae semakin kagum melihatnya. Perlahan ia usap pipi Eunyoung lembut, dan mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter saja.

Dan sebuah kecupan lembut mendarat sempurna di bibir Eunyoung. Bibir hangat dari seorang Lee Donghae ia terima tanpa penolakan. Eunyoung menutup matanya menikmati setiap kecupan yang di berikan Donghae. Bibir itu, bibir yang selalu memberikannya kehangatan dan bibir dari namja yang sangat ia cintai untuk selamanya.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Eunyoung menyodorkan satu cup coklat hangat pada Donghae yang baru saja ia beli di cafeteria. Siang itu, Donghae dan Eunyoung menghabiskan waktu di taman rumah sakit. Mereka memutuskan untuk keluar kamar dan duduk di bangku taman, karena Donghae mengeluh bosan berada di kamar terus sepanjang hari.

Sebuah bola mengenai kaki Donghae, dan seorang namja kecil berlari menghampirinya. “Ini bolamu?” tanya Donghae, mengangkat bolanya. Namja kecil itu menggangguk dan mengulurkan tangannya untuk mengambil bolanya kembali.

Gomawo, Ajhussi,” ucap si namja kecil dan kembali ke tempat di mana teman-temannya menunggunya mengambil bola.

“Lucunya, kelak baby akan seperti namja kecil itu. Tampan dan pandai bermain bola,” gumam Donghae, memperhatikan sekelompok anak-anak kecil yang bermain bola di taman. Walau mereka pasien rumah sakit, dan bisa di pastikan mereka sedang sakit, tapi mereka tetap bermain dengan riang tanpa beban sedikitpun, bahkan tak menghiraukan rasa sakitnya.

“Pasti, oppa. Kau ingin anak kita kelak pandai bermain bola?” Eunyoung mengusap perutnya, tersenyum senang membayangkan baby-nya kelak akan menjadi pemain yang handal.

“Tentu saja, seorang namja harus pandai berolahraga. Yah setidaknya ada salah satu olahraga yang ia gemari, walau itu bukan sepakbola.” Donghae tertawa kecil, ikut membayangkannya. “Tapi kurasa, ia akan menjadi pemain sepakbola yang handal. Lihat, masih di dalam perut omma-nya saja, suka sekali menendang. Baby kalau kau terus berlatih di dalam perut omma, appa yakin kau akan menjadi pemain hebat,” Donghae berbisik di atas permukaan perut Eunyoung.

Omo, Baby menendang,” pekik Eunyoung. “Eiiy kau setuju dengan appa atau tidak suka dengan ide appa,”

“Tentu setuju, Jagi. Iya kan sayang,” Donghae berbisik lagi, namun lebih keras sekarang. Eunyoung kembali tertawa, melihat Donghae tak mau kalah dan meminta pembelaan dari baby.

GOAALLL!” Donghae dan Eunyoung menoleh pada asal suara yang berasal dari sekelompok anak yang tengah bermain bola. “Jang Kangso hebat, Jang Kangso hebat!”

Oppa, namja kecil tadi kah itu yang mencetak goal?” tanpa sadar Eunyoung bertepuk tangan. Ikut senang dengan kemenangan mereka yang baru saja membobol gawang lawan.

“Iya itu namja kecil tadi,” Donghae tersenyum lebar. Jang Kangso kini tengah diarak oleh salah satu perawat pria yang bertugas untuk menjaga gawang sekaligus mengawasi mereka bermain.

Taman di siang hari memang dipenuhi oleh anak-anak yang bermain bola. Donghae ingin melihat permainan mereka yang sering terdengar hingga ke kamarnya. Ia rindu bermain bola dengan pasien-pasien cilik seperti yang sering ia lakukan dulu, jauh sebelum ia mengenal Eunyoung. Bermain dengan anak kecil membuat pikirannya rileks, karena kepolosan yang mereka tampilkan padanya dan itu cukup membantu emosi Donghae yang ber-profesi sebagai dokter jiwa.

Samchun.. Immo..” Donghae menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Ia yakin, itu suara Jongjin. Dan benar saja, Jongjin berlari ke arahnya dengan satu paper-bag besar yang ia dekap di depan dadanya.

“Jongjin?” lirih Eunyoung. Sedikit terkejut, melihat Jongjin datang tanpa Kyuhyun dan Younghyun.

Annyeong, Immo!” kepala Jongjin menyembul dari arah samping. Paper-bag yang ia bawa menutupi sebagian wajahnya hingga ke hidung mungilnya. “Immo, bisa tidak kita ke kamar Hae samchun? Di sini berbahaya,” sambung Jongjin dengan cengiran lebarnya.

“Ayo kita ke kamar kalau begitu,” Donghae bangkit dari duduknya, diikuti Eunyoung yang langsung menggandeng tangan Jongjin, setelah barang bawaannya berpindah tangan pada Donghae.

 OOooooooo-Moments…-oooooooOO

 Sesampainya di kamar Donghae, Jongjin segera melepas sepatunya dan naik ke atas ranjang diikuti Eunyoung dan Donghae. Donghae masih berfikir, kenapa Jongjin datang dengan masih mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan tas sekolahnya. Selain itu, ia juga datang sendiri. Lalu mengajaknya ke kamar dan bilang di taman ‘berbahaya’ padahal Jongjin suka sekali berlarian di taman.

“Aku punya ice cream untuk baby,” Jongjin mulai sibuk mengaduk-aduk paper-bag-nya. Donghae dan Eunyoung menunggu Jongjin mengeluarkan ice cream yang baru saja ia bilang. “Kemana ice cream-nya? Huwaaaa hilang!” Panik Jongjin, setengah ingin menangis. “Ah iya tadi kan aku jatuh, dan ice cream-nya tumpah.” Jongjin menepuk keningnya sambil tertawa geli.

Donghae dan Eunyoung ikut tertawa melihat sikap Jongjin yang berubah sangat cepat. “Kau jatuh di mana, Jin-ah?” cemas Eunyoung, ia melihat siku tangan dan lutut Jongjin tertempel plester luka.

“Tadi aku jatuh, di dekat taman saat mencari Immo dan Samchun. Aku melihat appa tadi, makanya aku bersembunyi tapi aku jatuh karena tersandung batu. Untung appa tidak melihatku,” cerita Jongjin, ia bergidik ngeri membayangkan kalau appa-nya melihatnya.

“Masih sakit tidak?” tanya Eunyoung lagi, mengangkat tangan Jongjin untuk melihat seberapa parah lukanya.

“Tidak!” Jongjin menggeleng. “Suster noona datang menolongku, dan ia menempelkan plester nemo di sini dan di sini,” Jongjin menunjuk siku tangannya dan lututnya. “karena sudah di tutupi dengan nemo, jadi tidak akan sakit kata noona. Tapi aku rasa masih sedikit sakit,” tutup Jongjin dengan sedikit mengernyit.

Donghae tertawa mendengar cerita Jongjin. “Kau bilang, tidak sakit Jin-ah, tapi kenapa kau bilang masih sakit di akhir,”

“Aku tidak tahu, samchun.” Jongjin menggeleng lucu. “Aku rasa nemo punya kemampuan mengobati.” Eunyoung mengacak-acak rambut Jongjin gemas. Gemas melihat celoteh panjang Jongjin yang tak pernah berhenti dari mulut mungilnya.

“Tunggu! Appa-mu tidak tahu kau ke sini, Jin-ah?” kini Donghae berubah cemas. Namun Jongjin masih saja santai mengeluarkan satu persatu isi paper-bag-nya dan berceloteh riang.

“Tidak, setelah pulang sekolah, aku diantar Jino samchun ke restoran. Aku ingin sekali main ke sini tapi omma dan appa tidak mengijinkanku dan sibuk dengan pekerjaannya.” Jongjin kembali menjelaskan detail apa yang baru saja ia jalani. Namja kecil ini memang tidak pandai berbohong, apalagi di depan Donghae.

“Lalu kau ke sini bersama siapa, Jin-ah?” tanya Eunyoung.

“Aku ke sini sendiri, naik taksi. Wookie samchun yang membayar ongkos taksinya. Samchun bilang aku harus hati-hati, saat mengantarku. Opps! Samchun dan Immo tidak akan memberitahu omma dan appa kan?” Tanpa sadar Jongjin sudah menceritakan semuanya. Donghae dan Eunyoung sama-sama terkejut.

“Bagaimana kalau kau diculik, Jin-ah?” Eunyoung merasa cemas sekaligus gemas melihat Jongjin. Tapi ia cukup bangga, demi Donghae Jongjin nekat mengunjunginya.

“Wookie samchun memang hebat, ini rahasia antara aku dengannya. Eh tapi sekarang ada samchun dan immo juga jadi berempat.. hehe..” Jongjin mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara. “Umm baby juga, jadi berlima,”

Semua kembali tertawa. Donghae dan Eunyoung benar-benar dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu namja kecil di depan mereka yang sekarang bermarga Cho itu. “Kalau appa omma-mu tahu, kau bisa habis Jin-ah,”

Immo, aku bawa cupcakes, permen, cokelat dan pudding. Ini semua buat Immo dan baby. Baby pasti suka, iya kan?” Jongjin menyodorkan, satu kotak cupcakes, satu plastik kecil permen, beberapa batang cokelat dan satu cup pudding cokelat pada Eunyoung. Eunyoung membelalakkan matanya, melihat banyaknya barang yang dibawa namja kecil seumur Jongjin.

“Ini buat Immo dan Baby? ah gomawo Jin-ah.” walau terkejut, Eunyoung tetap berterimakasih pada Jongjin. “Umm baby bilang, ia ingin makan pudding, immo makan ya.” Eunyoung tersenyum membuka tutup cup-nya dan mulai menyendokannya. “Enak, Jin-ah mau?”

Jongjin menggeleng, “Aku sudah makan tadi, Jino samchun beli banyak sekali,”

Appa-nya mau, Jagi.” Donghae mendekatkan wajahnya pada Eunyoung. Eunyoung segera menyuapkan satu sendok pudding cokelatnya ke mulut Donghae. “Hmm enaaak, Jin-ah, Jino samchun beli di mana?”

“Di dekat sekolah aku, samchun. Besok aku datang lagi, nanti aku minta belikan Jino samchun lagi yang banyak,” ucap Jongjin senang. Setiap pulang sekolah Jongjin selalu diajak membeli pudding coklat yang memang makanan kesukaan Jino.

“Oke!” Donghae mengangkat ibu jari-nya di depan Jongjin.

“Aku juga bawa barang untuk Hae samchun. Umm aku tadi bawa…” Jongjin melepas tas ransel-nya dan beberapa macam barang ia keluarkan. “Buku gambar, kaset nemo.. terus ada ah PSP! Aku tahu Hae samchun pasti bosan di rumah sakit terus, jadi aku bawa PSP-ku untuk menemani.”

Kali ini Donghae yang terkejut, ia mengambil beberapa barang yang disodorkan Jongjin. “Lalu kalau kau memberikan PSP-mu pada samchun, nanti kau bagaimana?” heran Donghae, setahunya Jongjin tak bisa lepas dari permainan yang bernama Game, mirip sekali seperti Kyuhyun. “Lalu, kaset Nemo-nya?”

“Tenang saja, samchun. Aku punya ini!” Jongjin tertawa kecil mengeluarkan sebuah benda kotak dari dalam anakan tasnya, sebuah ponsel yang sama seperti Kyuhyun, ponsel yang cukup mahal untuk anak kecil seperti Jongjin. “Aku bisa main pakai ini, dan bisa pinjam PSP appa. Ah iya kaset Nemo, nanti aku minta belikan lagi sama omma,”

“Kalau appa-mu tahu, kau bisa dimarahi, Jin-ah,” ucap Eunyoung.

“Tidak akan, immo. Aku punya omma yang akan membelaku.” Jongjin terlihat percaya diri sekali. Membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Donghae tersenyum kecil, pengalaman Jongjin pernah dialami oleh omma-nya, Younghyun. Saat itu, Younghyun yang tengah bed rest, nekat datang ke rumah sakit dan bersembunyi agar tak ketahuan Kyuhyun.

“Baiklah, gomawo Jin-ah,” Donghae mengusap puncak kepala Jongjin.

Samchun, Immo, aku semalam menggambar nemo, lihat ada baby nemo, yang ini appa-nya dan ini omma-nya. Samchun immo dan juga baby. Yang sebelah sini, ada Kyu appa, Hyun omma dan aku. Ah yang ini grandma dan grandpa, Wookie samchun, harabeoji…” Jongjin menunjuk satu persatu gambar nemo yang ia gambar. Walau warnanya sama semua, oranye, tapi setiap ikan nemo yang ia gambar terlihat beda satu sama lain, terutama ukurannya. Grandpa, grandma yang menurutnya paling tua, ia gambar dengan ukuran yang lebih besar dari yang lain.

Donghae dan Eunyoung memperhatikan Jongjin yang tengah memperkenalkan satu persatu nemo yang ia gambar. Lucu-nya tak ada yang bisa membedakan, baik itu Donghae maupun Eunyoung, keduanya selalu salah dalam menebak gambar Jongjin dan hanya Jongjin saja yang bisa membedakanya. Karena bukan hanya satu halaman saja yang bergambar nemo, melainkan semua halaman sudah penuh dengan gambar nemo.

Sore-pun menjelang, tawa demi tawa terus terdengar dari kamar rawat Donghae. Berbeda sekali hari ini, karena Jongjin datang menemani, mengisi kebosanan Donghae. Eunyoung yang gemas-pun terus saja mengacak-acak rambut Jongjin bahkan menggelitik pinggangnya membuat tawa Jongjin terdengar nyaring hingga keluar kamar.

Omma,” tawa terhenti, Jongjin berucap lirih. Ia perhatikan omma-nya, Younghyun, yang baru saja masuk ke dalam kamar Donghae dengan raut wajah cemas. “Omma, aku-aku… hanya ingin…mene..” gugup Jongjin, ia bangun dari posisi tengkurapnya.

“Ternyata kau ada di sini sayang. Kau tahu, khawatirnya omma saat harabeoji bilang kau belum sampai ke restoran padahal ini sudah sore dan Jino samchun bilang kau sudah di antar ke restoran tadi,” Younghyun berhambur memeluk Jongjin sambil menciumi pipi jagoan kecilnya beberapa kali.

Omma, aku minta maaf, aku hanya bilang pada Wookie samchun. Aku ingin main ke sini tapi omma dan appa tidak mengijinkannya, dan kalau aku bilang sama harabeoji pasti…”

Gwaenchana, omma hanya khawatir. Omma mengijinkanmu main ke sini mulai sekarang, tapi kau harus bilang dulu. Jangan membuat khawatir omma lagi ya sayang.”

Ne omma, aku janji.” Jongjin mengecup pipi Younghyun dan memeluk Younghyun dengan penuh kasih sayang. “Aku pulang ya omma. Aku takut harabeoji marah padaku,”

“Tapi Jin-ah, kau pulang sendiri?” cemas Eunyoung, membiarkan Jongjin naik taksi lagi untuk pulang pasti akan membuat Younghyun tambah khawatir.

Aniya, kau main di sini saja. Nanti pulang bersama omma dan appa oke? Omma telpon harabeoji dulu.” Jongjin mengangguk. Younghyun keluar dari ruang rawat Donghae meninggalkan Jongjin bersama Donghae dan Eunyoung.

“Yah aku ketahuan deh,” keluh Jongjin sambil tertunduk sedih, ia mulai terisak. “Omma tidak marah, tapi appa pasti marah,”

Donghae dan Eunyoung kembali tersenyum, melihat Jongjin. Mereka tahu pasti ini akan terjadi, untung saja yang datang Younghyun bukan Kyuhyun. “Jangan menangis, Jin-ah. Immo yakin appa tidak akan marah, kalau appa marah pasti omma akan membelamu. Tadi kan kau yang bilang, omma akan membelamu,” hibur Eunyoung.

“Ah iya immo benar, ada omma yang pasti membelaku. Ayo kita main lagi, Immo. Aku mau nonton Nemo sekarang.. yeaaaay!” mereka kembali asik dengan kegiatan mereka, menonton film ‘Finding Nemo.’ Sesekali Jongjin menceritakan kisah nemo yang sudah sangat ia hapal. Donghae dan Eunyoung mendengarkan cerita Jongjin dengan seksama walau mereka juga sebenarnya sudah tahu jalan ceritanya hingga akhir.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Hening. Tidak ada satu kata pun terucap dari Donghae, Eunyoung, Kyuhyun dan Leeteuk sepanjang menyusuri koridor rumah sakit pagi itu. Donghae yang baru saja selesai menjalani kemoterapi, entah yang ke-berapa, hanya terduduk lemah dan pucat di kursi roda. Kyuhyun dan seorang perawat mendampingi Donghae, mendorong kursi roda, sedangkan Eunyoung dan Leeteuk mengekor dibelakangnya. Eunyoung tetap bersikeras mendampingi Donghae menjalani terapi pagi itu, meskipun Kyuhyun, Donghae dan Leeteuk melarangnya. Usia kandungannya yang menginjak bulan terakhir tidak menyurutkan Eunyoung untuk menyemangati suaminya agar cepat pulih kembali.

Tidak ada rasa bosan bagi Eunyoung melihat wajah pucat suaminya sehabis kemoterapi. Namun hari ini, hatinya cemas, ia sendiri pun tidak mengerti jelas apa alasannya. Sejak keluar ruang terapi, Eunyoung hanya bisa diam, sesekali tertunduk mengelus lembut perutnya. Leeteuk, sang appa, dengan setia menguatkan puterinya di sampingnya.

Sesampainya di ruang rawat, Kyuhyun dan perawat membantu Donghae untuk kembali berbaring di tempat tidur dan tidak lupa membenarkan infus di lengan kanannya. Sesekali Donghae masih terlihat menahan mual yang timbul karena efek terapi yang di dapatnya sejam yang lalu.

Gwaenchana, Hae?” tanya Kyuhyun. Donghae tersenyum, mengangguk lemah sambil membenarkan letak topi rajut biru muda yang menutupi kepalanya.

“Oke, kau pasti lelah, istirahatlah. Aku harus kembali bertugas, kalau kau nanti merasakan keluhan, kau bisa memanggil perawat atau langsung memanggilku, arraso?”

Ne, arra, dokter Cho!” ucap Donghae layaknya anak yang patuh pada sang appa. Tawa kecil meluncur dari bibir tipis nan pucat Donghae. Dan seakan tertular, Kyuhyun pun ikut tertawa kecil menepuk pelan pipi sahabatnya itu.

Eunyoung yang mengistirahatkan diri di sofa, menatap wajah Donghae dengan nanar. Ya, pikiran itu muncul lagi. Takut. Hanya itu yang ia rasakan sejak tadi. Seperti biasa ia mencoba menghilangkan semua dengan merilekskan pikirannya, namun belum bisa. Eunyoung memilih diam, mengamati setiap perubahan besar yang terlihat pada suaminya itu. Donghae dengan pipi yang lebih tirus, topi rajut yang tidak pernah lepas dari kepalanya serta kulitnya yang sedikit pucat.

“Young-ah, kau lelah, nak?” tanya Leeteuk mengusir lamunan Eunyoung.

Ne? A-aniya, appa,” ucap Eunyoung dengan masih menatap Donghae dari tempatnya. Donghae menoleh mendengar jawaban dari Eunyoung yang terdengar datar. Kedua mata mereka bertemu, sebuah senyuman lagi diberikan Donghae untuk isterinya.

Baby, nakal lagi, omma?” tanya Donghae. Eunyoung hanya menggeleng, suaranya seakan tercekat, rasanya ia tidak mampu menahan emosi dan pikiran yang membalut dirinya.

Donghae tahu itu, mata Eunyoung yang mulai berkaca-kaca menyiratkan kalau isterinya itu tidak baik-baik saja. Senyumnya luntur seketika, menatap lekat mata Eunyoung, seperti biasa, ia menunggu isterinya mengatakan semua yang dirasa.

Gwaenchana, appa. Aku hanya lelah, sedikit,” Eunyoung menghela nafas sebelum ia memberikan senyuman menjawab tatapan mata Donghae.

Aigoo, appa dan omma, what a sweet couple!” sindir Kyuhyun.

Ya! Tidak ada yang aneh, Kyu. Mengapa kau menyindir begitu, bahkan kau dan Hyunnie sudah lebih dulu dipanggil Appa dan Omma oleh Jongjin,” protes Donghae. Pukulan lemah ia berikan pada sahabatnya itu.

Kyuhyun sekali lagi berhasil membuat suasana menjadi lebih ceria antara sepasang suami istri yang ada di hadapannya itu. Ia tahu apa yang mengganjal di pikiran Eunyoung sejak tadi mengenai keadaan Donghae, dan Donghae yang tahu betul istrinya sangat mengkhawatirkannya. Eunyoung akhirnya bisa tersenyum sedikit melihat ulah dua namja yang selalu seperti itu saat mereka bertemu.

“Ah iya, Jongjin sudah sembuh Kyu? Appa tidak melihat Hyunnie hari ini,” tanya Lee Teuk, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Ne appa. Hanya flu saja, Hyunnie sengaja off hari ini menemani Jongjin di rumah. Tadi sebelum aku berangkat demamnya sudah turun dan hari ini omma bilang akan mampir ke rumah bersama Jino,”

“Syukurlah, appa khawatir asma-nya kambuh semalam, waktu Hyunnie mengabari,” Lee Teuk jelas sekali memasang wajah khawatirnya. Kyuhyun tersenyum canggung pada Lee Teuk.

Mian, appa. Jongjin memang kemarin lepas dari pengawasan kami. Bahkan aku tidak tahu kemarin ia bermain ke rumah Seungbin, Jino yang mengatarnya,” Kyuhyun tertunduk tidak berani menatap Lee Teuk. Ia semakin merasa bersalah, membiarkan Jongjin bermain hingga malam kemarin, karena kemarin baik dirinya maupun Younghyun terlalu sibuk dengan tugas di rumah sakit.

Gwaenchana, ah sepertinya aku yang terlalu berlebihan pada cucuku. Kau masih ada pekerjaan bukan? Jangan biarkan pasienmu menunggumu,” ucap Lee Teuk cepat mengalihkan pembicaran kembali. Ia tahu Kyuhyun merasa tak enak padanya. “Appa juga ingin membeli makan siang untuk Eunyoung,”

“Ah iya. Appa makan siang bersama-ku nanti ya, setelah appa membeli makan siang untuk Eunyoung,” ajak Kyuhyun bersemangat. “Aku belum pernah makan siang bersama appa,” Donghae tertawa kecil melihat Kyuhyun menjadi seperti anak kecil di depan ayah mertua-nya.

“Baiklah, kau selesaikan urusanmu dulu, Kyu,” Lee Teuk ikut tertawa dan ia beranjak berdiri setelah sebelumnya mengecup kening Eunyoung untuk pamit keluar.

“Oke appa,” Kyuhyun tersenyum lebar. Ia berencana mengajak makan siang Lee Teuk agar Donghae dan Eunyoung mempunyai waktu bersama selagi mereka makan siang.

Appa tinggal dulu ya, Hae,” Donghae tersenyum mengangguk. Lee Teuk dan Kyuhyun pun meninggalkan kamar rawat Donghae.

Selepas Leeteuk pergi, Eunyoung dan Donghae kembali sibuk dengan keheningan masing-masing. Eunyoung benci keheningan itu, yang ada pikirannya makin bertambah kalut. Ia memutuskan bangkit dari duduknya, menghampiri Donghae yang berbaring lemah di tempat tidur.

“Ingin sesuatu, oppa?” tanya Eunyoung ragu.

“Tidak…” Donghae menggelengkan kepalanya lemah, dengan mata masih terpejam ia menjawab pertanyaan Eunyoung dengan singkat.

Eunyoung hanya bisa menghela nafas, bukan karena terlalu lelah tapi ada sedikit rasa bersalah karena berpikiran macam-macam tadi. Ia sangat tahu pasti Donghae mengkhawatirkannya dan mungkin sedikit kesal karena tidak jujur tentang apa yg ia rasa. Eunyoung menatap lekat wajah Donghae, mengusap kening suaminya yang sedikit lembab dengan tissue.

“Apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu, hm?” Donghae perlahan membuka matanya, menatap Eunyoung meminta penjelasan.

“Tidak ada. Sungguh,” elak Eunyoung, mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata sendu Donghae yang tajam menyelidik.

Donghae mendesah, perlahan ia bangkit, dan memberi space cukup untuk Eunyoung. Diraihnya tangan Eunyoung, bermaksud membantu isterinya untuk menemaninya di atas tempat tidur. Dengan keterbatasannya karena infus masih menancap di salah satu tangannya, Donghae dengan hati-hati membawa Eunyoung agar berbaring bersamanya.

“ah, chakamman,,,” Donghae melepas genggaman tangannya sesaat, meletakan satu bantal lagi di samping bantalnya. “Berbaringlah, kau terlihat lelah pagi ini,” Eunyoung diam dan hanya menuruti perkataan suaminya, memang sudah saatnya ia berbaring, punggungnya sering terasa sakit jika terlalu lama berdiri.

Donghae kembali berbaring, dan Eunyoung tiba-tiba langsung memeluk tubuhnya. Donghae secara refleks menyusupkan lengan kirinya ke belakang tubuh Eunyoung, membalas dekapan Eunyoung dengan membawa yeoja itu semakin rapat dengan tubuhnya.

Oppa, aku lelah…” ucap Eunyoung.

“Tidurlah, kalau kau lelah, aku juga lelah. Nyaman-kah seperti ini?” tanya Donghae. Ia biarkan Eunyoung bersandar di dadanya, masuk dalam dekapannya.

Ne, sangat nyaman,” ucap Eunyoung lemah.

Suasana kembali hening, hanya deru nafas teratur yang terdengar dari keduanya. Donghae dan Eunyoung terpejam, menikmati kehangatan yang terbangun karena tubuh mereka yang saling melekat. Tidak peduli matahari semakin terang bersinar, sepasang suami isteri itu masuk ke dalam keheningan pagi yang sungguh tidak biasa bagi keduanya.

Oppa…” panggil Eunyoung lemah. Donghae tidak menjawab, matanya masih terpejam, dan Eunyoung bisa merasakan detak jantung suaminya yang mulai teratur.

Eunyoung semakin erat melingkarkan lengannya, menghirup aroma tubuh lelaki yang sangat dicintainya itu. Nyaman dan hangat, selalu seperti itu yang Eunyoung rasakan saat berada dalam dekapan Donghae. Namun lama kelamaan bulir air mata meluncur indah dari sudut mata Eunyoung, bibirnya mulai bergetar, gejolak emosi yang sedari tadi ia tahan seakan siap meluap.

Oppa, aku takut, sangat takut…” ucapannya terhenti saat ia rasa Donghae mengelus punggungnya lemah, namun tidak ada respon berarti dari namja itu.

Eunyoung hening sesaat, menanti respon protes yang biasa ditunjukan Donghae saat mendengar keluhan sendunya. Donghae tetap diam, deru nafasnya masih teratur, mungkin sudah terlelap ke alam mimpi. Yeoja itu menghela nafas, bukan lega, tapi dadanya kian sesak akan suatu hal yang sedari tadi mengganggunya.

“Jangan pergi,” dua buah kata kembali terucap dari bibir Eunyoung yang bergetar. “Aku takut kau pergi, aku takut kau meninggalkanku, seperti Appa, Omma dan Oppa.” Kini air mata Eunyoung mengalir deras tanpa permisi membasahi pipinya.

“Apa sebenarnya salahku? Apa aku tidak berhak hidup bahagia dengan orang-orang yang aku sayangi? Kenapa Tuhan seakan ingin aku hidup sendiri? Sungguh, aku takut,” Eunyoung kian terisak, tidak peduli isakannya dapat membangunkan Donghae atau tidak, emosinya kini sudah meledak.

“Apa Tuhan begitu jahat padaku, oppa? Aku sungguh takut kau pergi, tidak bisa memeluku seperti ini, tidak bisa…” ucapan Eunyoung tercekat dengan isakan tangis yang kian menjadi. Racauannya melemah, bahkan tangisnya sudah membasahi baju pasien Donghae.

Tanpa sepengetahuan Eunyoung, Donghae membuka mata dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya, meredam tangis. Dari tadi, ia sebenarnya tidak tidur, ia tahu isterinya itu tidak baik-baik saja. Dan ternyata dugaannya benar, Eunyoung menahan emosi yang selama ini terpendam.

Pedih. Hati Donghae sakit mendengar emosi pilu Eunyoung yang mungkin sudah lama ditahan. Eunyoung masih terisak, terus meracau lemah. ‘Jangan pergi, aku takut,’ hanya itu yang terus menerus di dengar Donghae, hingga akhirnya yeoja itu terlelap lelah dalam dekapan Donghae.

Susah payah Donghae menahan sesak dalam dadanya saat mendengar semua ucapan Eunyoung. Pertahanannya kini hancur, tangisnya pecah, ia merasa menjadi suami paling lemah di dunia. Sekilas Donghae kembali teringat kondisi Eunyoung dulu yang begitu terguncang. Sejujurnya ia tidak ingin membuat Eunyoung kembali mengalami keterpurukan seperti dulu, tapi ia pun seakan lemah tidak berdaya memperbaiki keadaan ini semua.

Donghae meregangkan rangkulannya, ia tatap wajah sembab Eunyoung yang terlelap. Rasa bersalah kian memuncak, mendengar Eunyoung masih meracau sendu dalam tidurnya. Perlahan ia kecup bibir manis Eunyoung, berharap kecupannya dapat menggantikan mimpi buruk dalam tidur yeoja tercintanya itu.

“Aku tidak akan pergi, Eunyoung-ah. Tidak akan, jangan takut, aku tidak akan pergi, mianhae, Jagi, mianhae…” Donghae kembali merapatkan dekapannya dan terus menerus mengucapkan maaf, meskipun ia tahu semua itu tidak berarti apa-apa.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Aigoo,” Eunyoung terbangun, merasakan bayi dalam perutnya bergerak dan membuatnya sedikit tidak nyaman.

Hari sudah beranjak siang, tidak terasa hampir dua jam dirinya dan Donghae tertidur dalam posisi berpelukan satu sama lain. Eunyoung melepas rangkulannya dengan hati-hati bermaksud tidak membuat suaminya terbangun. Ia perlahan bangkit dan bersandar di kepala tempat tidur, mencari posisi nyaman.

Donghae menggeliat, merasa terusik dengan pergerakan Eunyoung. Ia pun mengerejapkan matanya, menyesuaikan sinar yang menyilaukan matanya.

Mian, oppa, sepertinya aku membangunkanmu,” suara lembut Eunyoung menyambut Donghae. Yeoja itu masih meringis sambil tersenyum kecil mengelus perutnya. Donghae bangkit dari posisi berbaringnya, dan kemudian ikut bersandar di samping Eunyoung.

Baby kenapa, Jagi? Aku terlalu erat memelukmu ya tadi?” tanya Donghae sedikit panik melihat ekspresi Eunyoung.

Aniya, justru baby sangat tenang tadi. Mungkin memang sudah waktunya bangun, oppa,” senyuman simpul terukir di wajah cantik Eunyoung.

Donghae ikut tersenyum, ia senang melihat wajah isterinya yang tidak lagi muram. Sejenak tersirat kelegaan di wajahnya, mungkin karena beban yang selama ini ia pendam sudah ia lampiaskan tadi.

Jagi, Saranghae, Jeongmal Saranghae,” Donghae mengecup lembut pipi merah nan sembab Eunyoung dan sukses membuat yeoja itu menatap heran padanya.

Eunyoung terdiam, perlahan menunduk, raut sendu kembali terpancar di wajahnya. Donghae yang melihat itu, refleks mengangkat dagu Eunyoung lalu memberi kecupan lembut di bibir isterinya itu. “Kenapa? Kau tidak suka? Apa aku tidak boleh mengucapkannya? Ah aku sungguh tidak suka melihatmu murung, aku pernah bilang kan, aku suka senyum…”

Nado, Nado saranghae, Donghae oppa, Jeongmal Saranghae…” senyuman lebar kembali menghiasi wajah Eunyoung.  “Aigoo, baby…” senyuman Eunyoung menipis, berganti rintihan kecil.

“Heiiy, baby cemburu pada kita, atau ikut senang karena omma-nya tersenyum, Jagi,” raut sepasang suami isteri itu berubah seketika. Eunyoung sedikit meringis sambil tertawa kecil mengelus perutnya. “Baby, kau benar-benar ingin menjadi pemain sepakbola ya, sayang?” ucap Donghae sambil tertawa kecil mengelus perut besar isterinya.

“Issh…kalau seperti ini caranya, omma bingung harus merestui atau tidak kau jadi pemain sepakbola, sayang,” Eunyoung merubah posisi bantal yang menyangganya, membuatnya menjadi sedikit lebih nyaman.

Keduanya menikmati moment dengan baby mereka, seakan lupa kesenduan yang menyelimuti keduanya beberapa saat lalu. Sesekali Donghae menempatkan telinganya di perut Eunyoung, mencari tahu apa yang sedang calon anaknya itu lakukan di dalam sana.

Baby belum punya nama, oppa. Aku sudah mencari beberapa nama bagus, tapi aku tidak pernah ahli memberi nama, ya, mungkin aku kalah kalau dibandingkan dengan Jongjin yang memberi nama baby Nemo,”

“Nemo, itu saja, bagus kan?” ucap Donghae tersenyum jahil.

Isshh, kau tega memberi nama anak kita dengan nama ikan? Bagus memang, tapi Nemo, mmm… aku membayangkan dia berwarna oranye dan bersirip, seperti di buku gambar Jongjin,” Donghae tidak bisa menahan tawanya, usulan nama Nemo untuk anaknya hanya bercanda, dan bayangan anaknya berwarna oranye, sungguh, ia baru tahu selera humor Eunyoung kurang begitu bagus.

“Oke, oke, aku pun tidak bermaksud membayangkan baby berwarna oranye dan bersirip, Jagi. Hmm…oke, biar aku pikirkan, namja kecil kita ini pasti akan lebih kuat dari anak lain, pintar dan selalu tersenyum,” Eunyoung mengangguk, menyimak setiap ucapan dari suaminya itu tentang anaknya kelak. Ia teringat perkataan Jihyun, Omma-nya Kyuhyun, setiap ucapan orang tua tentang anaknya kelak dapat dianggap sebagai doa dan harapan untuk anak itu nanti.

“Lee Younghae, namja kecil kita pasti tampan sepertiku, ia pasti mirip denganku. Younghae, young Donghae, little Donghae,” Donghae menatap Eunyoung bersemangat.

“Lee Younghae, hmmm..” Eunyoung mengelus perutnya yang besar, menimang-nimang keputusan untuk nama yang diusulkan suaminya itu. “Lee Younghae, Eunyoung Donghae, nama yang bagus oppa. Aigoo, Youghae-ya, kapan kau lahir, omma tidak sabar melihat setampan apa dirimu, sayang. Pasti lebih tampan dari appa kan?”

Keduanya larut dalam tawa, membayangkan bagaimana rupa, anak mereka kelak. Tidak peduli setampan apa, dan lebih mirip siapa, Eunyoung dan Donghae sangat menantikan Lee Younghae lahir di tengah-tengah mereka. Dan Donghae selalu berharap dalam hati kecilnya, kelak Younghae bisa seperti dirinya, menjaga dan terus berada di samping omma-nya.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Donghae besenandung lirih di balik kemudinya. Sesekali ia menoleh ke arah kanan, di mana Eunyoung, istrinya duduk memperhatikan tingkah lakunya sejak tadi. Donghae tak menghiraukan tatapan bingung Eunyoung, yang sejak tadi banyak mengajukan pertanyaan padanya. Namun alih-alih ia menjawab tatapan Eunyoung, Donghae meneruskan kegiatannya, bersenandung lagu Shining Star, lagu yang sangat ia sukai.

Oppa,” panggil Eunyoung.

Hmm,” Donghae hanya berdehem menanggapi panggilan Eunyoung.

“Kita sebenarnya mau kemana?” tanya Eunyoung. Ia sedari tadi bingung, karena Donghae tiba-tiba mengajaknya keluar. Dan ia lebih bingung lagi, tatkala ia tahu bahwa Kyuhyun dan juga Younghyun mengijinkannya keluar.

Hening. Hanya Donghae yang masih terus bersenandung. Kaca mobil yang berada di kanan kiri mereka terbuka, karena Donghae yang membukanya. Angin berhembus menyibak rambut mereka. Donghae sengaja mengurangi kecepatannya untuk merasakan hembusan angin dan ia menoleh pada Eunyoung dengan senyum yang terkembang penuh di bibir tipisnya.

“Kau pasti suka,” ucap Donghae singkat. Ia keluarkan tangan kirinya, membiarkan lengannya terhempas angin. Udara sejuk di tepian pantai adalah udara yang sangat ia nantikan, yang tidak bisa ia dapatkan di Seoul.

Ingatannya kembali pada saat di mana  ia dan Kyuhyun berada di Gwangju beberapa bulan lalu, udara khas pedesaan yang menyapa mereka. Namun udara itu tak bisa ia nikmati dengan maksimal karena tujuan mereka ke sana adalah untuk kegiatan sosial.

Oppa,” panggil Eunyoung lagi. Yeoja ini masih terus saja memanggil suaminya. “Kita mau kemana?”

“Sebentar lagi sampai, Jagi, bersabarlah.” sekali lagi Donghae hanya tersenyum riang menoleh sebentar ke arah Eunyoung yang mulai bersungut kesal di sampingnya.

Baby, appa-mu hari ini menyebalkan sekali,” ucap Eunyoung menggerutu kecil, mengadu pada baby dalam perutnya.

Sepanjang perjalanan, pemandangan pantai dengan langit biru cerah menyejukan mata mereka. Sejenak Eunyoung melupakan kekesalannya dan lebih memilih menikmati angin pantai yang menerpa wajahnya.

Tidak begitu lama, mobil mereka berhenti di sebuah tempat. Nampak dari luar sebuah bangunan putih yang cukup besar dengan dua pintu terbuka lebar, seakan menyambut pengunjung yang datang. Eunyoung yang sempat terpejam sesaat, perlahan membuka matanya, lalu menoleh ke arah Donghae, meminta penjelasan.

Mianhae, sepertinya perjalanan kita cukup panjang hari ini. Akhirnya kita bisa menemui mereka hari ini,” Donghae membantu Eunyoung melepas safety belt dan dengan segera ia keluar dari mobil. Eunyoung masih memandangi sebuah bangunan di hadapannya, dan ia semakin mengernyitkan kening saat ia tahu itu adalah bangunan yang di pergunakan untuk menyemayamkan abu kremasi.

“Ayo masuk, waktu kita tidak banyak hari ini. Kau tahu kan dokter Cho seperti apa, Jagi,” Eunyoung yang masih bingung hanya menurut saja apa yang dikatakan Donghae.

Donghae mengenggam erat tangan Eunyoung. Mereka bersisian masuk kedalam bangunan yang siang itu tampang lengang. Hanya beberapa orang saja yang datang dengan membawa beberapa tangkai bunga ataupun sebotol soju.

Wangi batang dupa yang dibakar menyambut kedatangan mereka. Dengan cepat, Donghae berjalan menyusuri koridor-koridor kecil yang tersekat menjadi beberapa blok. Seperti mencari alamat rumah, Donghae membaca satu persatu tulisan yang berada di ujung koridor. Wajahnya tersenyum lega saat ia menemukan blok yang ia cari.

Oppa,” Donghae dapat merasakan tangan Eunyoung gemetar dan dingin. Namun ia tetap menggandeng tangan itu hingga mereka berdiri tepat di depan sebuah altar. Entah altar siapa itu, yang jelas di sana terdapat tiga buah guci kecil dengan warna yang senada, berdiri berdampingan walau tersekat di tiga tempat.

“Kita sampai, Jagi. Annyeonghaseyo, omma, appa, hyung. Mian aku baru datang sekarang membawa puteri kalian yang cantik ini.” ucap Donghae, di depan altar guci yang bermarga Park.

Eunyoung melepas tangan Donghae yang masih memegang tangannya. Air mata mulai menganak di kedua sudut matanya. Telapak tangannya menutupi bibirnya yang kini bergetar, menggumam sebuah kata yang tak jelas terdengar.

Donghae membungkuk sopan di depan altar itu, memberi penghormatan pertamanya semenjak ia menikahi Eunyoung. “Ternyata Omma sangat cantik seperti Eunyoung,” pujinya, saat melihat frame foto yang menampilkan wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Eunyoung.

Isak tangis tak bisa di tahan Eunyoung lagi. Yeoja itu kini mulai membelai frame foto yang menghiasi setiap rak guci tersebut. “Omma, Appa, Oppa, akhirnya aku bisa bertemu dengan kalian lagi, sudah lama aku tidak…” Donghae merangkul punggung Eunyoung yang bergetar.

Appa, Omma,…aku…” tangis Eunyoung mulai pecah, ia tidak mampu lagi menahan emosi yang memuncak dalam dadanya. Donghae langsung mendekap Eunyoung untuk menenangkan.

“Kau tidak ingin menyapa mereka, Jagi?” Donghae melepas dekapannya, ditatapnya wajah Eunyoung yang mulai sembab, lalu menghapus air mata yang terus menerus membasahi pipi yeoja itu dengan ibu jarinya.

“Kau jahat, Oppa. Mengapa tidak memberitahuku sebelumnya?, aku tidak ingin seperti ini saat bertemu dengan appa dan omma,” Eunyoung memukul kecil dada Donghae. Menyesali, kenapa Donghae tidak memberitahukannya sebelumnya. Kalau saja ia tahu sejak awal, ia akan mempersiapkan diri terlebih dahulu dan membawa beberapa tangkai bunga anggrek, bunga kesukaan omma-nya.

Mian, menangis-lah kalau kau ingin menangis, Jagi,” Donghae mendekap tubuh Eunyoung lebih erat di dadanya. Eunyoung semakin terisak. Donghae mengerti, isterinya itu butuh waktu, setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan keluarganya kembali, walau kini mereka berada di dunia yang berbeda.

Omma, Appa,” gumam Eunyoung kembali membelai frame foto yang ada di altar itu dengan lembut. Air mata terus berlinang dari mata indahnya. Donghae membiarkan isterinya melakukan apa yang ia inginkan hingga emosinya kembali tenang.

Omma appa dan oppa-mu pasti sedih kalau kau menangis seperti ini. Mian aku tak memberitahumu, karena aku baru tahu saat Jae hyung memberitahuku sebelum ia pergi ke Amerika beberapa hari yang lalu,” Donghae hanya bisa mengeluarkan kata-kata penghibur untuk Eunyoung.

Setelah Eunyoung berhasil meluapkan emosinya. Eunyoung membungkuk sopan di depan altar dan mengecup satu persatu frame foto secara bergantian. Kesedihan dan linangan air mata yang tadi menghiasi wajah cantiknya, perlahan berubah menjadi senyum lega. Donghae yang melihat itu pun tak bisa untuk tak ikut tersenyum.

Jagiya,” panggil Donghae. Ia meyakinkan pikirannya dengan memanggil Eunyoung.

Gomawo, oppa, kau membawaku ke sini, mempertemukan aku pada keluargaku,” Eunyoung tersenyum hangat pada Donghae. Donghae mengangguk, sudah sepantasnya bukan kalau ia mengajak Eunyoung ke tempat ini setelah ia mengetahuinya. “Kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Appa omma oppa, aku pergi dulu. Aku janji aku akan datang kembali ke sini secepatnya, bersama Teuki appa dan Younghyun. appa yang kini menjagaku seperti anak-nya sendiri dan saudara-ku yang sangat menyayangiku.” sekali lagi Eunyoung membungkuk sopan memberikan penghormatanya sebelum ia pergi.

“Aku juga omma, appa, hyung. Kami pergi dulu. Kami akan datang kembali lain kali.” Donghae ikut membungkukan badannya. Lalu ia merangkul bahu Eunyoung, mengajak isterinya itu menuju tujuan mereka berikutnya.

OOooooooo-Moments…-oooooooOO

Oppa, aku tak menyangka pemandangan dari sini indah sekali. Sepertinya mulai sekarang aku akan menyukai pantai seperti oppa,” riang Eunyoung memandang takjub pada hamparan pantai dan birunya langit sungguh memanjakkan mata itu. Kini mereka tengah berada di pinggir dermaga dengan sebuah mercusuar yang menjulang tinggi di dekat mereka berada.

“Kau suka Jagi? aku ingin sesekali pergi ke pantai bersamamu, melangkah bersama sambil berpegangan tangan, duduk di dekat mercusuar ini, dan menunggu matahari tenggelam di ufuk barat sana.” Donghae tersenyum bahagia melihat Eunyoung tersenyum lepas seperti tanpa beban. Ia tahu isteri-nya itu akhir-akhir mencoba kuat di luar, namun hati-nya sangat rapuh di dalam.

Tak ingin menggagalkan tembok yang dibuat Eunyoung, Donghae mencoba mengikuti jalan permainan Eunyoung. Eunyoung menoleh, masih dengan senyum yang merekah layaknya bunga yang bermekaran di pagi hari, ia tatap mata Donghae sambil mengangguk.

Eunyoung menggenggam tangan Donghae dan mengangkatnya ke depan wajah mereka berdua. “Seperti keinginanmu, oppa, bergandengan tangan seraya duduk di dekat mercusuar dan menunggu matahari terbenam,” ucap Eunyoung. Mereka berjalan menuju bangku panjang yang tepat berada di samping menara mercusuar yang berwarna merah.

Dinginnya hembusan angin pantai sore hari menyibak wajah mereka. Mereka tertawa lepas menikmatinya. Walau begitu mereka tak sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka masing-masing. Pemandangan pantai sore itu membuat mereka benar-benar seperti liburan sebagai pasangan baru, sepinya pengunjung membuat momment mereka menjadi lebih indah.

“Ah oppa, scarf-mu.” Eunyoung melepaskan genggamannya pada Donghae dan membetulkan letak scarf Donghae yang sedikit bergeser. “Angin sore cukup kencang, oppa. Aku tak ingin kau kedinginan,” gumamnya kemudian kembali menggenggam tangan Donghae lagi.

Gomawo Jagi, sepertinya kita sudah terlalu lama berjalan tadi,” Donghae membimbing Eunyoung duduk dan mereka kini duduk bersebelahan sambil memandang hamparan laut dan langit yang sudah mulai meredup.

Gomawo oppa, kau telah mengisi hidupku. Kau membuat warna berbeda di hidupku. Kau tahu oppa, sebelum kau datang ke dalam hidupku, aku tidak bisa mengontrol emosiku saat mengetahui semua keluargaku telah tiada. tak ada lagi sandaran hidupku, tak ada lagi yang mengisi hidupku. Aku kesepian, aku sendiri, aku tidak kuat menganggung itu semua, sampai akhirnya kau datang oppa.” Eunyoung menghela nafas kemudian dengan mantap ia tersenyum ke arah Donghae. Eunyoung mencoba tegar dengan tidak menangis di hadapan Donghae. Sudah cukup, ya sudah cukup ia menangis di hadapan orang yang sangat berarti untuknya.

Jagiya, kau tahu, aku sangat menyayangimu sejak aku betemu denganmu, kau wanita yang mampu menaklukan hatiku dalam waktu singkat. Gomawo kau sudah mengisi hidupku, mulai sekarang hingga seterusnya jangan pernah kau merasakan seperti itu lagi, karena aku sangat menyukaimu saat kau tersenyum. Senyummu begitu indah Jagi, tak ada wanita yang mempunyai senyum seindah senyum milikmu.”

Eunyoung menoleh, dilihatnya Donghae tengah menatapnya dengan senyum riangnya yang sering ia tunjukan itu, senyum khas Lee Donghae, namja yang sangat ia cintai seumur hidupnya. Donghae mengusap perut Eunyoung, memberikan kehangatan pada bayi mereka di tengah-tengah kasih sayang appa dan omma-nya.

Donghae membelai pipi Eunyoung, mengecupnya lembut, menikmati setiap lengkuk dan sudut bibir Eunyoung dan menyimpannya secara permanent di otaknya agar tidak terlupakan. Eunyoung merespon ciuman Donghae, menikmati harum mint Donghae yang setiap hari ia rasakan tidak pernah berubah.

Saranghae, Eunyoung-ah…. yeongwonhi,” tatap Donghae.

nado saranghae, oppa.. Hae oppa,” balas Eunyoung sambil tersenyum manis.

Great! senyum itu, kau harus mempertahankan senyum itu Jagi,” ucap Donghae yang di balas dengan senyuman oleh Eunyoung. “Aku lelah, ingin tidur sejenak, boleh Jagi?” Eunyoung mengangguk dan menepuk pahanya agar Donghae merebahkan kepalanya di sana.

Perlahan Donghae merebahkan kepalanya di paha Eunyoung. Matanya menutup, antara lelah dan menahan silaunya langit yang mulai berubah menjadi warna jingga. Beruntung, bangku yang mereka duduki panjang, jadi Donghae bisa meluruskan kakinya.

Oppa, nyanyikan sebuah lagu untukku,” pinta Eunyoung sambil membelai pipi Donghae yang pucat dan tirus. Donghae menggenggam sebelah tangan Eunyoung dan mendekapnya dalam dadanya.

“Baiklah, as your wish, Jagi.”

She

May be the beauty or the beast

May be the famine or the feast

May turn each day into a heaven or a hell

 

She

May be the mirror of my dreams

The smile reflected in a stream

She may not be what she may seem

Inside her shell

 

She

Who always seems so happy in a crowd

Whose eyes can be so private and so proud

No one’s allowed to see them when they cry

Donghae menyanyikan lagu ‘She’ yang menurutnya sangat mewakili perasaannya saat ini dan seterusnya.

She

May be the love that cannot hope to last

May come to me from shadows of the past

That I’ll remember till the day I die

 

She

May be the reason I survive

The why and wherefore I’m alive

The one I’ll care for through the rough in ready years

Me

I’ll take her laughter and her tears

And make them all my souvenirs

For where she goes I’ve got to be

The meaning of my life is


She

She, oh she

 

“Lagu selesai, my princess,” ucap Donghae masih dengan mata terpejam. Ia telah mengabulkan permintaan Eunyoung. “Ini lagu sangat mewakili perasaanku, untuk saat ini dan seterusnya,” tutup Donghae. Hening kembali menyergap keduanya, hanya suara deburan ombak yang menghempas dinding pemecah ombak yang terdengar saling bersahutan.

“Aku suka lagu itu. Gomawo oppa, suaramu sangat merdu,” puji Eunyoung. Pandangannya tak lepas dari hamparan laut sejak tadi. Donghae hanya ber-dehem saja menanggapi ucapan Eunyoung. Eunyoung mengalihkan pandangannya pada Donghae, samar-samar ia tersenyum memandang wajah Donghae yang terlihat sangat lelah.

Matahari mulai berjalan menuju peraduannya di kala senja. Dalam hati Eunyoung berlonjak gembira, “Oppa, matahari mulai terbenam.” segera ia beritahu Donghae, namun Donghae hanya diam saja tak menjawab ucapan Eunyoung. “Kau tak ingin melihatnya, hmm? Tadi kau sendiri yang ingin melihatnya.” Eunyoung memilin lembut beberapa helai rambut Donghae yang tidak tertutup topi di dekat telinga, tanpa menghiraukan Donghae yang masih memejamkan matanya.

“Aku tahu, Jagi. Aku bisa merasakannya, aku hanya ingin merasakan hangatnya sinar matahari bersama yeoja yang aku cintai di kala terbenam bukan untuk melihatnya,” Jawab Donghae, membuat Eunyoung mengerucutkan bibirnya. “kau pasti sedang memajukan bibirmu lagi kan? Kau ini, kau sungguh jelek tahu, tersenyumlah my princess,”

Eunyoung membulatkan matanya, dari mana Donghae tahu kalau ia sedang melakukan itu. “Isshh, pasti saat ini kau sedang berfikir, kenapa aku tahu? Karena kau yeoja yang aku cintai” Donghae tertawa kecil saat dadanya di pukul pelan oleh Eunyoung. “Oke, oke, aku tidak akan menggodamu lagi,” Eunyoung ingin sekali memajukan bibirnya kembali namun ia takut Donghae tahu. Perlahan ia tersenyum memandang matahari yang telihat sangat indah saat terbenam.

“Semburat jingga-nya benar-benar indah, oppa.” gumam Eunyoung. Langit perlahan berubah menjadi gelap, hanya ada cahaya yang terpancar dari puncak menara mercusuar di dekat mereka dan angin-pun berhembus semakin kencang malam itu.

 

To Be Continue…

 

Annyeonghseyo, readers setia OLS^^, kenapa kita bilang setia, karena kalian masih mau baca cerita ini walaupun update–nya lama bangeeeeeeeeeeeett😦 Jeongmal Mianhae, kita update lama bgt, di protect pula😀, selain alasan kegiatan, mungkin karena terbawa emosi biar pas nanti sampai akhir, huhu… sedih mau berakhir, tapi emang harus berakhir, ^^ Udah pada bosen juga kan ya kkkkk~

Nah, pasti pada nanya Younghae kapan lahir? <<<< pede bgt😛 kata Eunyoung sebulan lagi *plaaak*

Oke, ga mau banyak omong deh, semoga cerita kita yang kayaknya panjaaaaang bgt ini bisa menarik hati dan memuaskan kalian, heuuu… silahkan feedback ^^ pasti banyak yg perlu di koreksi,, entah Chap ini ada sesuatu yang kurang mungkin ya??😀

Ditunggu Feedback nya…

 

Duo A-cha^^

Littleyounghae & Missdorky

106 Comments (+add yours?)

  1. sparkyuhyun
    Jul 02, 2012 @ 12:28:47

    Akhirnyaaaa muncul jg lanjutan ff ini! Udah kangen berat sama mereka berempat+jongjin haha
    Aigoo Jongjin nya lucu bangeeeet, bikin gemes aja *apaansih-_-*
    Seriously aku suka bgt sama kyuhyun-younghyun. Mereka mesra bgt ya, apalg yg pas diruangan nya younghyun itu. Aduuh suami-ku kok jd pervert gitu>//<
    Daaaan, aku rada parno yg bagian terakhir itu. Yg donghae bilang dia mau tidur, aku takut dia gak bangun2 lagi T_T
    Semoga baby nya cepet lahir yaaa! Trs donghae jg sembuh, sedih bgt bayangin si ikan dlm keadaan menyedihkan gitu:"

    Btw, aku sempet heran deh. Katanya part ini diprotect, tp kok pas aku baca gak diprotect ya?._. Apa udh dibuka lock nya?hehehe

    Part selanjutnya ditunggu ya duo authooor:)

    Reply

    • littleyounghae
      Jul 02, 2012 @ 12:42:50

      Kamsahamnida masih mau baca dan komentar di OLS^^

      Emang tadinya part ini di protect krn alasan tertentu, dan kita sempat buat tebak2an, ada beberapa yg berhasil nebak ^^ cuma mau tahu yg bener2 mau baca OLS, kan beberapa part lagi mau selesai, dan mungkin perlu review nanti di akhir ,,, Tapi thank you kamu masih mau baca cerita panjang bin aneh ini hehe😀
      Nah, kenapa kita buka protect, mengingat banyak ternyata yang kesulitan, akhirnya beberapa hari kemudian kita buka, memberi kesempatan readers untuk baca,

      Sekali lagi, Kamsahamnida, nnt saya sampaikan ke Jongjin, Younghyun dan Kyuhyun ^^

      Me n Missdorky ^^
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

      Reply

  2. choihaeyong
    Jul 03, 2012 @ 21:47:04

    Donghae apa dirimu bisa membaca pikiran orang? Wkwk😀
    Anaknya eunyong kapan lahir?
    Nasib anaknya younghyun gimana?

    Reply

  3. feliciafutabatei
    Jul 04, 2012 @ 19:57:46

    annyeong, authors ^^, ini aku yg uname nya Fridakyuhae😀 *mesti gak inget ya eon? U.u
    mianhae aku telat comment eon =.=V
    hae ama eunyoung makin romantis aje😀
    oh iya, younghae kpn lairnya tuu? Gk sabar, pny adik lagi(?) *plak
    oiya, aku pengen kyuhyun-younghyun moment nya dibanyakin donk thor, tp tanpa Jongjin.. Biar lbh romantis gitu xD *gakmaksa kok ^^
    next chapter don’t take anytime yaah Unniedeul ^^

    Reply

  4. ChoiCho
    Jul 04, 2012 @ 21:10:24

    holaaa annyeong admindeul ….

    hehehe sebenernya udah baca dari beberapa hari lalu,cuma baru sempet komen *bow

    and aku lebih suka part ini drpd sebelumnya..scene younghae romantis…
    jongjin juga lucu banget disini…
    daaaan couple 2hyun yg paling aku suka mau ngapain itu di ruangan younghyun?mau nostalgia dulu gitu di ruang pemeriksaan?? ~~~

    maaf ya kalo komen diriku selalu gg berbobot *bow…
    gamsahamnida….

    Reply

  5. nisakusmut
    Jul 05, 2012 @ 21:23:29

    sekian lama~ aku menunggu~ kelanjutan OLS~ datanglah~~~ *nada menunggunya ridho rhoma* #plakkkkk.
    yang ditunggu nongol juga..
    udah mau abis ya thor.. okeh di tunggu kelanjutannya..

    Reply

  6. lily
    Jul 06, 2012 @ 10:14:20

    setelah baca dari sekian banyaknya emosi yang naik turun akhirnya aku bisa comnent juga. maaf banget ya eon kalo tau wp ini baru 3 hri yang lalu. hehe
    donghae harus kuat, donghae harus sembuh biar bisa melihat kelahiran younghae terus membesarkan juga.. eunyoung harus kuat juga ya.
    kyuhyun makin romantis aja sama si younghyun, protectif banget sama si jongjin, saya suka itu.
    semua cerita bener bener menguras emosi. aku nggak bisa bayangin gimana nyatuin 2 pemikiran yang berbeda. ff nya 대박 !!! good job eonni :))

    Reply

  7. _chaeRim
    Jul 06, 2012 @ 12:57:30

    panjang bangeeett..
    khahaha😄
    makin rumit(?) jeje tiba2 pergi..
    semoga dy kembali laaahh..
    auwooo.. hahaXD

    kapan lahiran?? lama sekaliii..
    nunggu hari kan??
    aigoo ayoo lahiran biar si ikan cepet sehaaatt..
    *maksa author*
    *dlempar bakiak ma author*😄
    hwaiting!!

    Reply

  8. Yuanita
    Jul 10, 2012 @ 13:14:21

    Donghae oppanya hrs sembuh, biar bs ngeliat mereka jd keluarga bahagia. Jongjin nya lucu bngt, kyu oppa sm younghyun eonni nya syng bngt sm dia. Next chap jangan lama-lama ya eonnie hehe.

    Reply

  9. Dea
    Jul 14, 2012 @ 22:53:43

    huaaaa muncul FFny ><
    bentar lagi tamat ya? penasarn sih sama endingnya tapi pasti nanti kangen sama Eunyong sama Donghae😛
    huaaaaaaaa Pokoknya DONGHAE harus sembuh yaaaw :3
    ditunggu part selanjutnya :))

    Reply

  10. myeolchae
    Jul 18, 2012 @ 13:37:24

    Annyeong duo adminnya ^^
    Aduh mian ya admin aku baru muncul buat komen pdhal udah lama bacanya waktu masih diprotect *lamabener* ._.v
    Aku bukannya ga komen loh min tp komenku gamasuk” aja -_______-
    Di part ini tuh ada kalimat yg perlu dikoreksi *halah* itu pas waktu donghae sama eunyoungnya pergi k kremasi ortunya eunyoung aduh lupa kaliamat lengkapnya pokonya waktu d mobil ._.v
    Lucu nih disini jongjinnya ><

    Reply

  11. haeyyyyy
    Jul 20, 2012 @ 12:36:39

    Aigoo banyak netes nih di chapter ini, Donghae Eunyoung nya makin hem bikin envy wkwk. Lanjutin dong buruan cepet ayo *maksa ngebet* soalnya udah baca ini beberapa kali dan tetep aja bikin penasaran bgt sama kelanjutan nya. Terutama ending nya, pokoknya ga mau Donghae meninggal T^T

    Reply

  12. nemorella
    Jul 21, 2012 @ 12:11:24

    Jongjin-a noona padamuuuu…lucu banget siihhh..
    aku bayanginnya Jongjin kayak anak cowok gendut imut-imut yang fotonya pernah di upload sama Mochi..heheu

    Hae, romantic as always..that’s why i love you :*
    mudah2an dicerita ini dia bisa sembuh

    Reply

  13. erika
    Jul 29, 2012 @ 06:15:43

    Kakkk ceritanya keren bgt
    Uwaaaa bener-bener kebawa sama ceritanya
    Jangan bikin sad ending dong kak..
    Gk tega sama eunyoung..
    Semangat ya kak untuk lanjutannya!
    Ditunggu!
    Gomawo untuk ffnya ^^

    Reply

  14. minsy25
    Aug 09, 2012 @ 19:00:55

    Ya ampuuunnnn setelah sekian lamaaaa akhirnya aku baca lanjutannyaaa…
    Cerita OLS ini selalu aja membuat iri..romantisnya si donghae, tp makin cinta juga sm kyuhyun ..

    Btw, dokter kim minsy kemanaa ya? Kok ga diceritain lagi? *pengeneksis hehehhe

    Reply

    • littleyounghae
      Aug 10, 2012 @ 11:36:45

      Minsyyyyy😀
      akhirnya muncul kkkkk~

      nnt dokter kim haesi jadi… eh nanti lah , kkkkk~ nnt juga eksis mungkin sedikit tapi semoga jadi sesuatu hihi😀

      thank you masih mau baca, dan mianhae kelamaan update ahahaha:D

      Reply

  15. littleyounghae
    Aug 10, 2012 @ 11:41:35

    To all, thank you udh mau baca, mian yg ga di bales satu2, cm mau bilang ga pernah bosen bilang thank you untuk yg baca, yg meninggalkan komentar dan mengikuti cerita ini ^^
    next chapternya lama ya? hehehe😀 mianhae, semoga nanti klo udh publish bisa maklum kalo lama, heuuu…. *kembali bertapa*

    Reply

  16. irin
    Aug 16, 2012 @ 23:03:58

    ending di part ini knp bikin was was yah..seakan akan hae akan pergi jauh..
    #hush hush lupakan lupakan..hae sehat kok..iya kan thor?

    Reply

  17. Rista giana
    Aug 21, 2012 @ 21:32:24

    Baca part ini bener2 bikin deg2an takut bgt klw sampai hae oppa ga punya waktu lama lagi bener2 bikin aku sukses nangis bener2 ngerasain betapa takutnya eunyoung dan betapa cemasnya hyun couple tentang keadaan hae oppa,sekali lagi ga bosan berharap smg ada keajaiban buat hae oppa

    Reply

  18. Trackback: [Fanfiction] Our Love Story (Chap 18 – Destiny…) « misskyusuieworld
  19. mendreng
    Aug 28, 2012 @ 16:58:35

    kyaaa akhirnya dinner buat hae oppa sama eunyoung eonni kewujud :3 hyun couple jjang!!! ngahaha😄

    Reply

  20. AnisCLouds
    Aug 31, 2012 @ 20:28:18

    .moment yg manis ..
    .Jongjin takut x am Kyuhyun ..
    .kekkkekk ..
    .smoga cepat sembuh ..
    .smoga pasangan LabiL + pasangan gaLau sLaLu bahagia ..
    .ayo chingu yg baik hati dan tidak sombong . Bwt Lah keajaiban untuk mreka …
    .Lanjutttttttttttt ..

    Reply

  21. anggiie
    Nov 03, 2012 @ 07:50:29

    Berharap bgt akhir’a happy ending. Ga kuat baca’a nangis-nangis trus😦

    Reply

  22. Icha_sachie
    Nov 20, 2012 @ 08:12:40

    Huwaaaaa,eonni2 yg cantik nyesek bgt baca ni ff…

    Donghae oppa kasian bgt,g ngebayangin bsa kayak gitu..

    Huhuhu,

    Reply

  23. alifa
    Nov 25, 2012 @ 17:11:08

    semoga happy ending *big sigh*

    Reply

  24. Wei - Ni
    Mar 02, 2013 @ 14:54:21

    CKCCKCKC… Dr . Cho … ampun dah di ruang praktek sempat2 nya goda hyunnie … ( dasar otak mesum ) …. eh di tolak hyunnie malah cium bibir nya di depan para suster lagi …. ( geleng2 kepala )

    AIGOO … sumpah aq gemes bgt ( pengen nyubit ) sama Jongjin … lucu bgt sih tuh anak … bandel tp takut sam kyu hehehe … masa ke RS sendirian naik taksi sendiri ( emang sih ada samchun nya yg tau ).. gmn tuh kalo kyuhyun tau ? 9 di suruh tidur di garasi loh heheheheehe)
    lucu nya … jongjin bawa cupcake & ice cream buat BABY …. AIGOO KYEOPTA …

    kira2 nasib hae gmn yah ? kok kesannya HAE PASRAH sih ?

    Reply

  25. HalcaliGaemKyu
    Aug 13, 2013 @ 06:47:37

    Sedihnya…. Hue… ToT
    Huft.. Berat bgt jd eunyoung. Hrs merasakan ditinggal kmbli oleh org tercinta.
    Jatuh cinta itu hanya butuh waktu 1 detik, namun untuk melupakannya butuh waktu seumur hidup.
    Kata2 ini cocok untuk eunyoung.
    Aku suka ff ini krn rasa cinta keluarganya bgtu dlm. Seperti hyunnie yg sdh tdk memiliki kesempatan punya ank lg. Namun keluarga mereka menerima jongjin demi mereka. Jg kyu yg menerima hyunnie apa adanya. Itu.. Sangat… Mengharukan ToT

    KEREEEEEEEEEENNN!!!!

    Reply

  26. enkoi
    Nov 29, 2013 @ 10:57:44

    jungjin lucu amat y…kenapa dia takut banget ma kyu,kyu galak sih…ah terharu ma hae-eun pasti eunyoung sedih banget dah hamil besar eh suaminya malah sakit parah..

    Reply

  27. inggarkichulsung
    Mar 20, 2014 @ 23:06:39

    Bagus bgt ff nya, mengharukan banget story nya.. Meskipun terlihat lemah krn kondisinya tp Eunyoung dan donghae oppa berusaha slg menguatkan dan berusaha membuat moment2 ter7ndah dlmnhidup mereka

    Reply

  28. Cho In Hyun
    May 18, 2014 @ 09:39:30

    Ohh so sweet bngttt🙂 Donghae Eunyoung…Jongjin itu bikin gemes, dia Pinter mirip kyuhyun

    Reply

  29. Kim Heena
    Jun 04, 2014 @ 13:35:06

    ff ini bikin was-was aja…ahh aku ga tahan liatt Donghae Eunyoung merana gt…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@fanfict_palace

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Memories

June 2012
M T W T F S S
« May   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: