[Fanfiction] Our Love Story (Chap 13 – Keep Going On…)

Tittle          : Our Love Story – Keep Going On…
Length         : Multi chapter – chapter 13
Author         : missdorky & littleyounghae
Cast            :
–    Lee Donghae
–    Cho Kyuhyun
–    Park Eunyoung (OC)
–    Lee Younghyun (OC)
–    etc^^
Genre         : Romance
Rated         : PG-17

Notes         : FF ini merupakan project kolaborasi pertama dari dua penulis (littleyounghae dan missdorky) . FF ini salah satu cara untuk menunjukan cara kami dalam berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita…^^ Enjoy and feel the story… Happy Reading, don’t forget to give comments and We will appreciate it… ^^

Disclaimer     : Cast FF ini yang jelas bukan milik kami tapi Cerita FF ini murni dari otak kami berdua…. susah payah menggabungkan dua ide jadi satu karya, so… don’t be plagiator… and don’t be a silent reader.

A/N : Annyeonghaseyo  Akhirnya kami bisa muncul kembali kepermukaan… ^^ Buat Readers setia Our Love Story, Mianhae kalian lama menunggu untuk update-an FF ini… Umm untuk chap ini mungkin bisa di bilang hanya side story saja… tapi walau begitu ini termasuk kedalam bagian yang sangat meaning loh untuk di keluarkan sebagai penunjang jalannya kisah Our Love Story… Kami harap kalian tidak bosan dan enjoy dengan ceritanya…
Last word, Gomawo buat kalian yang masih ingin membaca FF kami ini dan meninggalkan jejak kalian di setiap chap-nya… *bow* Sampai ketemu di next-chap, semoga cepat di publish… dan kemungkinan aturan lama akan kembali diberlakukan *ketawaevil*See yaa~ ^_^

 

“Keep going on, even if the darknest envelops you totally, for light shall come soon to light up the way…
Keep going on, even if the waves roar at your feet, for calm will come and the waves will recede…
Keep going on, even if you feel totally worn out. The fruit you will get, will be unimaginably sweet.
Keep going on…… ^^ ”

Brankar di dorong masuk menuju ruang UGD. Keheningan rumah sakit pagi itu seketika pecah dengan suara tangis Eunyoung yang terus menggenggam tangan Donghae yang tengah terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam di atas brankar. Tangis Eunyoung semakin terdengar pilu, ketika ia memaksa menerobos masuk ke dalam pintu UGD yang hendak di tutup itu. Sekuat tenaga Kyuhyun menahan tubuh Eunyoung yang terus meronta di dekapannya, dan pada akhirnya Eunyoung menyerah, ia bersandar lemah di dada bidang Kyuhyun sambil terus terisak.

Younghyun memandang miris yeoja yang terus terisak itu sejak tadi. Ia usap bahu Eunyoung lembut, menyalurkan seluruh energi positif-nya agar yeoja yang ada di hadapannya itu tetap kuat dan tegar. Kyuhyun tetap memeluk Eunyoung yang masih menenggelamkan wajahnya di tengkuknya itu, tangannya ikut membelai surai panjang nan lembut milik Eunyoung.

“Apa.. apa Hae oppa akan baik-baik saja??” Tanya Eunyoung di sela tangisnya. Suaranya terdengar parau, bergetar dan terbata-bata. Hening, tak ada jawaban dari Kyuhyun maupun Younghyun, yang ada hanya-lah belaian lembut dari sepasang suami isteri itu.

“Jawab aku Hyunnie,, Kyu oppa… Hae oppa akan baik-baik saja kan?? Aku takut… aku takut kalau ia tak sempat melihat bayi ini lahir…” Tanyanya lagi, suaranya semakin lirih.

“Jangan berpikir macam-macam,Young-ah… Hae akan baik-baik saja… kita sama-sama berdoa di sini…” Jawab Kyuhyun akhirnya. Younghyun mulai terisak, sejak tadi ia menahan tangisnya agar tidak pecah, namun untuk saat ini ia tak bisa lagi membendungnya. Kyuhyun yang melihat itu, menggelengkan kepalanya dan menatap sendu Younghyun. Dengan segera, Younghyun menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Kyuhyun samar-samar tersenyum melihat isterinya itu mau mengerti dirinya.

“Tapi… Kalau sesuatu…”

“Jangan berpikir macam-macam, Young-ah..” Kali ini Younghyun buru-buru menyanggahnya, sebelum Eunyoung berpikir yang tidak-tidak mengenai kondisi Donghae.

Eunyoung kembali menangis, pikirannya benar-benar kalut. Bagaimana tidak kalut, saat ia hendak membangunkan Donghae untuk sarapan pagi, ia melihat Donghae terbaring tidak jauh dari tempat tidurnya. Kyuhyun dan Younghyun saling bertukar pandang menyaksikan Eunyoung yang terus menangis sejak tadi. Walau dalam hati Kyuhyun dan Younghyun sama sedihnya seperti Eunyoung, namun mereka mencoba untuk tetap bersikap tenang demi Eunyoung.

Tak lama seorang namja dengan pakaian casual-nya, yang biasa ia kenakan sehari-hari baik di rumah sakit atau-pun di luar rumah sakit datang dengan tergesa-gesa. Ia kemudian menghampiri Kyuhyun dan Younghyun serta Eunyoung yang duduk di antara mereka berdua.

“Jae oppa..” Panggil Younghyun yang pertama kali sadar akan kehadiran namja yang sudah sangat ia kenal itu. Dilihat dari penampilannya, ia sedikit berpeluh, menandakan kalau ia mungkin sehabis berlari.

“Oh Hyunnie… ada apa ini?? aku dengar dari security, Donghae dibawa menuju ruang UGD…” Panik Jaejoong. Ia kemudian melihat Kyuhyun yang masih mencoba menenangkan Eunyoung. “Young-ah,, gwaenchana??” Jaejoong merunduk, menyamakan tinggi-nya dengan tiga orang yang tengah duduk itu, mengusap bahu Eunyoung seperti yang di lakukan oleh Younghyun.

Eunyoung mengangkat wajahnya dari tempat persembunyiannya. Ia tatap mata bening Jaejoong dengan pandangan sendu, mata dan hidungnya memerah dan matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Eunyoung menggelengkan kepalanya, mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia sungguh tak kuat mengatakan sepatah kata-pun, yang ada hanyalah bibir itu kembali bergetar dan dengan segera ia gigit bibir bawahnya itu.

“Young-ah… aku yakin Donghae tidak apa-apa…” Jaejoong memajukan tubuh-nya sedikit dan menekuk kakinya dengan menumpu pada kedua lututnya, memeluk Eunyoung dengan penuh sayang.

Bersamaan dengan itu pintu ruang UGD terbuka. Donghae masih seperti tadi, matanya terpejam dan wajahnya terlihat semakin pucat di atas brankar yang membawa tubuhnya itu. Kyuhyun segera mendekati dokter yang keluar bersama Donghae.

“bagaimana keadaan Donghae, Dok??” tanya Kyuhyun menatap lekat sang dokter.

“Kondisinya saat ini sudah stabil.. namun ia masih belum sadarkan diri… Ia sudah bisa di pindahkan di ruang rawat biasa, dan tim medis akan terus memantau perkembangannya..” Jelas Dokter itu sebelum ia pamit meninggalkan Kyuhyun.

Oppa…” Parau Eunyoung berusaha bangun dari duduk-nya dan dekapan Jaejoong, namun belum sempat ia menapakkan kakinya tubuhnya terkulai lemas dan Jaejoong dengan sigap menangkap tubuh Eunyoung yang kini terpejam seperti milik Donghae.

“Young-ah… Omo!! Otteokae??” Younghyun menggigit bibir bawahnya, panik melihat saudaranya itu tak sadarkan diri. Kyuhyun segera mendekati Eunyoung yang sudah berada di gendongan Jaejoong.

“Aku akan membawanya ke ruang rawat..” Ucap Jaejoong dan segera meninggalkan Kyuhyun dan Younghyun.

“Iya, hyung… aku titip Eunyoung ya..” Ucap Kyuhyun dan ia merengkuh pinggang Younghyun dan membawa isterinya itu untuk mengikuti Donghae ke ruang rawatnya.

Sesampainya di ruang rawat Donghae, keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Donghae terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa selang infuse untuk mengisi cairan tubuh dan asupan makannya selama ia tidak sadarkan diri. Kyuhyun duduk di samping ranjang Donghae sedangkan Younghyun, ia memilih duduk di sofa, memperhatikan Kyuhyun yang tengah menatap wajah Donghae.

“Donghae-ya, sampai kapan kau mau terus terpejam seperti ini?? sudah hampir lima jam semenjak kedatanganmu di rumah sakit ini..” Kyuhyun menghela nafas dan mendekatkan wajahnya untuk berbisik di telinga Donghae. “Lebih baik kita bertengkar seperti biasanya dari pada harus diam-diam seperti ini…” Ucap Kyuhyun lagi. Suaranya begitu lirih, namun Younghyun yang berada lumayan jauh darinya, tetap bisa mendengar keluhan suaminya itu.

Kyuhyun mengulurkan tangannya di kepala Donghae. Ia hendak mengusap rambut Donghae yang kian hari semakin menipis dan tidak tertutup topi rajut itu, khusus untuk hari ini. Tangis Kyuhyun akhirnya pecah juga tatkala ia melihat rambut Donghae sebagian tertinggal di jemarinya. Pemandangan yang seringkali ia lihat di film-film, kini nyata di hadapannya, nyata dari seorang sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.

Harus Kyuhyun akui, Donghae sangatlah berarti untuknya. Berarti lebih dari seorang sahabat. Semua kenangan manis semenjak kuliah hingga di rumah sakit ini ia lalui bersama. Masih tersimpan dengan jelas saat ia bertemu dengan Younghyun untuk pertama kali, yah itu semua karena Donghae. Dua namja yang sepanjang hari selalu bertengkar namun saling menyayangi ini tak sengaja menabrak yeoja yang kini sudah menjadi isterinya itu. Pertemuan pertama yang tak akan pernah ia lupakan, dan ia sangat berterima kasih pada Donghae yang waktu itu mengajaknya bertengkar hingga terjadilah pertemuan itu.

Younghyun menghampiri Kyuhyun yang menunduk sambil menggenggam tangan Donghae erat. Hatinya ikut bergejolak saat melihat punggung suaminya itu bergerak naik turun karena terisak. Ia rengkuh punggung Kyuhyun dan ia telungkupkan wajahnya di tengkuk Kyuhyun, sedikit mencari perhatian dari sang suami. Kyuhyun mencoba meredam luapan emosinya dan kembali bersandar di bahu kursi setelah meletakkan kembali tangan Donghae dengan hati-hati.

Oppa…” Panggil Younghyun lembut.

“Hmm.. ada apa Jagi??” Tanya Kyuhyun, ia sentuh kepala Younghyun dengan tangan kirinya.

“Jangan bersikap seperti itu di hadapanku,, aku sungguh tidak kuat melihatnya oppa… kalau kau bersikap seperti ini siapa yang akan menyemangati Eunyoung nanti…” Ucap Younghyun tepat di telinga Kyuhyun. Dapat Kyuhyun rasakan hembusan hangat dari hidung Younghyun yang menggelitik daun telinganya.

Kyuhyun terdiam, memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya, karena apa yang dikatakan oleh Younghyun itu benar apa adanya. Ia menghela nafas panjang sekali lagi, kemudian menolehkan kepalanya menghadap wajah Younghyun yang masih berada di bahunya itu, tak lupa ia tersenyum pada Younghyun. Ia kecup perlahan bibir Younghyun, melumatnya, merasakan mint flavour dari mulut manis Younghyun. Younghyun tersenyum puas, ini yang ia inginkan dari suaminya, tetap kuat dan tetap tersenyum.

Hwaiting, oppa…” Younghyun melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun sebentar, kemudian ia mendekati Donghae dan membenarkan letak selimutnya yang sedikit tersingkap.

Oppa…” Kyuhyun menoleh ke asal suara, ia tahu itu bukan suara Younghyun. Dilihatnya Eunyoung berjalan masuk ke dalam ruangan dengan bantuan Jaejoong yang merangkul bahunya. Dengan tertatih-tatih, Eunyoung berjalan mendekati Donghae. Kyuhyun beranjak berdiri dari duduknya, mempersilahkan Eunyoung untuk duduk di sana.

“Young-ah..” Younghyun menggenggam bahu Eunyoung yang kembali berguncang. Eunyoung mengusap setiap lekuk wajah Donghae, berharap suaminya itu cepat bangun. Jaejoong baru saja memberitahunya kalau Donghae masih belum sadar, maka dari itu ia memaksa untuk datang ke ruang rawat Donghae, memastikan kalau suaminya itu baik-baik saja.

Oppa.. buka matamu… aku sudah datang dan akan menemanimu di sini sampai kau membuka mata…” Ucap Eunyoung lirih. Ia genggam erat tangan Donghae dan meletakkannya di pipi kanan-nya. Perlahan air mata Eunyoung ikut membasahi tangan Donghae, ia terus menatap Donghae dengan mata berkaca-kacanya.

Kyuhyun lebih memilih duduk di sofa dekat pintu masuk, membiarkan Younghyun menemani Eunyoung. Jaejoong mengikuti Kyuhyun, ia mendudukan dirinya di samping Kyuhyun dan tetap memperhatikan Eunyoung dari jauh.

Hyung kau tidak ada pasien hari ini??” Tanya Kyuhyun mengawali pembicaraannya. Walau ia sedang malas berbicara namun ia masih memandang Jaejoong sebagai orang yang lebih tua darinya.

“Ada, sebentar lagi aku ada jadwal untuk Sena…” Jawab Jaejoong sambil melirik jam tangan-nya yang hampir menunjukkan pukul tiga sore. “Kau sendiri tak ada jadwal??” Tanya Jaejoong balik.

“Hari ini aku cancel semua jadwal-ku… aku sudah minta izin pada appa dan appa menyetujuinya…” Kyuhyun kembali menghela nafas. Kejadian hari ini sungguh di luar rencananya. Baru saja ia akan mengabulkan keinginan isterinya untuk berkunjung ke rumah sahabatnya itu namun itu tidak jadi imereka lakukan.

“Ku rasa, Donghae harus mendapat perhatian ekstra, Kyu..” Jaejoong sesekali melirik kearah Younghyun dan Eunyoung yang masih berada di sisi Donghae.

“Iya kau benar hyung… dan aku ingin beberapa hari ke depan Hae harus di rawat di sini… setidaknya sampai kondisinya memungkinkan…” Balas Kyuhyun. Ia rebahkan punggungnya di sofa, memejamkan matanya mencoba beristirahat sejenak.

“Umm… Kyu, kurasa sudah waktunya aku mengontrol Sena..” Jaejoong berucap, membuat Kyuhyun membuka matanya dan ia juga beranjak mengikuti Jaejoong hingga ke pintu.

Gomawo, hyung untuk hari ini….” Ucap Kyuhyun yang mengantar Jaejoong pergi.

Cheonmaneyo… sudah seharusnya bukan…” Senyum terkembang di wajah Jaejoong, Kyuhyun hanya mengangguk tidak membalas senyum Jaejoong yang sudah mulai menghilang di balik koridor.

—————^ Keep Going On… ^—————

Malam menjelang, Younghyun mulai bergerak-gerak gelisah. Sudah berapa kali ia meminta Eunyoung untuk istirahat sejenak, mengingat dari tadi siang hingga saat ini Eunyoung belum memasukkan satu suap nasi-pun ke dalam mulutnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam yang seharusnya sudah memasuki jam makan malam. Walau terlihat sangat lelah Eunyoung tetap berada di samping Donghae dan bersikeras untuk menunggu Donghae hingga ia sadar.

“Young-ah… kau makan dulu yaa… tidak bagus untuk kesehatanmu dan juga bayimu..” Bujuk Kyuhyun, karena sejak tadi Younghyun sudah berkali-kali membujuknya namun tak juga dihiraukan oleh Eunyoung.

Aniya, oppa… aku akan makan kalau Hae oppa sudah sadar…” Ucap Eunyoung masih dengan jawaban yang sama seperti tadi siang.

Kyuhyun menghela nafas, kotak berisi makanan itu ia taruh kembali di meja nakas di samping ranjang Donghae. “Sepertinya aku harus memanggil appa, untukmu Young-ah… karena hanya appa yang bisa membujukmu…” Ucap Kyuhyun pada akhirnya.

“Jangan, oppa… aku tidak ingin membuat appa cemas dan beliau buru-buru datang ke sini… baiklah aku makan…” Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Eunyoung. Younghyun-pun ikut tersenyum, ia segera mengambil alih tugasnya, mengambil kotak makan itu untuk Eunyoung.

“Biar aku suapi, dan kau tetap bisa menggenggam tangan Hae oppa..” Ucap Younghyun. Ia menyendokan sedikit nasi dan mengangsurkannya pada Eunyoung.

“Aku bisa sendiri, Hyunnie..” Eunyoung mengambil sendok dari tangan Younghyun dan mulai memakan makananya sendiri. Younghyun menuruti apa keinginan Eunyoung dan ia hanya memantau saja. Di lihatnya Eunyoung duduk dengan tidak nyaman.

“kau kenapa, Young-ah??” Cemas Younghyun.

Aniya.. sepertinya bangku ini tidak nyaman.. aku susah untuk bersandar pada bahu-nya..” Ucap Eunyoung dengan sedikit memaksakan senyumnya pada Younghyun.

“Lebih baik kau duduk di sofa, Young-ah… setidaknya sofa lebih nyaman dari pada bangku kayu ini…” Kyuhyun yang baru kembali dari kamar mandi langsung menginterupsi percakapan Younghyun dan Eunyoung.

“Benar kata Kyu oppa.. ayo pindah ke sana..” Younghyun membantu Eunyoung menuju sofa dan Kyuhyun membantu membawa makanan Eunyoung.

“Lebih nyaman rasanya..” Eunyoung segera bersandar di bahu sofa, merenggangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama duduk di bangku kayu itu.

Younghyun terus menemani Eunyoung menghabiskan makanannya. Sudah berapa kali ia membujuk Eunyoung untuk menyuapkan makanannya lagi ke dalam mulutnya, karena Eunyoung hanya menyentuh sedikit makanannya.

“Aku sudah kenyang, Hyunnie… uugh… rasanya ingin keluar semua dari perutku..” Keluh Eunyoung. Younghyun mengangguk sambil mengangsurkan air mineral pada Eunyoung yang tengah menutup mulutnya, karena sesuatu mual.

“Okeeh… setidaknya kau sudah makan lebih dari separuhnya..” Ucap Younghyun penuh senyuman. Eunyoung hanya menatap kesal Younghyun yang mulai mengusap punggungnya membantu mengurangi rasa mual yang menjalar di perutnya karena ia sedang tidak nafsu makan saat ini. “Apa kau lelah?? Berbaringlah di sini… lagi pula hari sudah malam…” lanjut Younghyun seraya menepuk pahanya pelan.

Eunyoung menggeleng, namun Younghyun tahu saudaranya itu cukup lelah malam ini. Dilihat dari tubuhnya yang lemas, suaranya yang parau dan matanya yang sayu, menandakan kalau Eunyoung sangat butuh istirahat. Tak menyetujui ucapan Eunyoung, Younghyun meraih tubuh yeoja yang tengah mengandung itu untuk tidur beralaskan pahanya.

“Aku ingin tetap berada di samping Hae oppa, Hyunnie..” Protes Eunyoung. Ia ingin beranjak bangun, namun apa daya, perutnya yang sudah membesar itu membuatnya sulit untuk bangun. Yang ada ia hanya bisa pasrah dan sebenarnya tubuhnya sudah memberontak untuk menyuruhnya istirahat.

Kyuhyun beranjak mendekati Younghyun dan Eunyoung. Ia angkat kedua kaki Eunyoung setelah sebelumnya ia lepas sepatu flat berwarna pink milik Eunyoung dan meluruskannya, kemudian ia usap perut Eunyoung. “Kau harus istirahat, nanti kalau Hae bangun kami akan membangunkanmu..” Ucap Kyuhyun lembut.

“Tidurlah,, kami janji akan membangunkanmu nanti saat Hae oppa membuka matanya..” Tambah Younghyun seraya mengusap rambut Eunyoung lembut. Eunyoung menganggukan kepalanya dan tersenyum manis pada sepasang suami isteri yang berada di dekatnya itu, lantas mulai memejamkan matanya.

Younghyun bersandar di bahu sofa dengan tangan masih terus mengusap rambut Eunyoung lembut, Kyuhyun masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua buah selimut tebal. Ia memakaikannya di tubuh Eunyoung yang sudah terbuai kedalam mimpi itu dan untuk isterinya yang memangku kepala Eunyoung.

“Kau juga tidur, Jagi…” Kyuhyun menarik sofa kecil dan mengangkat kaki Younghyun agar ia bisa meluruskan kakinya.

“Kau juga oppa… ini sudah larut…” Balas Younghyun, ia memejamkan matanya menikmati kecupan lembut di keningnya.

Arasseo… Jagiya….” Kyuhyun meninggalkan Younghyun dan Eunyoung menuju sisi ranjang Donghae. Ia menelungkupkan kepalanya di ranjang Donghae sambil menggenggam tangan Donghae agar ia tahu pergerakan Donghae saat ia terlelap nanti.

—————^ Keep Going On… ^—————

Kyuhyun menggeliat pelan, saat tangannya berguncang. Ya, tangan-nya masih menggenggam tangan Donghae erat. Sedikit menyesuaikan cahaya yang baru saja di tangkap indra penglihatannya, Kyuhyun mengerjap pelan. Diangkatnya kepalanya yang terasa sangat pegal di bagian leher, dan di lihatnya seorang namja dengan senyum manis terkembang di wajahnya tengah tersenyum padanya.

Sejenak Kyuhyun hanya memandang Donghae dengan pandangan kosong. Namun saat tangannya kembali diguncang, Kyuhyun tersadar, segera melepas genggaman tangannya dan mengusap tengkuk-nya kikuk. Senyum langsung terkembang di wajahnya dan ia segera memeluk sahabatnya itu yang ternyata pagi ini  sudah membuka matanya lebih dulu.

“Kyu, hentikan!! Kau seperti anak kecil saja… lihat tangan-ku kram seperti ini dan sekarang kau ingin membuatku sesak nafas…” Bentak Donghae, tidak bertenaga sama sekali. Kyuhyun semakin memperlebar cengirannya dan matanya terlihat semakin sipit mengingat ia baru saja bangun tidur.

Aish dasar kau!! Leher-ku juga pegal…” Keluh Kyuhyun sambil memijit lehernya dan memukul-mukul bahunya dengan kepalan tangannya.

“Siapa suruh kau tidur dengan posisi seperti itu??” Ledek Donghae. Dan tiba-tiba suasana menjadi hening, setelah Donghae menyelesaikan kalimatnya itu. Tak ada balasan dari Kyuhyun, ia teringat kembali kejadian kemarin pagi. Dan Donghae merutuki kebodohannya yang mengatakan kalimat itu tadi. “Di mana yeoja-ku??” Tanya Donghae berusaha mengalihkan topik dan mengembalikan suasana seperti semula.

“Oh.. Eunyoung masih tidur bersama Hyunnie di sofa…” Jawab Kyuhyun. “Kau mau apa Hae??” Kyuhyun bangun dari duduknya dan berdiri mendekati Donghae.

“Aku hanya ingin minum… kenapa terasa jauh seperti ini…” Donghae berusaha duduk dari posisi tidurannya, ia ingin mengambil air mineral yang berada di atas meja nakas.

“Biar aku bantu…” Kyuhyun menekan tombol yang berada di bawah ranjang, menaikkan hampir setengah ranjang Donghae, kemudian mengambil gelas yang berisi air itu dan mengangsurkannya pada Donghae. Ia membantu mendekatkannya pada bibir Donghae, karena tangan Donghae bergetar saat ia memegang gelas itu. “Kau mau seperti ini atau berbaring lagi?” Tanya Kyuhyun setelah menaruh gelas itu kembali pada tempatnya.

“Seperti ini saja… Aku ingin memandang isteriku yang sedang tidur itu…” Ucap Donghae, melihat wajah isterinya yang damai, tidur di pangkuan Younghyun. Ia mendekap tangan Younghyun. Donghae kembali tersenyum, isterinya itu memang tidak bisa tidur kalau ia tidak mendekap sesuatu seperti boneka nemo-nya atau dirinya.

Tak lama Younghyun mulai membuka matanya, sinar matahari benar-benar sudah memenuhi ruang rawat Donghae, karena Kyuhyun baru saja menyibak gorden tinggi yang menutupi hampir satu sisi ruangan yang berbentuk persegi panjang itu. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tak ada yang berbeda sejak tadi malam, kecuali seorang namja yang menyambutnya dengan senyuman khas-nya pagi itu.

“Hae oppa…” Panggil Younghyun senang, hampir saja ia berteriak kalau saja Donghae tidak menaruh telunjuknya di depan bibirnya. “Syukurlah… Kau tahu oppa, kita semua sangat mengkhawatirkanmu…” Lanjut Younghyun. Ia menoleh, melihat ke arah tangannya yang masih di dekap Eunyoung.

Donghae lagi-lagi hanya mengukir senyumnya, tidak bersuara menanggapi kalimat Younghyun. “uugh…” Lenguh Eunyoung. Ia mulai menggeliat, matanya perlahan terbuka.

Mian… suaraku membangunkanmu ya, Young-ah?” Tanya Younghyun. Eunyoung menggelengkan kepalanya.

Oppa… kau…” Eunyoung membulatkan matanya, saat melihat Donghae tengah duduk memperhatikannya dari jauh. Ia segera beranjak bangun dari posisinya. “Kenapa kau tidak membangunkanku, Hyunnie… kau sudah janji bukan? tolong bantu aku duduk..” Pinta Eunyoung dengan sedikit kesal menatap Younghyun. Butuh sedikit perjuangan buat Eunyoung untuk bangun dan duduk.

Kyuhyun segera mendekati Eunyoung saat di rasa Younghyun sedikit kesulitan untuk membantu Eunyoung dengan posisinya sekarang. Lantas ia membantu yeoja itu bangun dan berjalan menuju suaminya. Ia tuntun perlahan tubuh Eunyoung dan mendudukkannya di kursi kayu di sisi ranjang Donghae.

Oppa… kapan kau bangun?” Tanya Eunyoung seperti anak kecil. “kau lama sekali tidurnya…” Donghae terkekeh kecil melihat Eunyoung menggembungkan pipinya. Gemas, ia pun segera mencubit pipi Eunyoung.

“Baru saja… dan aku memang sengaja tidak ingin membuat-mu bangun, Jagi…” Ujar Donghae. Ia sangat mengerti kekhawatiran yang terpancar jelas di wajah isterinya itu. Eunyoung hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja dan mencoba tersenyum pada Donghae. “Kau masih mengantuk, hmm?? Sini berbaring di sampingku..” Pinta Donghae, ia menggeser tubuhnya ke sisi kiri ranjang.

Aniya… Isssh kau oppa… di sini masih ada Hyunnie dan Kyu oppa…” Eunyoung semakin menggembungkan kedua pipinya. Membuat Donghae tidak tahan dan langsung mencium satu sisi pipi itu dan sukses membuatnya kempes seketika.

“Memang kenapa kalau ada mereka, toh mereka berdua juga sedang…” Donghae terkekeh geli melihat Kyuhyun yang tengah memijat kaki Younghyun yang kram karena semalaman memangku kepala Eunyoung.

Eunyoung menoleh untuk membuktikan ucapan Donghae. Dan itu memang benar. “Hyunnie mianhae, pasti kau lelah… semalaman tidak bergerak sama sekali..” Sesal Eunyoung.

Gwaenchana… aku tidak keberatan, karena kau yang aku pangku… saudaraku bukan orang lain…” Ucap Younghyun seraya tersenyum sambil sesekali meringis, saat pijatan Kyuhyun mengenai titik yang sensitif.

“Lebih baik kalian pulang dan istirahat… Gomawo telah menemani Jagi-ku yang cantik ini semalaman…” Donghae mengusap kepala Eunyoung lembut.

Issh oppa kau bicara seperti sama orang tak kenal saja… aku dan Kyuhyun oppa tak akan keberatan melakukannya…” Younghyun berucap diikuti anggukan Kyuhyun yang sudah selesai memijatnya.

“Baiklah… tidak apa-apa kalau aku tinggal, Hae?” Tanya Kyuhyun sedikit ragu, untuk pulang ke rumah atau tetap tinggal.

“Iya, seperti yang kau lihat sendiri… dan kau Jagi, lebih baik kau pulang bersama Hyunnie dan Kyuhyun…” Pinta Donghae yang langsung mendapat tolakan keras dari Eunyoung.

“Aku tidak mau pulang… aku akan tetap menemanimu di sini, oppa…” Sungut Eunyoung memalingkan wajahnya dari Donghae.

“Hei,, kau tidak usah marah seperti itu Jagi… nanti wajahmu yang cantik ini, akan terlihat tua dan cepat berkeriput… dan kalau sudah menjadi seperti itu aku tidak akan memandangmu lagi…” Goda Donghae, meraih dagu Eunyoung dan menatapnya lekat. “Baiklah aku tidak akan mengirim-mu pulang ke rumah…”

“Ya sudah… Lanjutkan kemesraan kalian berdua… aku akan menelpon Jae hyung untuk mengontrolmu selama aku tidak di rumah sakit…” Ucap Kyuhyun seperti sebuah sindiran bagi Donghae dan Eunyoung. Eunyoung tertunduk dengan wajah yang merona sedangkan Donghae berdecak kesal, menatap Kyuhyun dengan pandangan untuk segera meninggalkan tempatnya.

Kyaaa… Oppa, apa-apaan kau…turunkan aku…” Pekik Younghyun kaget. Kyuhyun tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Donghae dan Eunyoung terkikik geli melihat pasangan yang kadang-kadang terlihat konyol itu.

“Aku tahu kau sulit berjalan, Jagi…” Bisik Kyuhyun di telinga Younghyun. Kedua pipi tembam Younghyun seketika merona, ia segera menyembunyikannya di tengkuk Kyuhyun. Dan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan Donghae dan Eunyoung.

Jagi, kemarilah… sudah tidak ada orang di sini kecuali kita berdua…” Donghae kembali bergeser di sisi kiri ranjang. Eunyoung naik ke atas ranjang setelah sebelumnya menurunkan posisi ranjang Donghae menjadi mode normal. Ia peluk tubuh isterinya itu dan mendekatkan hidungnya di puncak kepala Eunyoung.

Eunyoung menenggelamkan wajahnya di dada Donghae. Melingkarkan kedua tangannya dan menyusup di pinggang suaminya erat, hingga perutnya yang besar itu menyentuh perut Donghae. Donghae mengecup kening Eunyoung terus menerus, seakan ia rindu sekali melakukan kegiatan ini. Tak lupa ia juga menghirup aroma apel dari rambut Eunyoung yang sangat ia suka.

Oppa..” Panggil Eunyoung.

“Hmmm…” Balas Donghae sekena-nya, ia masih asik dengan kegiatannya.

“Ku mohon… Kau jangan sakit lagi… jangan membuatku khawatir lagi, oppa…” Pinta Eunyoung lirih. Donghae terkejut mendegarnya, hingga ia berhenti dari kegiatannya dan kini ia memandang lekat wajah Eunyoung.

Mianhae…” Hanya itu kata yang mampu terucap dari mulut Donghae. Ia tahu, ia tak mungkin membuat janji dengan Eunyoung. Namun ia juga tak ingin membuat isterinya itu sedih karena-nya. “Mianhae Jagiya..” Ucap-nya lagi.

“Aku mohon oppa… aku…”

“Sssst… kau bicara apa Jagi…” Potong Donghae. Ia membalas pelukan Eunyoung dengan tangan kirinya karena tangan kanannya ia pergunakan untuk alas kepala Eunyoung, walau begitu ia masih bisa mengusap kepala Eunyoung dengan tangan kanannya itu.

“Aku takut…” Hati Donghae seakan mencelos dari tempatnya mendengar ucapan Eunyoung. Perasaan ini muncul kembali, perasaan bersalah karena cepat atau lambat ia akan meninggalkan Eunyoung, juga perasaan sesal terhadap takdir yang telah menggariskan kehidupannya seperti ini.

Oppa… Aku tidak sabar melihat bayi kita lahir…” Donghae menggigit bibir bawahnya kuat, tak peduli kalau gigitannya itu akan meninggalkan luka di bibirnya. Ia tahu, luka batin Eunyoung akan lebih besar setelah ia benar-benar pergi meninggalkannya.

Oppa… aku benar-benar takut…” Donghae merasakan sesuatu yang basah membasahi piyama-nya. Yang ia yakini adalah air mata Eunyoung. Segera ia kecup kembali puncak kepala Eunyoung, membiarkan rasa ini bergejolak di dada-nya. Ia lagi-lagi tak tahu apa yang harus ia ucapkan pada Eunyoung.

Oppa…” Tangis Eunyoung benar-benar pecah sekarang. Isakannya terdengar seperti raungan kesedihan yang mendalam di dada Donghae. Donghae tersenyum getir dengan air mata yang mulai menganak di sudut matanya dan siap tumpah kapan saja.

“Kita baru saja mengawalinya, oppa… aku tak sanggup kalau aku harus kehilangan-mu… Jeongmal saranghae…” Donghae menggembungkan pipinya, berusaha mati-matian menahan air mata. Ia eratkan pelukannya, menjaga dan melindungi Eunyoung agar tidak terlepas dari sisi-nya. Donghae menutup mata dan cairan bening itu mulai merembas mengalir dari sudut matanya walau ia sudah sekuat tenaga memejamkannya.

Jagiya… apa kau sudah menyerah dengan semua ini??” Tanya Donghae pelan. Eunyoung menengadahkan kepalanya menatap Donghae. Kemudian ia gelengkan kepalanya saat dilihat mata Donghae berlinang air mata.

“Aku butuh spirit dari orang yang aku cintai untuk melawan ini semua…” Donghae kembali mengecup puncak kepala Eunyoung yang entah sudah keberapa kalinya ia lakukan pagi itu.

Mian oppa… Aku…”

Gwaenchana… Nado saranghae Jagi-ku…”

Oppa…”

“Hmm….”

“Aku masih mengantuk…” Eunyoung kembali menenggelamkan wajahnya.

“Tidurlah… aku akan di sini menemani-mu…” Bisik Donghae lembut.

Ada senyum di wajah Donghae, walau senyum itu terlihat getir karena kenyataan yang pahit ini. Kalau ia dapat memilih, ia ingin memiliki Eunyoung hingga rambut mereka memutih, serta menjalani kehidupan hingga kakek nenek.

—————^ Keep Going On… ^—————

Younghyun dengan wajah cerah menyusuri koridor rumah sakit pagi ini. Dengan pakaian santai, celana jeans dan kaus putih berbalut blazer hitam, Younghyun melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Donghae. Tidak lupa tas berukuran sedang ia jinjing di tangan kirinya dan tas kecil yang tersampir di bahu kanannya. Ya, sejak Donghae diharuskan di rawat, Younghyun dengan senang hati bolak balik ke rumah sakit untuk membantu Eunyoung membawakan keperluan mereka dari rumah, mengingat usia kehamilan yang semakin bertambah, tentu sulit kalau Eunyoung harus bolak balik rumah dan rumah sakit.

Setelah sampai di depan pintu ruang rawat Donghae, Younghyun dengan perlahan mengetuk dan membuka pintu agar tidak mengganggu Donghae yang biasanya belum bangun sepagi ini.
‘Tok… tok…’
Benar dugaannya, sepasang suami istri itu masih terbaring di tempat tidur yang ukurannya berbeda dengan tempat tidur pasien biasa. Siwon sengaja mempersiapkan ini semua, karena Eunyoung bersikeras ingin selalu berada di samping Donghae selama di rumah sakit.

Younghyun mendekati tempat tidur mereka dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara yang membangunkan mereka. Younghyun tersenyum iri melihat Donghae dan Eunyoung. Mereka berdua terpejam dalam kehangatan, Eunyoung yang bersandar di dada Donghae terlihat menikmati kehangatan tubuh suaminya dan salah satu tangan Donghae yang terulur mengelus lembut perut Eunyoung yang kian hari bertambah besar. Tunggu, mereka tidak tertidur… melainkan terpejam sambil menikmati suasana pagi. Donghae mendekap erat tubuh Eunyoung, membuatnya semakin rapat dengan tubuh isterinya.

Jagi… I want a kiss…” Donghae dengan nada manja dan sambil terpejam mendekatkan bibirnya ke wajah Eunyoung.

“Eheemmm…” Younghyun sengaja berdehem menginterupsi kegiatan Donghae dan Eunyoung yang semakin membuatnya merindukan Kyuhyun, suaminya.

“Hyunnie… kau sudah datang?” Eunyoung tersentak kaget melihat Younghyun yang sudah berada di dekat mereka sambil tersenyum geli melihat dirinya dan Donghae. Eunyoung segera melepaskan diri dari dekapan Donghae, wajahnya mulai bersemu merah.

Aishhh… Hyunnie, kau ini aku belum mendapat vitamin pagi dari isteriku…” Donghae berkeluh kesal menatap Younghyun yang mencibirnya. Ia kembali berusaha merengkuh Eunyoung yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur.

Oppaaa… kau ini…” Eunyoung mencubit kecil lengan Donghae dan membuat suaminya itu mengaduh sambil tersenyum.

Ya! Ini sudah pagi… sampai kapan kau mau berbaring seperti itu, Oppa? Ishh… ikan malas…!” Younghyun kembali mencibir Donghae dan membuat Eunyoung terkekeh geli.

Ssshhhh… baby….” Tiba-tiba senyuman Eunyoung berubah menjadi rintihan dan sesekali ia mengelus perutnya. Donghae dan Younghyun mendekat ke arahnya dengan raut panik.

Jagi… gwaenchana?” tanya Donghae lalu ikut mengelus lembut perut Eunyoung.

“Young-ah, apa sakit? Apa perlu ku panggilkan dokter Kim?” Younghyun yang tidak kalah panik ikut mengelus perut Eunyoung. Namun Eunyoung malah tertawa kecil sambil meringis menikmati setiap gerakan di perutnya.

Gwaenchana… kalian seperti tidak tahu saja, calon namja kecil ini kan suka cari perhatian dan tidak bisa diam… pasti ia tahu appa dan imo-nya yang menyayanginya ada di sini, makannya ia cari perhatian… aigoo, baby… sampai kapan kau bermain-main, hm??” Eunyoung tersenyum simpul sambil sedikit meringis.

Chu~
Donghae mengecup perut Eunyoung lalu mengelusnya perlahan. “Baby.. apa menyenangkan bermain di dalam sana, hm? kau tidak sabar keluar dari perut omma, ya?”

Aigoo… sudah dapat dipastikan pasti ia akan sangat mirip dengan Appa-nya, tidak bisa diam, suka mencari perhatian, siapa lagi kalau bukan dirimu, oppa? Padahal Omma-nya sangat manis dan pendiam…” Younghyun kembali mendekat ke arah perut Eunyoung sambil mengusapnya. Donghae dan Eunyoung hanya tertawa kecil mendengar analisa Younghyun tentang bayi mereka.

“Hyunnie, mian… bisa aku minta tolong… aku ingin mengambil air minum…” Eunyoung berusaha turun dari tempat tidur sambil berpegangan pada Younghyun.

“Tidak perlu turun, biar aku yang ambilkan.…” Younghyun menahan Eunyoung agar tetap duduk di tempat tidur lalu ia berjalan menuju dispenser di sudut ruangan.

“Kau sendiri ke sini, Hyunnie? Tidak bersama Jino?” tanya Donghae.

“Iya, oppa… aku sendiri ke sini… Jino sedang menemani omma belanja, sebagai hukumannya waktu itu karena pulang tiba-tiba…” Younghyun kembali menghampiri Eunyoung lalu mengangsurkan segelas air putih pada Eunyoung.

Jinja? Ahahaha… bisa ku bayangkan pasti sepanjang jalan ia hanya menggerutu kesal…” Donghae turun dari tempat tidur dan menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. “Lalu kau? Biasanya omma-nya Kyuhyun selalu memintamu menemaninya belanja kan?”

“Kan ada Jino, biar Jino mendapat hukuman, oppa… lagipula aku sudah janji menemani kalian di sini hari ini…” Younghyun tersenyum riang menatap Eunyoung dan Donghae bergantian.

Mianhae, Hyunnie, kami selalu merepotkanmu dan Kyuhyun, ah seandainya aku tidak terjatuh waktu itu… Tapi aku yakin aku tidak apa-apa…” Donghae dengan santai berucap sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.

Oppa… kalau kau bicara seperti itu lagi, aku akan marah padamu, kalian memang keluarga bagiku dan Kyuhyun oppa…” Younghyun menatap kesal pada Donghae, sedangkan Eunyoung mulai merunduk sedih.

“Oh, iya, kemarin Kyuhyun tidak mengunjungiku seharian, ku kira pagi ini ia akan datang bersamamu ke sini? Biasanya ia suka memerintah ini itu padaku… Apa akhir-akhir ini pasien yang ditanganinya banyak, Hyunnie?” Donghae mengalihkan pembicaraan setelah melihat perubahan wajah Eunyoung namun justru membuat Younghyun sedikit terkejut dan bingung menjawab pertanyaan Donghae

Younghyun masih terdiam, entah jawaban apa yang akan diberikan pada Donghae. Memang sejak kemarin Kyuhyun pergi ke Gwangju untuk mencari Jongjin, kejutan kecil yang semula disiapkan Eunyoung untuk ulang tahun Donghae, namun sempat tertunda karena Donghae yang tiba-tiba sakit. Younghyun dan Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk mengambil alih semua rencana Eunyoung tanpa Eunyoung ketahui. Hari ini, dua hari lagi ulang tahun Donghae, Kyuhyun masih belum memberi kabar pada Younghyun bagaimana ia di Gwangju, dan saat Donghae bertanya, Younghyun bingung harus memberi alasan apa agar pasangan suami isteri itu tidak curiga akan kejutan itu.

“Hyunnie…!” panggil Eunyoung sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Younghyun agar Younghyun sadar dari lamunannya. “Kenapa kau diam? Mmmm…. Apa kalian ada masalah lagi?” tanya Eunyoung hati-hati.

“Oh, aniya… Kyuhyun oppa… mmm… Kyuhyun oppa..

……Gyeou garyeogo maeumeul jaba geochin pokpungcheoreom millyeowatda
machi bitmulcheoreom jiwojil unmyeongigetjiman
Kkaejin geoul wie maejeojin inyeonboda deouk apatgie
I georeumui kkeuteul bonaeneun maeumeul neon moreugetji…..

Ucapan Younghyun terhenti saat terdengar ponselnya berbunyi, hatinya melonjak kegirangan saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Oppa…” gumamnya sambil tersenyum. Ia sangat berharap ada berita baik yang dikabarkan Kyuhyun melalui panggilan telepon ini. Younghyun dengan segera menjawab panggilan telepon dari Kyuhyun.

Yoboseyo, oppa…” jawabnya sambil tersenyum.

“Kau ada di rumah sakit, Jagi?” tanya Kyuhyun di seberang telpon.

Ne~ aku sudah di sini, Eunyoung dan Donghae oppa baru saja bangun tidur…” ucapnya riang, sekaligus memberiitahu kalau mereka harus bicara hati-hati agar tidak mencurigakan. Belum sempat Younghyun mendengar balasan dari Kyuhyun, ponselnya sudah diambil alih oleh Donghae yang diam-diam mendekatinya dari tadi.

Ya!! Dokter Cho!! Kau lupa dengan pasienmu yang satu ini, kemarin kau lupa tidak mengontrolku? Aku juga pasienmu kan?” Donghae dengan panjang lebar mengeluhkan sikap Kyuhyun yang tidak menemuninya sejak kemarin.

“Ya!! Lee Donghae! Aku sedang bicara dengan isteriku… kembalikan ponselnya pada Hyunnie-ku..” Kyuhyun tidak kalah ketusnya memprotes tindakan Donghae.

“Apa hari ini kau yang akan mengontrolku? Mmm… aku sudah mengikuti saranmu dan perintahmu…..” layaknya anak kecil yang mengadu, Donghae terus berbicara pada Kyuhyun.

“Aku sibuk hari ini, Hae… biar appa atau Jae hyung yang mengontrolmu hari ini, sudah cepat kembalikan ponselnya pada Hyunnie-ku…” Kyuhyun kembali ketus menanggapi ucapan Donghae.

“Kyu, isterimu……” tiba-tiba Eunyoung mengambil ponsel Younghyun dari tangan Donghae lalu menyerahkannya kembali pada Younghyun.

Oppa, kau ini keterlaluan sekali… Kyuhyun oppa kan ingin bicara pada Hyunnie…” Eunyoung menatap wajah suaminya dengan tatapan kesal dan Donghae-pun akhirnya terdiam.

Yoboseyo, oppa… ini aku…” Younghyun kembali mengambil alih percakapannya dengan suaminya.

“Aisshhh… Lee Donghae… bisa kau menjauh sedikit dengan mereka, Jagi? Ada yang harus aku beritahu mengenai Jongjin…” ucap Kyuhyun sedikit lemah.

Younghyun sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu menoleh pada Donghae dan Eunyoung. “Oppa, Young-ah, mian, sepertinya sinyal di ruangan ini kurang bagus… aku keluar sebentar ya…” Younghyun segera keluar setelah memberi alasan yang masuk akal agar Donghae dan Eunyoung tidak curiga.

Oppa, aku sudah di luar… jadi bagaimana? Kau sudah bertemu dengan Jongjin? Apa dia mau di ajak ke Seoul?” Younghyun dengan hati-hati berbicara pada Kyuhyun agar Donghae dan Eunyoung tidak mendengar percakapannya.

“hhhhh~” terdengar Kyuhyun menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Younghyun. “Sampai saat ini, aku belum bisa menemukan keberadaannya, hampir seluruh Gwangju aku cari, namun belum ada info mengenai Jongjin…”

Ottokhae? Rencana kita bisa gagal kalau tidak ada Jongjin… Oppa yakin sudah mencari di setiap sudut Gwangju?” panik Younghyun.

“Tidak perlu panik begitu, Jagi… aku masih akan berusaha, mungkin hari ini akan ada info. Bagaimana perkembangan Donghae? Apa sudah lebih baik?” Kyuhyun berusaha mengalihkan kepanikan isterinya dengan menanyakan hal lain.

arrasso… Kau harus membawanya ke Seoul, oppa, aku tidak mau tahu…” ucap Younghyun pasti. “Oh, iya, Appa belum mendapatkan hasil dari pemeriksaan lanjutan mengenai penyakitnya, tapi sejauh ini Donghae oppa terlihat lebih baik…” lanjutnya.

“Ah, syukurlah… memang butuh waktu beberapa hari lagi, baru hasilnya akan keluar… Kau lelah tidak, Jagi, bolak balik ke rumah sakit? Appa dan Wookie hyung belum tiba dari Busan?”

Aniya… aku senang membantu Eunyoung, tadi bayinya bergerak lagi, oppa.. ku rasa ia tidak sabar untuk dilahirkan… Appa dan Wookie oppa belum datang, mungkin hari ini atau besok mereka sampai Seoul…” ucap Younghyun riang. “oh, iya satu lagi… tadi Donghae oppa menanyakanmu, aku bingung harus memberikan alasan apa padanya?” lanjutnya dengan nada bingung.

“mmm… katakan saja aku menjemput appa dan Wookie Hyung ke Busan pasti mereka tidak akan bertanya lagi… arrasso?”

Ne~ aku akan katakan itu…” ucap Younghyun mengangguk pasti. “Oppa, sepertinya aku sudah lama berada di luar, aku takut mereka curiga… Nanti kabari aku lagi masalah Jongjin ya, Oppa..

“Oh, ya sudah… lebih baik kau segera masuk, nanti pasti akan aku kabari lagi, Bogoshipo! Jangan terlalu lelah ya, Jagi…”

Ne~, nado bogoshipo, Oppa… Fighting!!!  Annyeong…

Klik
Sambungan telpon Younghyun dan Kyuhyun terputus dan Younghyun langsung kembali masuk ke dalam ruangan. Donghae dan Eunyoung tanpa menaruh curiga tersenyum pada Younghyun .

“Apa Kyuhyun sangat sibuk, Hyunnie…? Dari nada bicaranya sepertinya ia lelah sekali?” tanya Donghe penasaran.

“Oh, ia baru sampai Busan jadi masih lelah… Kyuhyun oppa menjemput appa dan Wookie oppa ke Busan mungkin besok baru sampai Seoul, appa meminta Kyuhyun oppa mengurus beberapa keperluan untuk kepindahannya ke Seoul…” Younghyun berucap mantap penuh senyum menatap Eunyoung dan Donghae. Sedangkan sepasang suami isteri itu hanya ber ‘oh’ ria dan tersenyum riang karena appa-nya akan segera menetap di Seoul.

—————^ Keep Going On… ^—————

Sementara itu di Gwangju,
Kyuhyun masih terus fokus di depan mobilnya, otaknya berpikir tempat mana lagi yang belum ia kunjungi. Sejak kemarin Kyuhyun sudah hampir menyinggahi semua tempat demi menemukan Jongjin. Bahkan ia tidak sempat mencari penginapan semalam dan akhirnya tertidur di mobilnya yang ia parkir di dekat pantai. Kyuhyun cukup sadar bahwa tidak mudah menemukan Jongjin karena ia tidak mempunyai foto bahkan identitas yang ia tahu hanya nama dan usianya saja.

Seharian ini, Kyuhyun mencoba mencari informasi di rumah sakit yang dulu sempat menjadi tempat pengungsian. Namun nasib baik belum berpihak padanya. Rumah sakit itu hanya menjadi tempat sementara jadi mereka tidak mempunyai data korban yang masih hidup.

“Hyunnie… Apa yang harus aku lakukan kalau tidak bertemu dengan anak itu? Haaahh… Ke mana lagi akan ku cari dia?” Kyuhyun yang setengah frustasi terus berpikir tempat selanjutnya.

Hari menjelang sore, Kyuhyun memutuskan untuk mencari tempat untuk ia bermalam hari itu. Tidur di dalam mobil malah membuatnya semakin lelah, sedangkan ia masih butuh banyak tenaga dan pikiran untuk dapat menemukan Jongjin mengingat mau tidak mau besok ia harus kembali ke Seoul karena lusa adalah hari spesial untuk Donghae.

Mobil Kyuhyun terparkir di sebuah kedai kecil di dekat pantai. Lebih tepatnya sebuah rumah yang halaman depannya disediakan beberapa meja kecil untuk makan dan minum. Kyuhyun dengan wajah lelah dan penat langsung menuju salah satu meja. Seorang pria paruh baya keluar dari rumah dan menyambutnya dengan hangat.

“Ada yang bisa ku bantu, anak muda? Kami menyediakan beberapa menu makanan dan minuman…” Kyuhyun mengangkat wajahnya yang nampak sedikit frustasi. “Oh… dokter cho? Dokter cho Kyuhyun… kau pernah menjadi relawan di sini kan…?” tanya ahjussi yang nampak terkejut saat melihat wajah Kyuhyun.

“oh, iya… saya Cho Kyuhyun, saya pernah membantu waktu ada bencana di sini…” jawab Kyuhyun ramah, mencoba menghilangkan sedikit frustasinya.

“Tidak saya sangka akan bertemu lagi dengan dokter Cho lagi… ah, chakamman… akan saya buatkan teh ginseng hangat, sepertinya dokter lelah sekali…” ahjussi itu pun segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Kyuhyun yang masih mencoba menghilangkan penatnya sambil terus berpikir heran tentang ahjussi itu.

Tidak begitu lama, ahjussi itu pun keluar dari rumah dengan membawa ketel kecil dan gelas. Dengan wajah sumringah, ahjussi itu menghampiri meja Kyuhyun.

“Silahkan diminum dokter Cho, ini teh ginseng yang ku racik sendiri, bisa menghangatkan tubuh sekaligus membuat tubuh lelah menjadi lebih baik…” jelas ahjussi itu dengan ramah sambil menuangkan segelas teh untuk Kyuhyun lalu mengangsurkannya pada Kyuhyun.

Kamsahamnida… ahjussi…” Kyuhyun membungkukan kepalanya saat menerima gelas dari ahjussi itu.

Cheonman, justru saya yang harus berterima kasih pada dokter Cho dan relawan lain, dulu kalian pernah merawatku…. Kalau kalian tidak cepat merawat luka saya, mungkin sekarang saya sudah tidak memiliki kaki…” Kyuhyun-pun sedikit membuka memorinya pada waktu itu, ia teringat ahjussi ini mengalami luka parah di kakinya akibat  terhimpit bangunan runtuh.

“Oh, Song Ahjussi… aku ingat… ah, tidak ku sangka akan bertemu denganmu, bagaimana kondisimu, nampaknya kau sehat…” Kyuhyun tersenyum gembira melihat salah seorang pasien yang ia bantu dulu kini hidup dengan sehat. Song ahjussi pun menceritakan semua yang ia alami setelah pulih dari lukanya. Song ahjussi kehilangan istri dan anaknya saat kecelakaan dan kini ia membuka kedai untuk melanjutkan kehidupannya.

“Kau sedang bertugas kembali di Gwangju, dokter Cho? Kau terlihat lelah, perjalanan dari Seoul ke Gwangju memang cukup melelahkan sepertinya…” Ahjussi itu pun menangkap gurat kelelahan di wajah Kyuhyun.

Kyuhyun pun menghela nafas berat, sambil menyesap kembali teh hangat yang masih tersisa di gelasnya. “saya mencari seseorang di Gwangju, sejak kemarin tepatnya… tapi hhhhh~ sampai sekarang pun aku belum menemukannya…” Kyuhyun menggeleng perlahan sambil mengacak sedikit rambutnya.

“mencari seseorang? Mmm.. apa bisa saya bantu, dokter Cho? Kebetulan setelah bencana itu, saya kenal banyak teman di tempat pengungsian dulu…” Song Ahjussi menepuk bahu Kyuhyun dengan senang hati ingin membantu.

Jinja? Mmm… sebenarnya aku pun hanya mengetahui namanya, foto pun tidak ada, mungkin saya akan ingat setelah melihatnya…” ujar Kyuhyun sambil berpikir. “Oh, iya, ahjussi, kau tahu di mana anak-anak korban bencana yang kehilangan keluarga ditampung… Saya mencari seorang anak laki-laki, usianya 6 tahun, ah… kalau kau ingat, anak itu selalu mengikuti Donghae, temanku, salah satu relawan juga…”

Song ahjussi terdiam sejenak, pandangannya mengingat-ingat anak kecil yang disebutkan oleh Kyuhyun. “ah, mianhae, dokter Cho, aku sedikit lupa anak itu… sudah kau cari di dinas sosial? Biasanya anak-anak korban yang kehilangan keluarganya dititipkan di panti asuhan yang ditunjuk oleh dinas sosial, mungkin …”

“Ah, iya, kenapa tidak terpikirkan untuk bertanya ke sana… Aigoo…” Kyuhyun menghentikan ucapan Song Ahjussi dengan sedikit bersemangat karena memang ini titik terang baru baginya untuk menemukan Jongjin. “Ahjussi, apa kau tahu alamat atau nomor telepon dinas sosial setempat yang bisa ku hubungi sekarang…?” tanya Kyuhyun.

“Aku tahu tempatnya, tapi mungkin kalau sekarang kantor dinas sosial sudah tidak menerima pengunjung…” ucap Song ahjussi yang sedikit mengecewakan Kyuhyun. Kyuhyun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan menggelengkan kepalanya lesu.

“Benar kata ahjussi, sudah malam, pasti kantor dinas sosial sudah tutup… mmm… Apa ahjussi tahu penginapan yang berada di dekat sini?” Kyuhyun kembali menuangkan teh ginseng ke gelasnya lalu meminumnya. Tidak dipungkiri, teh ginseng membuatnya rileks dan sedikit menghilangkan lelahnya.

“Oh, kalau dokter Cho tidak keberatan, dokter bisa menginap di sini, dan besok pagi saya akan mengantarkan dokter Cho ke dinas sosial, kebetulan kedai ini baru buka pada malam hari jadi saya bisa menemani dokter Cho sampai siang…” usul Song ahjussi.

“Justru saya sangat berterima kasih, dan saya sungguh bersyukur bertemu dengan ahjussi…” Kyuhyun membungkukan tubuhnya seraya berterima kasih pada Song ahjussi. Selain karena teh ginseng yang menghilangkan lelahnya, tempat menginap bahkan mengenai informasi yang dapat membantunya menemukan Jongjin.

Song ahjussi mempersilahkan Kyuhyun untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang tidak terlalu besar, namun lebih nyaman dari pada ia harus tidur di mobil seperti semalam. Selesai membersihkan diri, Kyuhyun bersiap tidur di tempat yang sudah disediakan Song ahjussi, selimut tebal dan bantal kecil yang terhampar rapi di lantai kayu. Jam di dinding menunjukan pukul 10 malam, ia duduk mengamati kamar kecil yang ia tempati, terlihat pigura yang meperlihatkan foto Song ahjussi dengan keluarganya yang telah tiada, lalu ia terpikirkan Younghyun, dan sedikit bertanya-tanya mengapa sampai sekarang Younghyun belum menghubunginya lagi. Tanpa pikir panjang ia meraih ponselnya di saku jaket yang ia gantung di dekat lemari kayu milik Song ahjussi.

“Ah, mati… pasti Hyunnie panik setengah mati karena tidak ada kabar dariku…” Kyuhyun menatap kecewa ponselnya yang ternyata telah mati karena baterai-nya habis. Ia segera mengisi baterai-nya dan menunggu beberapa saat lalu mencoba menghidupkannya.

Kyuhyun terkejut saat ponselnya dihidupkan, beberapa pesan teks dan voice mail memenuhi inbox, dan semuanya dari Younghyun. Sudah dipastikan Younghyun sangat panik dan mungkin marah saat ini. Kyuhyun segera menghubungi Younghyun dan berharap telpon darinya dijawab oleh isterinya.

Jagi… angkat… mianhae… hhhh~ babo Kyuhyun…!!!” ia merutuk dirinya dan menunggu dengan gelisah jawaban dari Younghyun. Sempat ia berpikir, isterinya itu sudah tidur, tapi hal itu ditepis olehnya. “Ah, jagi… aku tahu kau tidak bisa tidur cepat kalau aku tidak…”

“Oppaaaaa!!!” suara yeoja yang sangat ia nantikan akhirnya menjawab panggilan telfon-nya dengan sedikit nada kesal.

“Ne~ ini aku, Jagi… Mianhae, tadi ponselku mati…” gugup Kyuhyun dan berharap tidak mendengar amarah dari isterinya itu.

“oppa, kau tahu aku mengkhawatirkanmu, aku kira kau diculik, atau terkena musibah di sana, sejak tadi siang aku menghubungimu, tapi tidak kau angkat, dan beberapa jam kemudian ponselmu tidak dapat ku hubungi… Kau di mana? Di mobil? Atau kau di gudang gelap bersama beberapa pria kekar? Atau…”

“Husshh… kau ini jangan berpikiran macam-macam… aku baik-baik saja… aku sedang di rumah seorang ahjussi baik, yang akan membantuku menemui Jongjin esok hari, Kau sudah di rumah atau masih di rumah sakit?”

“aku menginap di rumah sakit, oppa… sepertinya Eunyoung terlihat cukup lelah, karena beberapa kali mengalami kontraksi, tapi menurut dokter Kim itu hal wajar, karena calon bayinya sudah tidak sabar untuk keluar… hihi…” Younghyun terkikik pelan, mungkin ia membayangkan kebahagian kalau bayi Eunyoung lahir.

“Kau sendiri lelah tidak, hm? Ingat kau juga harus menjaga dirimu, arra?

“Ah, benar apa yang dikatakan Donghae oppa, kau ini cerewet..!!! lebih cerewet dari omma-mu… oooppss…” Kyuhyun tersenyum lega, mendengar nada suara isterinya yang tidak terdengar panik. “Oh, iya, oppa… ada satu masalah….” Namun senyum lega itu menghilang sesaat karena ia mendengar nada serius dari ucapan Younghyun.

“Masalah? Apa hasil pemeriksaan Donghae…?”

“Bukan, justru Hae oppa besok sudah boleh pulang oleh appa, karena dilihat kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan  lagi dan berangsur normal, jadi bisa dilakukan perawatan jalan, mungkin Hae oppa yang memohon pada appa, tapi… kalau besok Hae oppa sudah ada di rumah… aku tidak bisa mempersiapkan semua kejutannya, Oppa… ottokhae?”

“Mmm… paling cepat aku sampai besok sore, ah, bagaimana pun caranya kau harus menahan Donghae untuk tinggal sehari lagi di rumah sakit… Aku percaya padmu, Jagi… kau tidak ingin rencana yang sudah kita atur gagal kan?” ucap Kyuhyun sedikit meyakinkan Younghyun.

Younghyun terdiam, tidak ada sepatah kata pun terdengar di sebrang telepon, Kyuhyun tersenyum kecil membayangkan wajah Younghyun yang sedang berpikir, menimbang sebuah ide yang memang ia akui kadang suka tidak masuk di akal.

“baiklah… aku tahu, semoga ini berhasil dan semoga keadaan berpihak pada kita…” setelah lama berpikir Younghyun berucap dengan yakin akan idenya. “mmm… Oppa… aku merindukanmu… kau tahu aku semalam tidak bisa tidur, rumah terlalu sepi, beruntung aku menginap di rumah sakit malam ini…” keluhnya.

Nado… aku tahu kau pasti tidak bisa tidur tanpa ku peluk kan? Hehehe … Sudah malam, lebih baik kau tidur, Jagi… besok pasti kita akan sangat sibuk mempersiapkan kejutan untuk Donghae… aku besok pulang, mmm… semoga bisa membawa Jongjin…”

“Ne~ semoga, Jalja, suamiku… saranghae…”

Jalja, my princess, nado saranghae…

Hyun couple mengakhiri sambungan telepon mereka. Kyuhyun tersenyum lega, tidak sabar menanti hari esok menemui Jongjin dan menyiapkan kejutan untuk sahabat yang paling ia sayangi, Lee Donghae. Dan ia pun bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

—————^ Keep Going On… ^—————

Pagi yang cerah di Gwangju menandakan suasana hati Kyuhyun yang juga cerah. Ia sudah melajukan mobilnya menuju kantor dinas sosial ditemani dengan Song ahjussi. Setibanya di kantor dinas sosial ia tidak banyak membuang waktu, segera ia menghampiri bagian informasi dan menanyakan tentang Jongjin. Meskipun agak kesulitan karena ia hanya ingat ciri-ciri Jongjin dan usianya, namun itu tidak menyurutkan Kyuhyun membolak-balik beberapa berkas yang berisi data-data anak-anak korban bencana. Dengan dibantu salah satu pegawai dinas sosial dan Song ahjussi, Kyuhyun dengan teliti mengamati beberapa data dan foto yang tercantum di berkas itu.

“Ah… ini, Kim Jongjin, usia 6 tahun, di mana saya bisa bertemu dengan anak ini?” Kyuhyun yakin benar dengan foto dan data yang ia temukan adalah Jongjin yang sedang ia cari.

“Oh, coba saya lihat…” pegawai dinas sosial itu mencermati beberapa informasi yang tertera di halaman itu. “Ah, anak ini sekarang berada di panti asuhan Kirin, salah satu panti asuhan yang kami tunjuk untuk menampung sebagian anak-anak korban bencana, mmm… ini alamatnya…” pegawai itu menuliskan alamat panti yang dimaksud di sebuah kertas lalu memberiikannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum puas, kini hanya tinggal selangkah lagi ia bertemu dengan Jongjin. Bukan hanya Donghae yang akan senang, namun ia yakin Younghyun juga akan senang melihat Jongjin karena rencana kejutan mereka untuk Donghae mungkin akan berhasil. Kyuhyun lantas menuju alamat yang di maksud setelah berterima kasih pada pegawai Dinas Sosial setempat yang membantunya dan tentunya Song ahjussi yang bersedia mengantarnya. Namun Song ahjussi tidak bisa mengatar Kyuhyun ke panti asuhan karena ia harus membeli keperluan untuk kedainya.

Panti asuhan yang ia tuju ternyata berada di selatan Gwangju agak sedikit jauh dari kantor dinas sosial. Kyuhyun melajukan mobilnya penuh harap agar Jongjin yang dimaksud adalah Jongjin yang ia cari. Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai di panti. Mobil Kyuhyun sudah memasuki halaman panti asuhan. Panti asuhan sederhana yang memiliki halaman yang cukup luas dan terdapat taman bermain kecil, bangunannya juga nampak seperti bangunan tua nan klasik berwarna putih pada luarnya.

Kyuhyun keluar dari mobil dan mendekati bangunan panti, pandangannya ia arahkan ke sekeliling, beberapa anak panti berlarian di area taman bermain. Pandangan Kyuhyun terhenti saat ia menangkap sosok anak laki-laki kecil yang sedang murung duduk di ayunan, sementara anak yang lain tertawa lepas bermain bola. Hatinya bersorak riang, menyadari sosok itu adalah Jongjin, anak yang sudah dua hari ini ia cari. Kyuhyun pun mengarahkan langkah kakinya menuju ayunan mendekati sosok yang sedang murung itu.

“Apa kau sedang mencari koin yang jatuh? Atau tali sepatumu lepas? Ada sesuatu yang menarik di bawah kakimu, Jongjin-ah?” Kyuhyun berdiri tepat di hadapan Jongjin yang duduk di ayunan. Anak kecil itu mengangkat wajahnya melihat seseorang yang menyapa sekaligus menyindirnya.

Hyung?” Jongjin yang terkejut melihat Kyuhyun langsung memeluk pinggang Kyuhyun erat.

“Apa kabar, Jongjin-ah? Kenapa kau menyendiri di sini, hm? Bukannya kau dulu senang sekali bermain bola…?” tanya Kyuhyun sambil mengusap rambut Jongjin yang masih memeluknya.

Hyung… aku teringat Donghae hyung dan Kyuhyun Hyung… aku merindukan kalian… dan kau datang, sepertinya Tuhan menjawab doaku semalam… eh, Donghae hyung…” Jongjin mengangkat pandangannya tanpa melepas pelukannya pada Kyuhyun.

“Donghae hyung tidak bisa menjemputmu, dan kita akan ke Seoul memberikan kejutan untuknya, kau mau?” Kyuhyun berlutut menyamakan tingginnya menatap lekat mata cantik milik Jongjin.

Jinja? Aku mau hyung… ayo sekarang kita minta ijin pada ibu peri, pasti beliau mengijinkan… palli, Hyung…” Jongjin menarik tangan Kyuhyun masuk ke dalam panti untuk menemui seseorang yang Jongjin panggil dengan sebutan ‘ibu peri’.

Jongjin masuk ke dalam panti dengan riang, sesekali ia tersenyum menoleh ke arah Kyuhyun yang sedikit berjalan cepat mengikuti langkahnya. Jongjin menghentikan langkahnya di depan ruangan dengan pintu kayu yang tertutup rapat. Jongjin terdiam sejenak mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal karena berlari lalu mengetuk pintu ruangan dengan sopan. Suara seorang yeoja lembut mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan.

Seorang wanita paruh baya menyambut Kyuhyun dan Jongjin. Jongjin langsung berlari menuju sang ibu panti yang biasa di panggil ‘ibu peri’ oleh anak-anak panti. ‘Ibu peri’ sebenarnya adalah Han Hyejin, wanita berusia 45 tahun yang telah lama mengurus panti asuhan milik keluarganya. Ibu Han sangat menerima maksud Kyuhyun dengan baik. Terlebih lagi kedatangannya membuat Jongjin yang semula murung menjadi ceria seperti anak-anak pada umumnya. Menurut ibu Han, luka kehilangan Jongjin begitu besar, ditambah lagi ia harus menerima kenyataan bahwa hyung yang selama ini ditunggunya ternyata juga telah tiada.

Kyuhyun dan Ibu Han berbincang banyak mengenai Jongjin. Kyuhyun tidak menyangka anak sekecil Jongjin harus ditinggalkan seluruh keluarganya karena suatu bencana. Dan ternyata sejak kepulangannya dan Donghae ke Seoul sangat merubah Jongjin. Ia lebih suka menyendiri, menanti kedatangan hyung-nya untuk menjemputnya. Namun suatu hari, dinas sosial mendatangi tempat pengungsian dan mengabarkan kalau Jongjin harus dipindahkan ke panti asuhan ini karena ternyata anggota keluarganya tidak ada yang selamat. Dan selama di panti Jongjin lebih makin suka menyendiri dan murung sepanjang hari.

Kyuhyun menjelaskan maksud dan keinginannya untuk membawa Jongjin ikut bersamanya ke Seoul dan Ibu Han dengan senang hati mengizinkannya selama seminggu. Ibu Han beranggapan, hal ini mungkin dapat mengubah pribadi Jongjin yang pemurung. Jongjin tersenyum riang mendengar ibu Han yang mengizinkannya ke Seoul. Ia bergegas ke kamar mempersiapkan keperluan yang ingin ia bawa.

Kyuhyun sedang memandang miris Jongjin yang sedang sibuk memasukan beberapa pakaian ke dalam tas ransel miliknya. Jongjin yang bersemangat bertanya tentang Donghae dan Seoul. Anak ini sekejap berubah dari apa yang ibu Han ceritakan tadi, terlihat ceria dan bersemangat sejak ia datang.

“Jongjin-ah… mmm… apa kau senang di panti? Eh, maksud hyung, temanmu ada berapa di sini…?” Kyuhyun dengan segera mengganti pertanyaannya agar tidak menyinggung Jongjin. Jongjin yang sudah mengemas pakaiannya duduk bersebelahan dengan Kyuhyun di atas tempat tidurnya.

“teman? Mmm.. aku rasa mereka tidak ingin bermain denganku, dan aku sepertinya lebih nyaman bermain dengan ibu peri…” ucapnya sambil mengayunkan kakinya yang menggantung.

Kyuhyun merengkuh tubuh kecil mendekat padanya. Dengan penuh kasih sayang, Kyuhyun mengelus punggung Jongjin. Sejenak ia memposisikan dirinya jadi anak ini, mungkin tidak ada yang salah dengan sikap Jongjin yang murung. Dan mungkin dulu kehadiran Donghae dan dirinya sangat membantu Jongjin untuk menjadi kuat. Jongjin dengan ekspresi heran dan bingung terdiam dalam dekapan Kyuhyun.

“Oke…. Semua sudah siap, Jongjin-ah? Kita harus sampai di Seoul sebelum malam agar kejutan untuk Donghae hyung berjalan sesuai rencana…” Kyuhyun melepaskan dekapannya lalu menatap Jongjin dengan penuh senyum. Dan Jongjin pun menjawabnya dengan anggukan.

Keduanya melangkah pasti menuju mobil, melewati taman bermain yang masih penuh dengan anak-anak panti yang masih berlarian walau matahari sudah siap bersembunyi kembali ke peraduannya. Jongjin tersenyum riang menggenggam tangan Kyuhyun, sebelum ia masuk mobil ia melambaikan tangan mungilnya pada ibu Han yang nampak tersenyum lega melihat Jongjin sangat berbeda hari itu.

—————^ Keep Going On… ^—————

Sementara itu di Seoul…
Younghyun sedang bingung dari pagi membujuk Donghae untuk tidak pulang hari ini.  Beberapa alasan diberikan Younghyun untuk membuat Donghae dan Eunyoung menunda kepulangannya ke rumah. Bukan apa-apa, sesuai rencananya dengan Kyuhyun, Donghae harus pulang esok hari dan mereka menyambutnya dengan pesta kejutan ulang tahunnya. Namun Younghyun terkejut saat Donghae kemarin meminta izin pulang lebih awal pada Siwon, karena ia sudah merasa lebih baik walau hasil pemeriksaannya belum keluar.

Oppa, Young-ah, ayolah… kita bisa menunggu appa menjemput, ia ingin sekali menjemputmu ke sini…” Younghyun sedikit membujuk dan menatap memohon pada Eunyoung. Donghae dan Eunyoung pun menatapnya dengan heran, sejak tadi pagi Younghyun membuat alasan yang cukup aneh agar menundanya pulang.

“Kau ini kenapa Hyunnie? Kita kan bisa bertemu appa di rumah?” tanya Donghae heran.

Oppa, appa yang minta sendiri, ia ingin menemui kalian di sini setibanya di Seoul, dan oh, iya… appa juga ingin bertemu dengan appa-nya Kyu oppa…” ucap Younghyun mantap. Eunyoung masih terdiam dengan analisanya terhadap sikap Younghyun hari itu.

Oppa, mungkin appa memang ingin menjemput kita… lebih baik kita menunggu appa datang… ottae?” Eunyoung akhirnya buka suara membenarkan alasan Younghyun. “Lagipula… aku ingin berbaring sebentar, baby sangat aktif beberapa hari ini, pinggangku lelah…”

baby, kenapa kau membuat omma lelah sayang…?” Donghae membantu mengelus pinggang Eunyoung dan memijatnya perlahan. “Berbaringlah, Jagi… kita akan menunggu sampai appa datang…” Donghae membantu Eunyoung berbaring di tempat tidur lalu duduk di samping tubuh isterinya itu sambil mengelus lembut perut Eunyoung.

Younghyun bernafas lega dan menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Ia menilik ponselnya menanti kabar dari Kyuhyun. Sudah beberapa kali ia mengirim pesan pada suaminya itu, tapi tidak ada satu balasan. Younghyun hampir selalu berada di samping Donghae dan Eunyoung, maka dari itu ia agak ragu kalau menelfon Kyuhyun.

Hari menjelang malam, Eunyoung masih berbaring dan kini tengah terlelap dalam pelukan Donghae sedangkan Younghyun gelisah berjalan mondar mandir di depan pintu sambil menggenggam ponselnya.

“Hyunnie…” panggil Lee teuk setengah berbisik saat memasuki ruang rawat Donghae

appa…” Younghyun tersenyum riang memeluk appa yang sangat ia rindukan beberapa hari ini. “eh, Wookie oppa tidak ikut ke sini?” tanya Younghyun.

“ssssttt… nanti mereka bangun… Wookie sudah di apartemennya, ia menata beberapa barang di apartemen, kau tahu sendiri sepupumu itu seperti apa…” Lee Teuk berdesis, dan berbicara dangan suara sekecil mungkin agar tidak membuat Donghae dan Eunyoung terbangun . “Kau sejak kemarin di sini, Hyunnie? Bagaimana kondisi Donghae? Ah, seandainya appa bisa pulang lebih awal…” Lee Teuk memandang Eunyoung dan Donghae yang masih berbaring.

“Hasil pemeriksaan belum keluar, tapi sejauh ini Donghae oppa terlihat jauh lebih baik, Eunyoung terus berada di sampingnya sampai sekarang, bahkan sampai ia terlihat lelah begitu…” Younghyun menghela nafas dan ikut memandang sepasang suami istri itu.

Uhhuukk.. uhuukkk…” Donghae terbatuk dan mulai membuka matanya perlahan. Dilihatnya Lee Teuk dan Younghyun yang berdiri di dekat pintu. “Appa… Annyeonghaseyoo…” Donghae turun dari tempat tidur dan melepas pelukannya pada Eunyoung lalu membungkuk sopan pada mertuanya itu.

“ah, tidak perlu seperti itu, berbaringlah kalau kau merasa lebih baik….” Ucap Lee Teuk.

Anni, appa, tadi Eunyoung yang merasa lelah, aku sudah tidak apa-apa… oh, iya… appa kenapa langsung ke rumah sakit, pasti appa lelah karena perjalanan jauh…”

Appa tentu rindu dan khawatir padamu dan Eunyoung, oppa…” ucapan Younghyun memotong perkataan Donghae. “oh, iya, sepertinya Eunyoung terlalu lelah hari ini, lebih baik kalian pulang besok pagi, ottae?” usul Younghyun dengan nada penuh harap agar Donghae menyetujuinya.

Donghae menoleh pada Eunyoung yang masih terlelap di alam mimpi. Ia usap lembut rambutnya lalu menghela nafas sebelum ia memutuskan. “Baiklah, aku rasa aku tidak tega membangunkannya… selama aku di rawat ia selalu menemaniku di sini, belum lagi baby yang membuat tenaganya sedikit berkurang…” Younghyun tersenyum lebar, hatinya berteriak senang karena rencananya berhasil.

Appa akan menemani kalian di sini, Hyunnie kau pulang saja… besok biar appa yang mengantar mereka ke rumah…” Younghyun melebarkan senyumnya lalu memeluk appa-nya dengan riang dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih karena mempunyai appa sebaik Lee teuk.

“Kyuhyun ke mana? Appa ke rumah sakit sendiri? Apa Kyuhyun …”

“Ah, Kyuhyun oppa tadi langsung pulang ke rumah setelah mengantar appa, karena kau dan Eunyoung sedang tidur dan ia tidak ingin mengganggu kalian..” sekali lagi Younghyun menghentikan pertanyaan Donghae dan membuat Lee teuk menatap keheranan pada puterinya itu sedangkan Donghae hanya bisa mengangguk dan mengerti. “Appa, Oppa… aku pulang dulu ya.. mmm… besok ku tunggu kalian di rumah… Appa, aku titip mereka, Appa memang yang terhebat, Gomawo

Younghyun segera bergegas keluar dari ruang rawat Donghae sebelum Lee Teuk mengungkapkan keheranannya dan Donghae kembali bertanya-tanya. Ia bernafas lega keadaan hari ini sungguh berpihak padanya. Younghyun menyusuri koridor sepi rumah sakit dengan ponsel di tangannya. Ia hendak menghubungi Kyuhyun yang dari tadi memang tidak ada kabar. Namun belum sempat Younghyun mencari di phonebook-nya, ponsel nya sudah terlebih dulu berdering dengan nama Kyuhyun tertera di layar.

Oppa!! Sungguh… dua hari ini kau membuat cemas. Entah sudah berapa pesan yang aku kirim tapi kau tidak membalas, saat aku mencoba menghubungimu tapi ponsel-mu tidak aktif…” Younghyun langsung berkeluh panjang tanpa membiarkan Kyuhyun menyapanya.

“Jagi… aku sudah di rumah Donghae bersama Jongjin…” jawab Kyuhyun santai setelah mendengar ocehan isterinya yang sangat panjang saat menjawab telfon darinya.

Jinja? Jongjin sudah bersamamu? Oke, aku sedang menunggu taksi… ah chakamman…” Younghyun segera masuk ke dalam taksi yang baru saja masuk area rumah sakit sehabis mengantarkan penumpang. “Oppa, tadi aku tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Donghae oppa, sampai aku menyebut appa untuk membujuknya, dan entah kebetulan appa benar-benar datang” sumringah Yoounghyun bercerita pada Kyuhyun. Kyuhyun di seberang telfon hanya terdiam, mungkin tersenyum geli membayangkan wajah isterinya yang sedang senang kala itu.

“Lalu Donghae akan pulang esok hari kan?” tanya Kyuhyun singkat.

“Iya, tapi itu karena Eunyoung yang terlihat lelah dan masih tertidur, aku memang tidak tega membangunkannya, hari ini baby sangat aktif, aku sering melihat Euyoung menahan sakit di perutnya…” lanjut Younghyun bercerita. “Tapi memang keadaan memihak pada kita oppa, buktinya appa datang dan menyelamatkan semua”

“kau terlihat senang sekali, Nyonya Cho, mmm… sepertinya aku yang bisa disebut penyelamat” ucap Kyuhyun bangga. “Saat aku sampai di rumah Donghae, appa juga baru sampai… dan ia menanyakan Hae, ku bilang Hae dan Eunyoung masih di rumah sakit, mungkin besok baru pulang, dan appa memutuskan sendiri ke rumah sakit setelah mendengar semua itu dariku…”

jinja? Jadi semua ini bukan kebetulan?” Younghyun sedikit tidak percaya.

“Jadi, penyelamat hari ini berhak dapat hadiah special bukan?” goda Kyuhyun. “Cepat pulang, aku mau ucapan terima kasihmu padaku”

Ne… arra, kau memang penyelamat malam ini, oppa. Aku segera sampai…” Younghyun tersenyum simpul lalu menutup telfonnya. Selain karena rencananya esok hari hampir dipastikan terlaksana, ia juga senang karena suami yang ia rindukan sudah kembali ke Seoul.

 

To be continue……

76 Comments (+add yours?)

  1. Icha_sachie
    Nov 19, 2012 @ 19:44:44

    Y ampun beneran ngiri dech ma ni couple dua..walaupun dalam mslh tp msh saling nguatin…

    Huaaaaa,benran mewek nie…huhuhu

    two tumbs dech buat eonni2 yg bkin ni ff…

    Reply

  2. WonKyu_ELF
    Feb 17, 2013 @ 05:19:26

    Whooaa, ga sbr juga nunggu kejutan bwt hae oppa :”)

    Reply

  3. Wei - Ni
    Mar 02, 2013 @ 10:33:27

    Hem ..salut ya sama hyunnie – kyuhyun yg selalu di sisi donghae – eunyoung tuk mendukung .. Saat mereka susah … Begitu jg sebaliknya ..

    Persahabatan mereka mank the best deh …
    Huah … Kali ìni terharu nih sama donghae – eunyoung .. Hiks yg sabar ya …

    Reply

  4. HalcaliGaemKyu
    Aug 12, 2013 @ 08:52:32

    Aigo.. Jongjin kasihan. Pasti dia jd pemurung dan kesepian. Gmn klo kyuhyun dan hyunnie mengadopsi jongjin? Aku rasa jongjin ank baik dan penurut.
    Jd gk sabar sm kejutan ultah hae

    Reply

  5. ginachoi407
    Oct 24, 2013 @ 18:14:28

    iri bgt m dua couple itu…
    akhirnya jongjin ktmu jg…

    Reply

  6. enkoi
    Nov 28, 2013 @ 21:40:55

    Wah hae beruntung banget punya teman n keluarga yang selalu sayang ma dia. Kejutannya kaya apa y….

    Reply

  7. inggarkichulsung
    Mar 20, 2014 @ 21:12:43

    So sweet akhirnya Jongjin ditemukan, smg ini menjadi kejutan yg indah u ultah nya donghae oppa dan mmebawa kebahagiaan u semua, sepertinya jongjin bs diangkat sbg anak oleh Kyu oppa dan younghyun

    Reply

  8. Cho In Hyun
    May 17, 2014 @ 13:02:57

    Kenapa Jongjin gk di angkat jadi anaknya Kyuhyun sm Younghyun aja ya kan dia sebatang Kara ‘-‘)? Mungkin usia kandungan Eunyoung udah 8 bln kn ?

    Reply

  9. Kim Heena
    Jun 03, 2014 @ 14:04:03

    Salut sama Hyunnie – Kyuhyun yg selalu di sisi donghae – Eunyoung selalu mendukung .. Saat mereka senang susah … Begitu jg sebaliknya ..’’best friend forever deh…ehmm bahkan lebih dr sahabat..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@fanfict_palace

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Memories

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  
%d bloggers like this: