[Fanfiction] Our Love Story (Chap 11 – Should we give up or be strong, Honey…?)

Tittle               : Our Love Story – Should we give up or be strong, Honey…?

Length             : Multi chapter – chapter 11

Author             : missdorky & littleyounghae

Cast                 :

–     Lee Donghae

–     Cho Kyuhyun

–     Park Eunyoung (OC)

–     Lee Younghyun (OC)

–     etc^^

Genre               : Romance

Rated               : PG-17

Notes                 : FF ini merupakan project kolaborasi pertama dari dua penulis (littleyounghae dan missdorky) . FF ini salah satu cara untuk menunjukan cara kami dalam berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita…^^ Enjoy and feel the story… Happy Reading, don’t forget to give comments and We will appreciate it… ^^

Disclaimer          : Cast FF ini yang jelas bukan milik kami tapi Cerita FF ini murni dari otak kami berdua…. susah payah menggabungkan dua ide jadi satu karya, so… don’t be plagiator… and don’t be a silent reader.

a/n : Annyeonghaseyo… 🙂 Lama kami tidak meng-update blog ini dengan Our Love Story…. Harap maklum karena kami (Missdorky n Littleyounghae) sudah mulai mempunyai kesibukkannya masing-masing… Tenang kami akan terus meng-update FF ini secepat yang kami bisa kok,, kami tidak mau membuat kalian (readers) pecinta Our Love Story kecewa karena kami sudah mem-posting FF sampai sejauh ini… Gomawo n Jeongmal Jeongmal Kamsahamnida bagi kalian yang masih setia dan menunggu FF kami yang satu ini *bowed* 🙂

Sebagai ganti atas keterlambatan kami yang tidak memposting selama lebih dari dua minggu lama-nya, kami mem-post dua chap sekaligus… Mian telah menunggu lama, n semoga chap ini bisa memuaskan kerinduan kalian… Kami selalu melakukan yang terbaik untuk karya kami, semoga kalian terhibur walau mungkin ada kekurangan dari kami yang membuat kalian sedikit kecewa,, seperti yang kami katakan tadi “kami melakukan yang terbaik untuk karya kami”… Ini kami dan inilah cerita kami, Our Love Story… ^-^

Okeeh langsung aja silahkan di baca,, Seperti biasa kami ingin melihat apresiasi kalian terhadap cerita ini.. Comment are Love… Kamsahamnida… Sampai bertemu di Chap selanjutnya… *Bowed* Annyeong!!! ^_^

…Younghyun…

“I’m a hopeless mother; a hopeless wife; I have to try harder. I’m just a pathetic case history, really. (Siobhan Fahey)”

 

…Kyuhyun…

“God grant me the courage not to give up what I think is right even though I think it is hopeless. (Chester W. Nimitz)”

Kyuhyun tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengusap kepala Younghyun lembut. Ia belum siap menyampaikan berita ini pada Younghyun, karena Ia tahu Younghyun pasti akan mengalami guncangan psikis setelah ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Oppa, jawab aku.. anak kita baik-baik saja kan..??” ulang Younghyun lirih. Ia ingin mendengar kalau bayinya baik-baik saja.

Ssst… Jagi, bayi kita…” gantung Kyuhyun, Ia menarik nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan kata-katanya. Apa ia harus memberitahukannya sekarang..?? Bahwa kemungkinan hanya satu bayinya yang akan selamat, tapi apa itu menjamin? Sebab kandungan Younghyun belum genap tujuh bulan. Kyuhyun terdiam, bingung apa yang harus ia katakan untuk menjawab semua pertanyaan dari isterinya itu.

“Hyunnie… Kyu…” suara berat dari arah pintu membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Lee Teuk sudah masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Younghyun dan Kyuhyun. Kyuhyun sedikit bernafas lega karena ia bisa sedikit menunda menjawab pertanyaan Younghyun.

Appa…” lirih Younghyun yang masih terbaring lemas. Lee Teuk langsung mengecup kening puterinya itu lalu menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun tahu mertuanya mencoba menguatkannya, namun ia sungguh tidak kuasa menahan sedihnya lagi sehingga ia memilih keluar ruangan meninggalkan Younghyun dan Lee Teuk. Kyuhyun hanya berharap Leeteuk lebih mampu meenjelaskan semua pertanyaan Younghyun.

Appa, Kyuhyun oppa kenapa? Apa sesuatu terjadi?” heran Younghyun dengan suara lirih. Lee Teuk kali ini menggeleng dan tersenyum menjawabnya, namun raut khawatirnya masih tertangkap oleh Younghyun.

Appa, bayi ku baik-baik saja kan?” tanya Younghyun pada Lee Teuk yang kini sudah duduk di dekatnya. “Aku ingin tahu keadaan bayiku… Pasti mereka shock setelah mengalami kejadian tadi pagi…” lanjut Younghyun sambil melihat ke arah perutnya.

Leeteuk terdiam sejenak, mengatur kata-kata agar Younghyun dapat mengerti dan menerima tentang keadaan yang dialaminya. Younghyun kembali menatap Lee Teuk dengan heran. “Appa… kenapa diam? Bayi ku baik-baik saja kan??” tanya Younghyun kembali dan Lee Teuk hanya mampu menganggukan kepalanya untuk menjawabnya.

“Syukurlah…” Younghyun tersenyum sambil mengelus lembut perutnya. “Tapi… kenapa wajah Appa seperti itu?” heran Younghyun melihat ‘kekhawatiran’ di wajah Lee Teuk.

“Bayi kalian memang baik meskipun… salah satunya lemah… Tapi mereka pasti baik-baik saja, sayang…” Jawab Lee Teuk sambil membelai rambut puterinya itu dan menghela nafas berat. “Namun ada satu hal sayang…” Lee teuk kembali menjeda ucapannya dengan helaan nafas. “Dokter Kim menyarankan untuk melahirkan mereka lebih awal, saat kondisimu sudah stabil…” lanjut Lee Teuk.

“Maksud appa?” tanya Younghyun.

“Salah satu bayi-mu lemah, karena ada tumor yang melekat dalam rahim. Dokter Kim menyarankan untuk mempercepat kelahiran bayi-mu dan segera dilakukan tindakan lain untuk menghilangkan tumor itu dengan operasi pengangkatan rahim…” Lee Teuk menghentikan ucapannya, tanpa sadar ia menitikan air mata.  Ia benar-benar tidak kuat memberi tahu ini pada Younghyun, puteri kesayangannya itu. Tak hanya Lee Teuk, Younghyun-pun ikut berderai air mata dan ia mulai histeris.

“Tumor???” kaget Younghyun sambil menggoncangkan tangan Lee Teuk. “Tapi Appa, mereka belum siap untuk dilahirkan… Andwae…!!!” Younghyun semakin histeris, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.

Kyuhyun tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan mendengar histeris Younghyun. Dilihatnya Younghyun terisak sambil menggelengkan kepalanya. Kyuhyun mendekati isterinya itu lalu ia rengkuh tubuh Younghyun yang terus meronta sambil berteriak.

“Katakan…. Katakan, kalau semua ini tidak benar, oppa!! Kalaupun ini benar, aku tidak ingin menjalani operasi itu sekarang, oppa…” teriak Younghyun dalam dekapan Kyuhyun.

ssshh… Jagiya… tenanglah dan dengarkan aku…” bisik Kyuhyun. “Dokter Kim akan berusaha menyelamatkan bayi kita” bujuk Kyuhyun sambil mengusap jejak air mata yang membasahi pipi Younghyun.

“tidak, oppa!! aku tahu, aku tahu bayi kita belum genap berusia tujuh bulan.. ia tidak akan kuat berada di luar sebelum waktunya..” lirih Younghyun, ia mengerti sekali teori bayi premature yang biasa di selamatkan saat usia-nya tujuh bulan di dalam kandungan.

“ini demi keselamatanmu jagi.. demi aku juga..” pasrah Kyuhyun, ia tak tahu lagi harus berucap apa untuk meyakinkan Younghyun untuk menjalankan operasi.

“tidak, oppa… aku akan menunggu sampai waktunya bayi ini siap, oppa.. atau setidaknya tunggu sampai usia kehamilanku menginjak tujuh bulan… seminggu lagi, aku yakin bisa bertahan..” isak Younghyun terus meminta pada Kyuhyun agar ia bisa menunda sebentar proses pengangkatan rahimnya. Kyuhyun sudah tidak mampu berkata lagi, ia hanya terus memeluk Younghyun yang tanpa henti menangis.

—————^ Should We Give Up or be Strong, Honey…? ^—————

Sudah beberapa hari Kyuhyun dengan setia menjaga Younghyun di rumah sakit bahkan Kyuhyun sengaja mengosongkan jadwalnya seminggu ini. Seperti biasa, Kali ini ia terjaga semalaman sambil memeluk tubuh Younghyun hanya untuk membuat istrinya itu terlelap dengan nyenyak. Kyuhyun menatap wajah Younghyun yang terlelap dan lagi-lagi ia  menangkap kegelisahan di wajah istrinya itu. Tangannya terulur untuk mengusap perut Younghyun, karena ia tahu kegelisahan itu berasal dari rasa sakit di perutnya. Ia ingin membantu Younghyun untuk mengurangi rasa sakit itu dengan terus mengusapnya berharap istrinya dapat kembali tertidur dengan nyenyak.

“Selamat pagi, oppa…!” Younghyun merubah posisinya yang membelakangi Kyuhyun menjadi berhadapan dengan suaminya itu.

“Apa aku membangunkanmu?” ucap Kyuhyun sambil mengecup sekilas bibir Younghyun. Younghyun menggeleng sambil mencoba tersenyum walau ia merasakan ketidaknyamanan di perutnya.

“Apa ada yang sakit, Jagi?” tangkap Kyuhyun melihat Younghyun berbicara sambil mengerenyitkan keningnya. Namun pertanyaan Kyuhyun kembali dijawab dengan gelengan kepala Younghyun.

“Sena,,, Sena,,, bagaimana keadaannya? Apa ada yang menanganinya saat ini?” Tanya Younghyun mencoba mengalihkan kekhawatiran Kyuhyun, namun usahanya kali ini tidak membuahkan hasil karena Kyuhyun malah menatapnya dengan pandangan kesal.

“Kau masih saja memikirkan hal itu!!! Tentu saja ada, memang dokter di sini hanya kau seorang!” ucap Kyuhyun kesal menatap dalam mata Younghyun. “Kalau tidak ada pun, Jae hyung, appa-ku atau aku bisa….” Ucapan Kyuhyun terhenti, tiba-tiba ia merasakan lengannya dicengkram kuat oleh Younghyun.

Oppa….” Erangnya sambil memejamkan matanya dan tanpa meregangkan cengkramannya di lengan Kyuhyun.

Mianhae,, aku mengejutkanmu…” panik Kyuhyun. “Di mana yang sakit, Jagi?” tanyanya lagi.

“Jangan marah, oppa…” lirih Younghyun melepaskan tangannya dari lengan Kyuhyun dan beralih memegang perutnya.

“Perutmu sakit, Jagi… jangan bohong, aku tidak akan marah lagi…” Younghyun akhirnya mengangguk karena tidak bisa menahan rasa sakitnya. “ssshh oppa sakit… bantu aku bertahan oppa…aku harus kuat…!!” rintih Younghyun lirih, ia berusaha kuat menahan rasa sakit yang terus menjalar di perutnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Jagiyaa..  dokter Kim akan segera datang.” Kyuhyun berusaha menenangkan Younghyun yang terus meringis kesakitan dan mulai menitikan air matanya. Sesekali Kyuhyun mengelus perut istrinya itu setelah sebelumnya ia menekan tombol darurat yang berada di bawah bantal Younghyun.

“Dokter Cho… Maaf, biar kuperiksa..” Dokter Kim dengan tergesa-gesa memasuki kamar rawat Younghyun.

Younghyun tidak sedikitpun membiarkan Kyuhyun melepas tangannya. Kyuhyun hampir tidak mampu menahan tangisnya saat merasakan genggaman tangan Younghyun semakin kuat, ia sangat tahu isterinya kesakitan luar biasa. Wajah Younghyun bermandikan peluh dan air mata membasahi pipinya.

“Dokter Cho…ini harus segera di lakukan…” Dokter Kim memandang Kyuhyun, tergambar jelas bahwa ini sudah darurat. Bersamaan dengan itu, Siwon dan Leeteuk datang memasuki kamar rawat Younghyun. “aku baru saja berunding dengan appa-mu dan appa Younghyun dan mereka menyetujuinya.”

Kyuhyun yang bingung dengan ucapan dokter Kim lantas menatap Lee Teuk dan Siwon yang baru masuk. Lee Teuk dan Siwon mengangguk, memberikan jawaban atas pertanyaan Kyuhyun yang ia salurkan lewat tatapan matanya.

Oppa, Appa… andwae… Tunggu beberapa hari lagi… Ku mohon…” Younghyun dengan sekuat tenaga bertahan mencengkram kuat telapak tangan Kyuhyun.

Kyuhyun kembali menatap Siwon dan Leeteuk, dan jawaban mereka tetap sama, mengangguk pasti.

“baik.. dokter Kim tolong lakukan yang terbaik untuk isteriku…” Kyuhyun berkata lirih, mengusap lembut perut istrinya dengan tangan satunya. Younghyun hanya bisa menangis selain sakit yang dirasakannya namun juga keputusan Kyuhyun yang tidak seperti keinginannya.

—————^ Should We Give Up or be Strong, Honey…? ^—————

Seminggu berlalu sejak Younghyun menjalani operasi, kesedihan Younghyun dan Kyuhyun semakin bertambah, saat diketahui bahwa bayi mereka tidak mampu diselamatkan. Kyuhyun mencoba tegar, namun tidak untuk Younghyun. Younghyun sangat shock setelah sadar, dan ia terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada mereka. Baru beberapa hari lalu Younghyun sedikit lebih tenang dan ia meminta Kyuhyun untuk mengantarkan satu benda permintaannya ke rumah sakit. Kyuhyun berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan sebuah benda bersamanya. Hening, hanya itu yang Kyuhyun rasakan saat memasuki kamar rawat Younghyun. Younghyun tengah berbaring, matanya sendu menatap kosong langit-langit kamar. Perlahan Kyuhyun mendekati tempat tidur Younghyun.

Jagi…” Kyuhyun duduk di sebelah tubuh Younghyun dan mendekatkan sebuah kereta bayi double berwarna baby blue dan pink ke dekat tempat tidur. Younghyun seketika tersadar, menoleh memandangi kereta bayi itu tanpa melihat Kyuhyun sebelumnya. Younghyun mengulurkan tangannya, mengelus bagian kereta bayi di dekatnya kemudian ia menitikan air mata. “Seharusnya… Bayi kita ada di sini kan, oppa?” Ucap Younghyun lirih dari matanya kembali mengalir bulir air mata seakan tidak mampu ia hentikan.

Ssstt.. Uljimma.. Kau harus kuat… Dan kau pasti kuat, sayang” Kyuhyun mengelus lembut pipi Younghyun dan menghapus setiap jejak air mata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana caranya agar aku mampu bertahan hidup,oppa? Kedua bayi yang ku kandung tidak dapat ku selamatkan, bahkan aku bukan lagi wanita sempurna, pasti appa sangat sedih karena tidak mempunyai keturunan darimu..” Younghyun semakin terisak, ia menutup matanya berharap air mata itu tak keluar lagi.

Jagiyaa… Dengarkan aku, selama ada aku di sisimu, aku yakin kita pasti bisa melalui semua… Sekarang yang aku inginkan hanya kau selalu bersamaku dan berada di sisiku.” Kyuhyun menggenggam erat tangan Younghyun berusaha menenangkan Younghyun. Sebenarnya sudah berkali-kali Kyuhyun mengatakan hal itu untuk membuat Younghyun tenang, hingga ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk membuat Younghyun kembali.

Younghyun kembali menoleh ke arah kereta bayi, ditatapnya benda itu lekat seketika tatapannya kembali menjadi nanar. “Jagii… Ayolah… Aku yakin, kita pasti bisa melaluinya…” Kyuhyun membelai kedua pipi Younghyun dan mengarahkan wajahnya untuk berpaling dari kereta itu. Kyuhyun menatap mata Younghyun yang memerah dan masih berlinang air mata, lalu dikecupnya bibir Younghyun dengan mata terpejam. Kyuhyun perlahan membuka matanya, dilihatnya Younghyun kembali menangis dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa, oppa, appa, keluargamu, aku sungguh bukan…. “ Kyuhyun kembali mengecup lembut bibir Younghyun sekejap lalu melepasnya.

Jagii… Yang ku pedulikan hanya dirimu, aku tidak mempedulikan siapapun, hanya dirimu seorang…. Saranghae..” Kyuhyun kembali menatap Younghyun bermaksud meyakinkannya. Perlahan Younghyun mulai tenang namun sesekali masih terisak.

‘Tok Tok Tok…’

Suara ketukan pintu membuat Kyuhyun menoleh pada orang yang baru saja masuk kedalam ruangan Younghyun. “Jagi, Donghae dan Eunyoung datang menemuimu… Kau ingin menyapanya kan?” Kyuhyun berbisik lirih pada Younghyun yang masih terisak sambil menutup matanya.

Younghyun perlahan membuka matanya, dilihatnya yeoja yang yang sangat ia sayangi sudah berdiri di dekatnya sambil mengulum senyum. Younghyun ingin sekali membalas senyum itu karena ia begitu rindu pada Eunyoung, namun saat ini ia masih belum bisa tersenyum karena luka batinnya masih terasa sakit di banding luka fisiknya.

Kyuhyun bangkit dari duduknya di tepi ranjang Younghyun, membiarkan Eunyoung yang mengambil alih tempat itu. Layaknya seorang ibu yang ingin puterinya gembira lagi, Eunyoung mengusap rambut Younghyun lembut. Ia mengerti betul tekanan yang diterima saudaranya itu, andai ia yang berada di posisi Younghyun, ia juga pasti akan bersikap seperti Younghyun saat ini.

“Hyunnie, kau harus kuat.. semua ini mungkin sudah menjadi kehendak-Nya..” Eunyoung menggenggam erat tangan Younghyun dan Younghyun membalasnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Young-ah!!” Younghyun perlahan dia bangkit dari posisinya. Kyuhyun dengan cepat membantu Younghyun untuk duduk, mengingat Younghyun baru saja operasi di bagian perutnya membuatnya sedikit susah untuk duduk.

Eunyoung merentangkan tangannya, Younghyun menyambut pelukan Eunyoung dan membenamkan wajahnya di dada Eunyoung. “Hyunnie… Aku tahu dengan pasti kau mampu melalui ini semua… Karena yang ku tahu Hyunnie-ku adalah wanita yang kuat…” hibur Eunyoung, Younghyun kembali terisak. Dieratkannya pelukannya pada yeoja yang masih rapuh di hadapannya itu.

Kyuhyun memijat pelipisnya pelan, merasa lelah melihat Younghyun harus kehilangan bayinya. Kalau ia berada di posisi Younghyun mungkin ia akan bersikap yang sama. Apalagi mengingat, bahwa isterinya itu sudah menyiapkan perlengkapan bayi mereka sejak jauh-jauh hari. Memang saat ini kondisi fisik Younghyun sebenarnya sudah pulih, namun kondisi psikis-nya yang masih perlu di perhatikan.

“Kyu, kau harus kuat… Demi Younghyun, siapa lagi yang menyemangatinya kalau bukan kau…” Donghae menepuk pundak Kyuhyun yang duduk di sampingya, menatap Younghyun yang sedang bersama Eunyoung.

“Iya aku tahu, Hae.. Gomawo.. Kau dan Eunyoung sangat membantu pemulihan Younghyun..” Kyuhyun memejamkan matanya. Mengistirahatkan matanya yang dipaksa semalam suntuk untuk tetap terjaga menemani Younghyun.

“Aku yakin Hyunnie, yeoja yang kuat…. Hanya keadaannya yang masih belum stabil untuk saat ini, ditambah beban pikirannya yang terlalu berat….” Analisa Donghae menatap Younghyun dari jauh.

“Ayolah Hyunnie… tersenyumlah, sekali saja untukku…” Pinta Eunyoung masih terus membujuk Younghyun yang berada di dekapannya.

Younghyun melepaskan pelukannya, ia tatap mata Eunyoung dengan pandangan sedih. Ingin rasanya Eunyoung menitikkan air matanya saat ia melihat mata saudaranya itu tak secerah biasanya. Sendu, memerah dan sembab, ditambah wajahnya yang kini terlihat sedikit tirus dan pucat. Tapi ia segera mengalihkan perasaan itu, ia tatap Younghyun dengan senyuman penuh di bibir manisnya.

“Baiklah,, aku luluh denganmu Young-ah…” Ucap Younghyun datar, sambil memberikan senyuman kecil pada Eunyoung. Walau senyum itu terlihat sedikit memaksa, namun Eunyoung yang melihatnya sangat senang, setidaknya permintaannya di lakukan oleh Younghyun.

“teruslah tersenyum seperti itu, Hyunnie… kau tidak mau membuat Eunyoung sedih bukan?? kami akan selalu ada di sini bersamamu…” Donghae ikut masuk dalam pembicaraan Younghyun dan Eunyoung. Senyum juga teruntai manis di bibirnya. “Kyu, aku harus mengontrol pasien… aku tinggal dulu yaa..” Donghae beranjak bangun dari duduknya, menghampiri Eunyoung untuk pamit sebelum ia meninggalkan ruangan Younghyun.

“Kyu Oppa, kau tidak mengontrol pasienmu?? Biar aku yang di sini bersama Hyunnie…” Ucap Eunyoung yang melihat Kyuhyun masih duduk di sofa dekat pintu.

“Tidak, aku di sini saja menemani kalian berdua…” Jawab Kyuhyun. Ia mengambil beberapa lembar berkas medical report yang ada di meja sofa, membacanya sambil menemani Younghyun dan Eunyoung.

Oppa, aku tidak apa-apa… lebih baik kau mengontrol pasienmu… kasian Jae oppa, ia mengurus pasien sendirian… lagi pula ada Eunyoung di sini…” Younghyun mencoba tersenyum untuk meyakinkan Kyuhyun agar ia tidak terlalu mengkhawatirkannya.

“Benar kau tidak apa-apa? Baiklah, aku akan mengontrol pasienku sebentar… setelah itu aku akan segera kembali ke sini…” Kyuhyun menutup map berkasnya, kemudian berjalan mendekati Eunyoung dan Younghyun. “Lebih baik kau berbaring saja, kau belum begitu kuat untuk berlama-lama dengan posisi duduk seperti ini..” Kyuhyun membantu Younghyun kembali berbaring. Ia kecup kening Younghyun sebelum ia meninggalkan istrinya itu bersama Eunyoung.

“Young-ah, kau berbaring juga di sini yaa..” Younghyun menggeser tubuhnya dan menepuk-nepuk space kosong di ranjangnya. Eunyoung tersenyum dan mengangguk, ia lepas sepatunya dan mulai berbaring. Sedikit susah mengingat perut Eunyoung yang sudah besar, ditambah ranjang itu adalah single bad. Kyuhyun membantu Eunyoung berbaring sampai Eunyoung menemukan posisi yang pas untuk tubuhnya.

“Baiklah aku tinggal sebentar.. Young-ah hati-hati yaa kalau kau ingin bangun dari posisi-mu..” Pesan Kyuhyun pada Eunyoung. Eunyoung hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan tak lama ruangan menjadi sunyi, hanya menyisakan Younghyun dan Eunyoung.

“Young-ah… aku tak sabar menunggu baby-mu lahir…” Younghyun merubah posisinya menghadap Eunyoung yang berbaring menghadap langit-langit kamar.

“Sama, aku-pun begitu… tidak sabar menunggunya melihat dunia…” Ucap Eunyoung, menoleh pada Younghyun yang mengadap padanya. “Omo!! Bayi-ku bergerak..” Eunyoung buru-buru meraih tangan Younghyun dan meletakkannya tepat di atas perutnya.

Omo!! Kuat sekali pergerakannya…. Sakitkah Young-ah??” Younghyun terkejut sekaligus panik, karena yang ia tahu pergerakan bayi-nya dulu cukup menyakitkan. Belum hilang keterkejutannya itu, raut wajah Younghyun berubah heran, pasalnya Eunyoung hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Baby-ku memang aktif belakangan ini,, sepertinya ia tak sabar untuk cepat-cepat keluar…” Eunyoung ikut memegang perutnya dan mengusapnya lembut.

“Mirip appa-nya kalau begitu… hehehe..” Younghyun terkikik geli sambil terus memegang perut Eunyoung merasakan gerakan bayi yang sekitar dua bulan lagi akan melihat dunia.

“Teruslah terseyum dan tertawa seperti itu, Hyunnie… kau terlihat lebih manis dan cantik kalau kau tersenyum seperti itu…” Wajah Younghyun seketika berubah sedih, matanya menatap sendu Eunyoung. Bisa di lihat oleh Eunyoung, air mata kembali menganak di mata Younghyun.

“Hyunnie…” Lirih Eunyoung menatap Younghyun. Tangannya terulur menghapus air mata yang turun di wajah saudaranya itu.

“Aku bukan wanita yang sempurna, aku tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Cho… aku…” Ucap Younghyun tertahan saat Eunyoung meletakkan jari telunjuknya di bibir Younghyun.

Sssst… aku tidak ingin kau mengucapkan itu lagi…” Potong Eunyoung cepat, sebelum Younghyun melanjutkan kata-katanya.

“tapi….”

“Tidak ada tapi-tapian…”

“Aku takut…” Younghyun memeluk Eunyoung hati-hati agar perutnya tidak tertekan oleh dekapannya.

“Ada aku di sini, ada appa, ada Kyuhyun oppa.. kau tidak perlu takut…” Eunyoung menepuk-nepuk lengan Younghyun yang masih melingkar di tubuhnya untuk menenangkan.

Sambil menunggu Donghae selesai bekerja, Eunyoung tetap berada di ruangan Younghyun untuk menemani Younghyun. Kyuhyun sedikit tenang melakukan tugasnya yang sempat tertunda sedikit, karena Younghyun di temani Eunyoung selama ia meninggalkan Younghyun. Dan tak terasa hari mulai beranjak malam. Kyuhyun dan Donghae sudah selesai bertugas, dan kini mereka berkumpul di ruang rawat Younghyun.

“Younghyun masih butuh perhatian ekstra, Kyu… terutama untuk pemulihan batinnya…” Ucap Donghae yang duduk di sebelah Kyuhyun, menatap Eunyoung yang tengah menggenggam tangan Younghyun yang tengah tertidur.

“Iya, aku tahu Hae.. aku akan perhatikan itu… Gomawo!” Balas Kyuhyun ikut menatap Younghyun dan Eunyoung. “Hampir aku lupa! Ini sudah malam Hae, ajak Eunyoung pulang…. Tidak bagus berlama-lama di sini untuk kesehatan-mu, bayi-mu dan juga Eunyoung…” Ucap Kyuhyun ikut menatap Younghyun dan Eunyoung seperti Donghae.

“Wah iya ini sudah beranjak.. uhuk.. uhuk.. malam… tunggu sebentar lagi, sampai Younghyun benar-benar tertidur pulas… uhuk..” Balas Donghae yang melihat Younghyun sudah berada di posisi berbaringnya, sedangkan Eunyoung duduk di samping Younghyun, masih menggenggam erat tangannya.

Kyuhyun mengernyitkan keningnya, saat mendengar kalimat Donghae barusan. Suara Donghae yang lirih terdengar bergetar, dan diselingi dengan suara batuk yang keluar dari mulutnya. Di lihatnya Donghae tengah mengusap-usap hidungnya, sambil mengeratkan jaket yang ia kenakan malam itu dan tubuhnya sedikit menggigil kedinginan.

“Kau sakit, Hae?” tanya Kyuhyun langsung, ia memegang kening Donghae. “Kau sepertinya demam, Hae… ayo ku periksa sebentar, sambil menunggu Eunyoung bersama Younghyun di ruanganku…” Kyuhyun segera beranjak berdiri, namun Donghae menahannya.

sssstt jangan keras-keras,, aku tidak ingin membuat Eunyoung khawatir….” Pinta Donghae menatap Kyuhyun dengan padangan memohon.

Kyuhyun menghela nafas. “baiklah, tapi kau harus ikut aku untuk diperiksa..” Paksa Kyuhyun dan akhirnya Donghae menyetujuinya. Mereka keluar ruangan setelah pamit pada Eunyoung terlebih dahulu

Sesampainya di ruangan Kyuhyun, Donghae segera berbaring di ranjang periksa pasien. Kyuhyun dengan sigap memeriksa tubuh Donghae dan mengukur suhu tubuhnya. “Apa yang kau rasakan, Hae?” tanya Kyuhyun di sela-sela pemeriksaan.

“Tidak ada, hanya sedikit flu sepertinya…” Jawab Donghae santai seperti biasanya. Kyuhyun berdecak kesal mendengarnya. Dan lagi-lagi Donghae hanya menyunggingkan cengiran khas-nya.

“Apa kau merasa pusing, atau mual atau keluhan lainnya…” Ucap Kyuhyun lagi, tidak menanggapi sikap Donghae. Ia mengukur suhu tubuh Donghae.

“Tidak ada, Kyu!! Oke, sepertinya sudah selesai pemeriksaannya.. lebih baik aku pulang, sebelum kau menduga-duga hal-hal yang berlebihan…” Donghae beranjak bangun dan bersiap untuk keluar ruangan Kyuhyun.

“Tunggu, Hae!! Aku akan antar kau dan Eunyoung pulang…” Kyuhyun mengejar Donghae yang terlebih dahulu keluar dari ruangannya.

“Tidak perlu, aku masih bisa pulang sendiri…” Cegah Donghae tegas.

“Tidak!! Aku akan tetap mengantarmu pulang…” balas Kyuhyun yang kini sudah berada di samping Donghae, berjalan bersisian menuju ruangan Younghyun.

“Siapa yang menjaga, Hyun….”

Appa, annyeonghaseyo…. Kau datang malam ini..” Sapa Kyuhyun sambil membungkukan tubuhnya, menyambut Lee Teuk yang datang malam itu. Mereka bertemu di koridor.

“Iya, Kyu… appa akan menginap malam ini…” Ucap Lee Teuk yang malam itu membawa tas kecil, yang kemungkinan berisi beberapa potong baju ganti.

“Ah kebetulan appa… Hae sakit,, aku ingin mengantarnya sebentar ke rumah…”  Donghae segera menyikut pinggang Kyuhyun untuk menghentikkan ucapannya namun Kyuhyun tetap melanjutkan kalimatnya. “ aku titip Hyunnie ya appa?”

“Kau sakit, Hae?? Ah lebih baik appa pulang tidak jadi menginap di sini…” Cemas Lee Teuk menatap Donghae.

“Ah appa, tidak usah,, appa merindukan Hyunnie bukan?? Aku tidak apa-apa…” Sungkan Donghae, merasa tidak enak. “benar aku tidak apa-apa, appa..” ucap Donghae lagi, karena Lee Teuk menggelengkan kepalanya.

“Baiklah… tapi kau harus diantar Kyuhyun, arra?” putus Lee Teuk menatap Donghae.

“Apa aku bilang, Hae… appa juga ingin aku yang mengantarmu pulang…” Senyum Kyuhyun merasa dirinya menang dengan perdebatan antara dirinya dengan Donghae beberapa menit lalu.

Arraseo, Appa…” pasrah Donghae.

—————^ Should We Give Up or be Strong, Honey…? ^—————

Akhirnya Kyuhyun malam itu mengantar Donghae dan Eunyoung pulang, dan ia kembali ke rumah sakit setelah memastikan Donghae dan Eunyoung memasuki rumah mereka. Donghae mencoba menutupi rasa sakitnya sejak tadi di rumah sakit agar Eunyoung tidak cemas. Sebenarnya tadi Eunyoung sudah curiga mengapa Kyuhyun mengantar mereka pulang, namun Donghae beralasan bahwa dirinya mengantuk, tidak berani menyetir pulang dan Eunyoung cukup percaya karena ia sering memarahi Donghae untuk tidak berkendara saat mengantuk.

Dan benar saja Donghae segera berbaring mencoba istirahat. Eunyoung datang membawa pakaian dan handuk untuk keperluan mandi Donghae. Ia sedikit mengernyit heran melihat karena Donghae tertidur dengan peluh bercucuran di keningnya dan ditambah suaminya itu tidur dengan gelisah. “Oppa, kau tidak apa-apa?” Panggil Eunyoung cemas. Donghae tidak menyahut, tubuhnya semakin bergerak gelisah dan tangannya memegang perutnya, lebih tepatnya meremas perutnya.

Oppa, kau demam?” Ucap Eunyoung saat ia mencoba mengusap peluh di wajah Donghae. “Oppa!! Jangan buat aku takut….” Panik Eunyoung. Donghae membuka matanya, walau terasa berat. Wajah Donghae semakin pucat.

“Tolong ambilkan obatku di laci, Jagi…” Lirih Donghae sambil mengernyit menahan sakit, dan tangannya masih meremas perutnya yang sakitnya kian melilit.

Dengan terburu-buru Eunyoung membuka laci dan mengaduk-aduk isi-nya. Kepanikannya membuatnya susah mencari obat Donghae yang biasanya berada di dalam laci itu. Setelah menemukannya, Eunyoung mengambilkan dua butir obat berbentuk tablet itu dan menyambar gelas yang berisi air di atas meja nakas.

Oppa, ini obatnya… minumlah…” Eunyoung mengangkat kepala Donghae sedikit dan membantunya untuk menelan obatnya dengan bantuan air. “Oppa, perutmu sakit?? Aku panggil Kyuhyun oppa ya..” tanya Eunyoung tak mengurangi ekpresi cemasnya.

“Tidak usah Jagi… Sudah tidak lagi sekarang..” Jawab Donghae sambil mencoba tersenyum walau ekspresi sakit tergambar jelas di wajahnya. “berbaringlah bersamaku di sini, Jagi… aku ingin memelukmu untuk mengurangi rasa sakit ini…” Ucap Donghae lagi meraih tangan Eunyoung lembut.

Eunyoung menurut, berbaring di samping Donghae. Donghae memberi isyarat agar Eunyoung membelakanginya. Ia lingkarkan kedua tangannya untuk memeluk punggung Eunyoung. “Tuhan, beri aku kekuatan… hilangkan rasa sakit ini…” Gumam Donghae yang merupakan doa yang ia panjatkan pada sang pencipta.

Oppa.. bilang padaku kalau sakit.. Perutmu yang sakit??” Tanya Eunyoung lagi, ia mencoba merubah posisi tubuhnya agar ia bisa berhadapan dengan Donghae, namun Donghae menahannya.

“Biarkan aku memelukmu seperti ini… rasanya nyaman…” Donghae menempelkan perutnya di bagian belakang tubuh Eunyoung, mengeratkan pelukannya tanpa menyakiti baby yang ada di perut isterinya itu. Ia melakukan itu agar Eunyoung tidak melihatnya menahan rasa sakit di perutnya yang kini kembali sering menghampirinya.

Oppa…” Panggil Eunyoung hampir menangis. Suaranya terdengar bergetar.

“Iya Jagisssttt…. biarkan aku tetap seperti ini…” pinta Donghae lirih, ia memejamkan matanya dan kembali memanjatkan doa. Tanpa sepengetahuan Donghae, Eunyoung mulai menitikkan air matanya.

—————^ Should We Give Up or be Strong, Honey…? ^—————

Donghae dan Enyoung pagi itu bangun lebih pagi dari biasanya. Udara yang sejuk dengan sinar matahari yang belum sempurna ditambah kicauan burung menandakan awal hari yang indah bagi Donghae dan Eunyoung. Donghae sudah siap dengan celana pendek dan kaus santai serta sepatu kets yang sedang ia ikat talinya.

Oppa, kau yakin sudah cukup sehat untuk jalan-jalan pagi?? Sini ku periksa keningmu…!” Eunyoung menopang pinggangnya dengan satu tangannya dan tangan satunya terulur menyentuh kening Donghae.

“Aku sudah tidak apa-apa, ny. Lee… kau tahu kenapa? Karena semalaman aku memeluk bidadari cantik… Jadi, sudah pasti aku lebih sehat pagi ini…” ucap Donghae memindahkan tangan Eunyoung dari keningnya lalu mengecupnya.

Issshh… kau ini…” Eunyoung menarik tangannya dari genggaman Donghae lalu mengelus lembut perutnya yang semakin membesar itu.

Donghae tersenyum, mencubit kecil pipi Eunyoung yang mulai berwarna senada dengan hoodie dan celana hamilnya itu. “Lihat… kau memang seorang pink addict, pipi mu bahkan berwarna pink seperti itu…”

Kajja, sebelum aku berniat mengikatmu seharian di tempat tidur…” ucap Eunyoung sedikit kesal karena godaan suaminya itu.

“Agar kau puas memelukku seharian kan??” goda Donghae lagi.

Oppaaa….” rengek Eunyoung kesal dengan pipi yang kembali tersipu. Donghae mendekati Eunyoung lalu merangkul bahu isterinya dan memberikan kecupan lembut di pipi berwarna pink itu.

“Isteriku ini sangat manis kalau tersipu, aku suka…” Donghae dan Eunyoung lalu menuju luar rumah. Pagi ini Donghae mengajak Eunyoung untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah mereka. Selain untuk menikmati udara pagi, Donghae bermaksud meregangkan otot-otot kaki nya yang beberapa hari ini terasa sedikit kaku.

Baru 15 menit mereka mengelilingi taman, Donghae yang berlari-lari kecil mulai memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Eunyoung.

Huuuhh…” Donghae menghentikan langkahnya dan merunduk memegangi lututnya.

Gwaenchana, oppa?” tanya Eunyoung yang sedikit heran karena tidak biasanya Donghae kelelahan secepat itu padahal mereka baru berjalan sebentar.

“Kita duduk di sana dulu, Jagi… kau pasti lelah…” ucap Donghae lalu membimbing Eunyoung menuju bangku taman yang tidak jauh dari mereka. Setelah duduk, lagi-lagi Donghae memegang kakinya dan sesekali memijatnya.

“Kaki mu terkilir, oppa? Coba aku lihat…naikan kaki-mu ke sini…” ucap Eunyoung menepuk pangkuannya.

Gwaenchana… hanya sedikit kram…” Donghae kini mencoba meluruskan kakinya jauh ke depan berharap kakinya lebih baik.

“ooh… mungkin kau terlalu bersemangat tadi pagi, oppa… sampai-sampai kau lupa meregangkan kakimu…” Ucapan Eunyoung dibenarkan dengan senyuman Donghae yang lebar.

Bukan kali ini saja Donghae merasakannya, beberapa kali ia merasakan kakinya seperti itu di rumah sakit. Donghae tahu betul itu pasti efek dari kemoterapi yang diterimanya, kini ia menyadari bahwa tubuhnya tidak sekuat dulu bahkan cenderung melemah. Walau begitu Donghae tidak ambil pusing, apapun akan ia terima selama ia yakin akan sembuh dan masih bersama dengan Eunyoung. Donghae melirik Eunyoung yang masih mengatur nafasnya dan mulai berpeluh.

“Benar kan kau sudah lelah… membawanya selama 7 bulan ini pasti membuatmu lelah ya, Jagi…” ucap Donghae menyeka peluh di wajah Eunyoung.

“dua bulan lagi, oppa… semua lelahku ini tidak berarti apa-apa nantinya…” Eunyoung tersenyum mengelus perutnya yang kini sudah tampak membesar namun kemudian raut wajah Eunyoung berubah sedih saat menantap perutnya. “mmm… aku jadi memikirkan Hyunnie… kalau aku jadi dirinya, mungkin aku tidak akan sekuat itu menghadapinya…” lirih Eunyoung.

“Hyunnie memang pribadi yang kuat, namun kini belum sepenuhnya kembali… aku sangat tahu ia masih terguncang dengan semua ini dan ditambah lagi keadaan rahimnya yang memang…” Donghae menghentikan ucapannya saat ia melirik ke arah Eunyoung yang mulai menitikan air mata. Dirangkulnya Eunyoung agar mendekat padanya dan mengelus bahunya agar Eunyoung berhenti menangis.

Oppa… kadang aku takut bila aku terus berada di dekat Hyunnie, ia akan lebih tertekan… mengingat kandungan aku dan Hyunnie memiliki usia yang sama” ucap Eunyoung yang masih dalam nada sendu.

“Menurutku Hyunnie justru lebih baik jika kau berada di dekatnya… buktinya ia selalu memintamu menemaninya di rumah sakit kan? Dan kau tahu, kemarin waktu kau hampir pingsan, ia sangat cemas dengan dirimu dan bayi kita… Ya, mungkin masih efek trauma, dan ia tidak mau kejadian yang sama menimpa dirimu dan bayi kita… Hyunnie akan cepat pulih kalau kita selalu berada di sampingnya…” Donghae mengusap air mata di sudut mata Eunyoung dan mengelus lembut pipi Eunyoung agar istrinya itu kembali tersenyum.

Ne~ aku pasti bisa mengembalikan Hyunnie seperti dulu… dan mungkin nanti anak kita bisa membantu mengembalikan senyum Hyunnie… benar kan, Oppa?” Eunyoung mengangguk pasti dan tersenyum menatap Donghae.

“Aku suka senyummu… teruslah tersenyum seperti ini, dan jangan khawatirkan apapun…” Donghae mengacak rambut Eunyoung yang baginya hari itu Eunyoung tersenyum begitu lepas seperti dulu sebelum menikah.

Oppa… tiba-tiba aku mau mandu…” Eunyoung menatap Donghae dengan tatapan memohon.

Mwo? Mandu?” heran Donghae. Pasalnya ini baru jam 8 pagi, dan kemungkinan restoran mandu belum ada yang buka. Eunyoung mengangguk mantap dan kembali menatap Donghae dengan tatapan memohon sambil mengelus perutnya. “Masih pagi sayang, restoran atau penjual mandu juga sepertinya belum ada yang buka…”

mmm… kemarin aku lihat ada penjual mandu tidak jauh dari sini… kita bisa ke sana oppa… Ayolah, oppa… setidaknya kita lihat dulu” bujuk Eunyoung.

“Baiklah… kalau itu yang kau mau… Kajja…” Donghae mengulurkan tangannya dan Eunyoung segera bangkit mengamit lengan Donghae.

Donghae dan Eunyoung menyusuri sepanjang jalan menuju penjual mandu yang dikatakan Eunyoung. Meskipun Donghae sesekali merasakan kebas pada kakinya, ia masih bisa menanganinya. Ternyata perkataan Eunyoung benar dan mereka beruntung karena penjual mandu itu sudah buka. Eunyoung tersenyum riang memilih mandu yang ia inginkan, dan Donghae hanya menggeleng sambil tersenyum melihat istrinya berbinar menyantap mandu pilihannya.

Oppa… Kenapa kau tidak makan?? Ada masalah dengan…..?” Cemas Eunyoung melihat Donghae hanya tersenyum melihat dirinya.

Anni… Aku suka melihatmu seperti ini… Pasti baby sedang senang hari ini… Aku mau makan di rumah saja” ucap Donghae mencubit kecil pipi Eunyoung.

Ahjumma… Aku mau dua porsi mandu ini untuk kami bawa pulang ya….” Pinta Eunyoung pada ahjumma penjual mandu.

“Dua?” Kaget Donghae.

“Satu untukmu dan satu untuku lagi… Kau sangat benci makan sendiri kan, Oppa? Makanya aku temani kau makan di rumah nanti…” Donghae lagi-lagi tersenyum melihat Eunyoung yang begitu berbeda hari itu.

Setelah Eunyoung selesai memenuhi keinginannya, Donghae dan Eunyoung kembali menuju ke rumah. Eunyoung bergelayut manja di lengan Donghae, suasana hatinya hari itu sangat berbeda. Raut bahagia terus terpancar dari wajah keduanya bahkan mungkin melihat orang di sekitarnya iri dibuatnya. Tiba-tiba Eunyoung menghentikan langkahnya saat melewati taman yang tadi mereka singgahi.

Oppa… Kau lihat anak kecil yang sedang duduk di sana?? Mmm.. Sepertinya ia sedang menangis…” Eunyoung lantas mengubah arah langkah kakinya mendekati seorang namja kecil yang terduduk di bangku taman dengan memeluk kedua lututnya di depan dadanya. Donghae pun mengikuti Eunyoung dari belakang.

Namja kecil itu menunduk, menyembunyikan kepalanya di kedua lututnya. Eunyoung dan Donghae perlahan mendekat dan sedikit terdengar suara tangis dari namja kecil itu.

“Adik kecil… kenapa kau menangis?” tanya Eunyoung yang kini sudah terduduk di samping namja itu dan mulai menyentuhnya. Namja kecil itu pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Eunyoung dan Donghae bergantian. Matanya sembab dan masih terisak.

“Nama mu siapa? Kenapa kau menangis di sini?” Donghae berjongkok dihadapan namja kecil yang masih terisak itu dan berusaha tidak menakutinya. Namun namja kecil hanya terdiam dan raut kebingungan terlihat di wajahnya.

“Kami tadi lewat dan melihatmu sendirian di sini? Apa kau tersesat?” Eunyoung mengelus lembut rambut namja yang berusia sekitar 10 tahun itu.

Hyung-ku… Hyung-ku belum kembali dari tadi… aku takut di sini…” ucap namja kecil itu sambil terisak.

“Memangnya Hyung-mu ke mana? Oia, siapa namamu?” tanya Donghae memegang lutut namja kecil di hadapannya itu.

“Sunghwan… mmm… tadi Hyung ku bilang akan membeli roti ikan, dan aku diminta menunggunya di sini… tapi sampai sekarang ia belum kembali…” ucapnya masih terbata karena mengatur nafasnya.

Hyung-mu pasti kembali, kami akan menemanimu sampai hyung-mu datang ya… Ah, aku Donghae dan ini istriku Eunyoung…” Donghae lalu bangkit dan mengusap punggung Sunghwan agar berhenti menangis.

Perlahan Sunghwan mulai berhenti terisak. Donghae dan Eunyoung terus membuat Sunghwan nyaman berada di dekat mereka. Donghae dan Eunyoung dengan senang hati menemani Sunghwan, dan namja kecil itu pun terlihat tidak canggung dengan mereka. Hampir setengah jam mereka menunggu namun hyung-nya Sunghwan belum datang. Sunghwan termasuk namja yang periang dan mudah dekat dengan orang. Terbukti saat Eunyoung dan Donghae bertanya mengenai dirinya, dengan senang hati ia bercerita tentang kehidupannya.

“Hwannie…!!” suara keras memanggil namanya membuat Sunghwan yang sedang asik bercerita menoleh ke arah datangnya suara. Seorang namja muda tengah berlari menghampiri tempat Sunghwan, Donghae dan Eunyoung berada.

Hyung… kenapa Hyung lama sekali?? Aku ketakutan menunggu di sini sendirian…” kesal Sunghwan saat namja muda itu sudah berdiri di depannya dan sedikit tersengah karena berlari.

Mian, aku tadi membantu penjual roti ikan ini, pembelinya banyaaaakk sekali, dan akhirnya aku mendapatkan roti ini secara gratis…” namja muda itu tersenyum mengangsurkan kantung yang ia genggam dari tadi.

Waaahh,, banyak sekali, Hyung… !! Gomawo..” Sunghwan menilik isi kantung dan tersenyum manis pada hyung-nya itu. “Oh, iya… Hyung, noona… ini Hyung-ku, mmm… Hyung,, mereka ini tadi menemaniku di sini… Donghae hyung, dan Eunyoung noona…” ucap Sunghwan memperkenalkan Donghae dan Eunyoung pada hyungnya.

“oh, Annyeonghaseyo… Han Sungjin imnida…” namja muda itu membukukan sedikit tubuhnya pada Donghae dan Eunyoung. “Mian merepotkan, adikku ini memang namja penakut” ucap Sungjin mengacak rambut Sunghwan.

“Siapa yang penakut? Hyung saja yang meninggalkanku terlalu lama…” protes Sunghwan lalu mulai melahap roti ikan. Donghae dan Eunyoung hanya tersenyum melihat kakak beradik di depannya itu.

“Iya, terlalu lama menunggu dan kau kami temukan sedang menangis di sini… kalau bukan penakut lalu apa? “ sindir Donghae yang membuat Sunghwan kembali bersungut.

Oppa… kau ini seperti anak kecil…” Eunyoung menepuk bahu Donghae membela Sunghwan.

“Hwannie… kita harus pulang, pasti paman dan bibi sudah menunggu kita…” ucap Sungjin dan dibalas anggukan Sunghwan yang sedang menyantap roti ikan ke duanya. “Hei, kau ini… roti ikan ini juga untuk paman dan bibi…” Sungjin merampas kantung di tangan Sunghwan yang membuat Sunghwan hanya memamerkan gigi putihnya pada hyung nya.

Ne… arrasso…” ucap Sunghwan. “Hyung, noona… kami pulang dulu ya, terima kasih sudah menemaniku tadi…” Sunghwan berpamitan pada Donghae dan Eunyoung lalu diikuti dengan Sungjin yang tersenyum sambil membungkuk pada mereka.

“Tunggu…” cegah Eunyoung. “ini untuk kalian… sampaikan salam kami pada paman dan bibi kalian ya…” lanjut Eunyoung menyerahkan dua bungkus mandu yang tadi ia beli.

“Wah… mandu… Gomawo noona…” Sunghwan kembali membungkuk setelah menerima mandu dari Eunyoung.

Gomawo, Noona, hyungAnnyeong…” Sungjin ikut membungkuk sebelum mereka benar-benar pergi. Sunghwan terlihat riang dirangkul Sungjin. Donghae tersenyum memandang Sunghwan dan Sungjin yang menjauh.

“Aku jadi teringat seorang sahabat kecil, apa ia sudah bersama hyung-nya ya?” Ucap Donghae merangkul bahu Eunyoung.

“Sahabat kecil?” Tanya Eunyoung.

Ne,, seorang anak kecil yang ku temui di Gwangju… Jongjin namanya” Jawab Donghae sambil melangkahkan kakinya membimbing Eunyoung dalam rangkulannya kembali menyusuri jalan menuju ke rumah.

“Gwangju? Oh, waktu kau jadi relawan di sana… Memang ada apa dengan Jongjin dan Hyung-nya, oppa?” Eunyoung menoleh penasaran pada Donghae.

“Jongjin, anak itu ku temui sedang menangis, ia kehilangan orang tua nya dan juga hyung-nya… Hampir tiga hari, belum ada kabar dari hyung-nya… Hhhh~ kira-kira Jongjin sudah bertemu Hyung-nya atau belum ya? Ah, aku jadi merindukan Jongjin” Eunyoung mengangguk mendengarkan Donghae bercerita.

“Aku baru melihatmu begitu manis berinteraksi dengan anak kecil tadi sewaktu bersama Sunghwan… Aku jadi penasaran bagaimana kau dengan Jongjin…. Dan aku lebih penasaran lagi bagaimana nanti kau dengan namja kecil kita lahir… Kau pasti jadi appa yang hebat baginya” Eunyoung tersenyum riang mengelus perutnya. Donghae pun ikut tersenyum namun tatapan matanya menyiratkan harapan dan permohonan agar ucapan istrinya benar terwujud.

Donghae dan Eunyoung menyusuri jalan menuju rumah mereka. Ditengah perjalanan Donghae sering terlihat aneh. Sesekali ia terbatuk lalu memegang perutnya, Eunyoung di sampingnya pun menjadi sedikit cemas karenanya. Ia mengingat kondisi Donghae semalam yang sangat membuatnya panik.

Akhirnya Donghae dan Eunyoung sampai di rumah. Donghae dan Eunyoung langsung duduk di sofa melepas lelah sehabis berjalan cukup lama tadi. Namun tiba-tiba Donghae bangkit dan agak tergesa berlari ke arah kamar mandi. Eunyoung yang melihatnya pun ikut bangkit lalu mengikutinya dari belakang.

Donghae merunduk di depan wastafel terbatuk-batuk sambil berusaha mengeluarkan semua isi perutnya. Wajahnya memucat dan bermandikan peluh, Eunyoung perlahan mendekatinya dengan penuh kecemasan.

Oppa… Apa perutmu sakit lagi?” Tanya Eunyoung cemas dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Donghae.

Eunyoung membantu menyeka peluh di wajah Donghae yang masih merunduk di depan wastafel. “Aku tidak apa-apa, Jagi…” Lirih Donghae.

“Kau seperti ini dan masih bilang tidak apa-apa, Oppa… Aku perlu menelfon Kyuhyun oppa untuk memeriksamu…” Eunyoung kesal lalu mulai berjalan keluar kamar mandi namun dengan cepat Donghae menahan tangannya.

“Tidak perlu, Kyuhyun pasti sedang menemani Younghyun di rumah sakit, dan tidak mungkin kau minta Kyuhyun ke sini… Aku hanya perlu minum obat, Jagi…” Ucap Donghae. Eunyoung terdiam, ia cemas dengan kondisi suaminya dari kemarin namun satu sisi ia juga membenarkan ucapan Donghae.

“Baiklah, hari ini… Kau harus istirahat total, Oppa… Dengarkan semua ucapanku, arrasso?” Eunyoung menatap tegas Donghae.

Tanpa menjawab, Donghae langsung memeluk Eunyoung yang memang terlihat panik dan cemas. “Jangan terlalu khawatir seperti itu, aku tidak apa-apa… Tersenyumlah seperti tadi pagi….”

Eunyoung mengangguk pasrah dalam dekapan Donghae. Meskipun cemas dan khwatirnya belum hilang, ia sangat tahu Donghae benci melihatnya menangis, jadi Eunyoung berusaha menahan tangisnya di depan Donghae.

—————^ Should We Give Up or be Strong, Honey…? ^—————

Seperti hari-hari sebelumnya, Kyuhyun masih tetap setia menemani Younghyun. Hari ini adalah jadwalnya Kyuhyun untuk off, jadi ia bisa menemani Younghyun seharian ini tanpa harus meninggalkannya untuk mengontrol pasien. Siang itu Kyuhyun tampak santai, ia hanya mengenakan Jeans panjang dengan kaos V-neck berwarna hijau sedangkan Younghyun masih mengenakan pakaian layaknya pasien rumah sakit.

Jagiya,, ini sudah siang…. Kau masih ingin membiarkan perutmu kosong seperti ini?” Bisik Kyuhyun di telinga Younghyun, ia memeluk punggung Younghyun yang berbaring dengan posisi membelakanginya. Younghyun hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

Jagi…” Panggil Kyuhyun tak sabar dengan sikap Younghyun yang sudah berapa hari ini tidak mengisi perutnya dengan baik.

“Aku mengantuk, Oppa…” Jawab Younghyun singkat dan ia memejamkan matanya, berpura-pura tidur.

“Kau tidak biasanya seperti ini,, kau baru saja bangun tidur beberapa jam yang lalu..” Ucap Kyuhyun heran. “apa kau tidak enak badan, Jagi?? Apa dan di mana yang sakit?”

“Aku tidak apa-apa, Oppa… hanya mengantuk…” Balas Younghyun masih memejamkan matanya. Suasana hatinya tidak terlihat baik hari ini.

“Setidaknya makanlah dulu sebelum kau tidur kembali…” Pinta Kyuhyun mengusap kepala Younghyun lembut, ia kecup rambut Younghyun sambil merasakan harum rambut isterinya itu.

“Aku tidak mau oppa,, lagi pula sudah tidak ada baby di dalam perutku… jadi aku tidak perlu memberikan asupan lebih untuk tubuhku bukan?” Younghyun menaikkan intonasinya. Kyuhyun cukup terkejut, miris mendengar Younghyun mengucapkan kalimat itu lagi.

“Baiklah…” Pasrah Kyuhyun, ia bahkan mengatakan itu dengan sangat lirih dan ia melepaskan lingkaran tangannya yang sejak tadi berada di tubuh Younghyun. Beranjak bangun dari posisi tidurannya.

Younghyun terhenyak, ia menoleh pada Kyuhyun yang kini sedang memakai sepatunya dan mulai berjalan keluar ruangan. Ada perasaan bersalah membuncah di hati Younghyun, bukan maksud hati ia berkata sepeti itu. Younghyun-pun beranjak bangun walau masih terasa lemah, ia tertatih-tatih mengejar Kyuhyun, menubrukkan tubuhnya dan mememeluk pinggang Kyuhyun erat.

Oppa, mianhae…. Jeongmal mianhae!!!” isak Younghyun di punggung Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam mematung, tak menjawab maupun tak bergerak. “Oppa….” Younghyun membalikan tubuh Kyuhyun agar ia berhadapan dengannya. “Oppa menangis? Mianhae…” Tangannya terulur mengusap air mata yang membasahi pipi Kyuhyun.

“Kau tahu perasaanku, Jagi?? Aku sedih mendengar kau bicara seperti itu tadi… Kita sudah kehilangan bayi kita, dan sekarang aku tidak mau kehilangan diri-mu…” Parau Kyuhyun, masih terdiam dengan posisinya, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Younghyun, ia hanya menatap sedih sepatu kets putihnya.

OppaMianhae, aku… aku….” Ragu Younghyun. Ia ikut menatap sandal rumahan yang ia kenakan saat itu. Sungguh sangat menyesal ia membuat namja yang paling ia sukai menjadi seperti ini.

“Kalau kau terus seperti ini… bagaimana aku bisa bertahan juga, Jagi…

Oppa…”

“Kau juga harus bertahan, demi aku….” Younghyun memeluk tubuh Kyuhyun, menangis dalam pelukannya. Perlahan Kyuhyun mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Younghyun. “Kau mau kan memenuhi permintaan-ku, Jagi??” samar-samar Kyuhyun dapat merasakan Younghyun menganggukkan kepalanya di dadanya. “Makanlah, hanya itu permintaan-ku…”

“Iya, oppa… aku akan memenuhi permintaan-mu….” Younghyun melepas pelukannya, ia tangkupkan kedua pipi Kyuhyun dengan kedua tangannya, menatap Kyuhyun dengan senyum terkembang di bibir manisnya. “Mianhae, aku tidak akan bersikap seperti ini lagi… aku janji!!!”

Kyuhyun ikut tersenyum melihat kedua sudut bibir Younghyun yang terangkat mengukir senyuman manis yang telah lama ia rindukan. “Saranghae!!” Ucap Kyuhyun lalu Ia cium bibir manis Younghyun dengan lembut.

Tok Tok Tok…

“Hyunnie, Mian aku baru bisa datang sekarang…” Jaejoong masuk kedalam ruangan Younghyun, sedikit menginterupsi kegiatan Kyuhyun dan Younghyun beberapa detik lalu. Younghyun tersenyum menyambut Jaejoong yang baru saja datang itu. Ia kembali ke ranjangnya dengan di bantu Kyuhyun.

Gwaenchana, oppa… aku tahu kau sibuk Karena Kyuhyun oppa banyak menemaniku…. Seharusnya aku yang meminta maaf…” Ucap Younghyun pada Jaejoong yang kini sudah duduk di dekat ranjang Younghyun. “Oppa, bagaimana kondisi Sena… sudah lama aku tidak bertemu dengannya…”

Jagiya!!!” Potong Kyuhyun dengan nada kesal.

“Sena baik-baik saja… hanya setelah kejadian itu Sena lebih sering menyendiri, terdiam di pojok ruangannya sambil memandang taman luar dan sesekali ia menangis… tapi sejauh ini, aku tidak menangkap sesuatu yang aneh dari sikapnya, seperti hal yang wajar ia bersikap seperti itu.” Analisa Jaejoong mengenai kondisi Sena belakangan ini.

“Kondisi Sena baik-baik saja, Hyunnie..” Sambung Jaejoong cepat karena ia menangkap gurat kecemasan dan sedih di wajah Younghyun. “Oh iya bagaimana keadaanmu??” tanya Jaejoong mengalihkan topik.

“Sejauh ini kesehatan Younghyun sudah lebih baik… Tapi hyung aku sudah menyerah membujuknya untuk makan,, kau punya cara yang ampuh, hyung?” Ucap Kyuhyun mengadu pada Jaejoong. Jaejoong tersenyum geli melihat Younghyun mendengus kesal sambil mencubit pinggang Kyuhyun, membuat suaminya itu menringis sakit.

“Kau mau membuka kartu-ku oppa, di depan Jaejoong oppaAisssh!!!” Cemberut Younghyun sambil menggembungkan kedua pipinya yang kini tak tembam seperti dulu.

“Sakit, Jagi… kau melakukan ini di depan Jae hyungAissh!!!” Balas Kyuhyun dengan nada yang di buat-buat kesal.

“Kalian ini…. aigooo, tak baik untuk kesehatanmu, Hyunnie… makanlah yang banyak agar kau cepat pulih…. dan aku yakin Kyuhyun akan mencarikan apa yang ingin kau makan… benar begitu bukan, Kyu..” Kyuhyun mengangguk mengiyakan sedangkan Younghyun semakin menekuk wajahnya. Namun tak lama ia tersenyum lebar menatap Kyuhyun.

Oppa benar kau akan memenuhi permintaanku?? Umm… aku mau makan sandwich yang ada di cafetaria, tanpa daun selada, tanpa bawang bombay…. dan aku ingin ikan tuna-nya diganti dengan ayam,, ah, iya satu lagi tidak pakai mayonnaise dan dipanggang rotinya, okay oppa??” Kyuhyun mengernyit bingung dengan permintaan Younghyun.

“Sudah sana, Kyu… mumpung isterimu ingin makan… cepat penuhi permintaannya….” Jaejoong menyetujui aksi Kyuhyun. Ia hampir saja tertawa lepas mendengar permintaan Younghyun. Mana ada sandwich dipanggang rotinya.

“Baiklah, aku titip Hyunnie-ku sebentar ya hyung!” Kyuhyun menulis perincian menu pesanan isterinya itu di notes ponselnya, takut ia lupa dan Younghyun tidak ingin makan.

Aisssh, memang aku ini barang titipan apa?? Seenaknya saja kau oppa… Sudah pergi sana,, jangan kembali sebelum kau mendapatkannya….” Usir Younghyun sambil mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dari tubuhnya.

Sementara Jaejoong masih terkikik geli melihat Younghyun yang seperti itu, Kyuhyun segera melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tujuan utamanya adalah menuju cafetaria untuk membeli makanan yang di inginkan oleh Younghyun. Namun saat ia sudah hampir sampai di cafetaria, ia tiba-tiba teringat dengan Donghae. Kemarin, namja yang merupakan sahabat baiknya itu tidak datang ke rumah sakit dan ia tidak mendengar kabar apapun darinya sejak malam ia mengantarnya pulang ke rumah.

Tanpa pikir panjang lagi, Kyuhyun memutar arah jalannya menuju ruangan Donghae. Sesampainya di sana, Kyuhyun langsung masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Donghae tengah bersandar di sofa dengan kedua kaki yang ia luruskan di atas meja. Matanya terpejam dan wajahnya mengernyit sakit dengan tangan memijat kecil pelipisnya dan ia terlihat sedikit pucat siang itu. Kyuhyun yang melihat itu segera duduk di samping Donghae.

“Kau sakit, Hae?? Wajahmu pucat…” Cemas Kyuhyun. Donghae masih terpejam, tidak menyadari kehadiran Kyuhyun. “Lee Donghae…” Panggil Kyuhyun lagi. dan membuat Donghae perlahan membuka matanya yang sedikit sayu.

“Oh, Kyu!! Kapan kau datang,,? kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu…? kebiasaan buruk dasar Evil !!” Donghae mengangkat kakinya ke posisi normal dan ia sedikit merapikan jas kerjanya yang sedikit kusut.

“Kau sakit, Hae?” Kyuhyun tak mengidahkan pertanyaan Donghae barusan. Ia menatap Donghae dengan pandangan cemas, dan tangannya terulur untuk menyentuh kening Donghae, takut sahabatnya itu demam lagi seperti kemarin.

Aniya…” Donghae beranjak dari duduknya sebelum Kyuhyun berhasil menyentuh keningnya. Kemudian ia berjalan menuju kursi kerjanya dan mengambil beberapa medical report yang berserakan di atas meja kerjanya.

“Hae, kau ini….” dengus Kyuhyun kesal. Donghae selalu saja seperti ini, tidak ingin memberitahu apapun yang ia rasakan bahkan pada Kyuhyun sekalipun. Padahal beberapa kali Kyuhyun menangkap kondisi Donghae yang sedikit menurun belakangan ini.

“memang aku kenapa?, aku tidak apa-apa… hanya mengantuk…” Ucap Donghae santai. Ia sudah kembali berkutat dengan medical reportnya dengan wajah yang serius.

“Donghae-ssi… aku tahu kau tidak bisa berbohong… aku tahu semua sifatmu dari dulu…” Ucap Kyuhyun lagi masih dengan nada kesal seperti tadi. Alih-alih menjawab, Donghae hanya memamerkan cengiran khasnya, yang biasa ia pergunakan untuk menghilangkan cemas orang-orang di sekitarnya. “apa terjadi sesuatu dengan dirimu, Hae? Kemarin kau istirahat dengan baik kan?

Aissh, jam berapa ini?? aigoo sepertinya aku mulai pikun sekarang… sudah waktunya mengontrol pasien..” Donghae terlihat sibuk membereskan berkasnya sembarangan dan buru-buru mengambil stetoskopnya. “Aku tinggal dulu ya, Kyu… kalau kau masih mau di sini silahkan,,, sekalian jaga ruanganku yaa..” Ucap Donghae dengan penuh senyum di wajah pucatnya di akhiri dengan tawa kecil-nya yang makin membuat Kyuhyun kesal setengah mati karena pertanyaannya tidak mendapat jawaban yang pasti.

Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan Donghae. Dengan wajah yang bersungut dan rasa penasaran akibat tingkah Donghae, ia kembali menyusuri lobi rumah sakit menuju cafetaria yang berada tepat di depan rumah sakit. Ketika sampai di depan lobi, Kyuhyun melihat Eunyoung yang baru tiba dengan menjinjing tas kecil di tangannya. Eunyoung dengan perut yang sudah nampak besar sesekali menghela nafas sambil mengipas wajahnya.

“Eunyoung-ah…!” panggil Kyuhyun sambil menghampiri Eunyoung yang memang terlihat lelah hari itu.

“Kyuhyun oppaannyeong…” sapa Eunyoung. “Aigoo… baby…” tiba-tiba Eunyoung sedikit meringissambil mengelus perutnya seperti menenangkan bayi di dalam kandungangnya itu.

“ada apa, Young-ah?? Kau merasakan kontraksi?” panik Kyuhyun. Tidak dipungkiri Kyuhyun dan Younghyun kini menjadi lebih protectif pada Eunyoung. Sikap Kyuhyun dan Younghyun yang seperti itu mungkin cukup beralasan karena trauma atau lebih tepatnya belajar dari pengalaman. Terlebih lagi, Eunyoung salah satu orang ynag mereka sayangi.

Gwaenchana, oppa… ia sudah biasa seperti ini… hanya pergerakan biasa, mmm… kata dokter Kim hal ini pasti akan sering terjadi mendekati persalinan…” ucap Eunyoung berusaha membuat kepanikan Kyuhyun mereda. “Ah, iya… aku membuatkan makan siang untukmu dan Hyunnie, nanti kita makan bersama ya… Kalau kita makan bersama Hyunnie pasti senang…”

Gomawo, Young-ah… Mian, aku jadi merepotkanmu… Ah, iya… ada yang ingin aku tanyakan…” Kyuhyun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Donghae masih mengontrol pasien, kau pasti bosan menunggu di ruangan Hyunnie, bagaimana kalau kita bicara sebentar di cafetaria, mmm… sekalian Hyunnie meminta sandwich…” lanjut Kyuhyun.

“Tapi, nanti Hyunnie terlalu lama sendirian di kamar, Oppa..”

“Ada Jaejoong hyung yang menemaninya… Kajja… Kau tidak ingin membuat Hyunnie menekuk wajahnya karena sandwich-nya terlambat datang?” Eunyoung mengangguk lalu mengikuti Kyuhyun dari belakang menuju cafetaria.

Sesampainya di cafetaria yang cukup ramai, Eunyoung dan Kyuhyun langsung menuju meja dekat jendela besar yang menghadap langsung gedung rumah sakit. Tidak lama, pelayan datang menghampiri meja mereka. Kyuhyun dengan segera membuka notes di ponselnya dan menyebutkan sandwich sesuai pesanan Younghyun, Eunyoung menahan tawa mendengar permintaan Younghyun, pelayan yang mencatat pun sedikit heran mencatat pesanan itu. Dengan setengah membujuk, Kyuhyun berhasil meyakinkan pelayan cafetaria untuk membuatkannya. Pelayan itu pergi dengan mengusap belakang kepalanya dan mengeleng menatap kertas pesanan di tangannya.

Oppa… itu semua Hyunnie yang minta?” tanya Eunyoung dan dijawab anggukan oleh Kyuhyun. “Akhirnya Hyunnie kita kembali…” riang Eunyoung menyipitkan matanya seraya tersenyum menatap Kyuhyun.

Tidak lama pelayan datang dengan minuman yang Kyuhyun dan Eunyoung pesan menginterupsi kesenangan Eunyoung sesaat. Secangkir ice chocolate coffee dan secangkir green tea hangat sudah tersaji di meja lalu pelayan pun meninggalkan meja Eunyoung dan Kyuhyun.

“Young-ah, mmm… ada sesuatu yang ingin aku tanyakan… mengenai Donghae…”  Kyuhyun menjeda ucapannya dan meminum ice chocolate coffee pesanannya. “Akhir-akhir ini, aku sering melihat kondisi Donghae yang menurun saat berada di rumah sakit, apa Donghae mengeluh mengenai kondisinya belakangan ini denganmu Young-ah?” tanya Kyuhyun menatap Eunyoung serius.

mmm…” Eunyoung sedikit ragu menjawab pertanyaan Kyuhyun. Donghae memang sering mengeluh sakit, bahkan seharian kemari Donghae hanya berada di tempat tidur setelah jalan pagi.

“Donghae salah satu pasienku, Young-ah… ia juga sahabatku… tapi setiap aku bertanya tentang kondisinya, ia selalu mengelak dan berkata tidak ada apa-apa… Jadi, mungkin Donghae lebih terbuka denganmu, isterinya…” ucap Kyuhyun bernada serius berusaha meyakinkan Eunyoung untuk menjawab rasa penasarannya pada Donghae.

mmm…  Malam itu, setelah kau pulang habis mengantar kami, Donghae oppa memang demam, dan sedikit menahan sakit di perutnya… dan ia hanya minta aku mengambilkan obatnya. Paginya, Donghae oppa malah mengajakku berjalan pagi, karena ia bilang sudah lebih baik… ku kira memang itu demam biasa karena kelelahan… tapi…” Eunyoung menghentikan ucapannya lalu menghela nafas berat. “ketika sampai di rumah, sakit di perutnya datang kembali… dan lagi-lagi ia hanya ingin minum obatnya. Tapi seharian kemarin aku menyuruhnya istirahat, dan pagi ini Donghae oppa sudah terlihat lebih baik…” lanjut Eunyoung.

“Lee Donghae…” Kyuhyun menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

Mian, oppa… bukannya aku beraksud untuk tidak menghubungimu kemarin, tapi Donghae oppa bilang, itu tidak perlu, lagipula kau harus menemani Hyunnie di rumah sakit,,,” Eunyoung tertunduk merasa bersalah membuat Kyuhyun sedikit kecewa.

Gwaenchana… aku mengerti pasti Donghae yang minta, tapi lain kali kalau Donghae seperti itu segera hubungi aku, jangan dengarkan suamimu itu…” Kyuhyun kembali meminum minumannya. “Aku sering menangkap kondisi Donghae yang sedang tidak baik…” lanjut Kyuhyun dan dibalas anggukan oleh Eunyoung.

“Ah, iya… ada yang ingin aku tanyakan juga padamu, oppa…” dengan sedikit tergesa Eunyoung mengangkat kepalanya menatap Kyuhyun dengan penuh keingintahuan. “Kau kenal Jongjin juga kan, Oppa?”

“Jongjin? Oh, anak kecil di Gwangju… ada apa dengan Jongjin, Young-ah…” heran Kyuhyun.

“Iya… seorang anak kecil dari Gwangju… Kemarin, waktu berjalan pagi di taman, aku dan Donghae oppa bertemu dengan seorang anak, yang mengingatkan Donghae oppa dengan Jongjin… sampai waktu tidur pun ia sampai mengigau memanggil nama Jongjin…” Eunyoung bercerita panjang lalu kembali menyesap green tea-nya.

Jinja? Sampai seperti itu? Mmm… memang Jongjin dan Donghae sangat dekat, walaupun hanya beberapa hari mereka bersama, yang ku tahu Donghae memang selalu dekat dengan anak kecil tapi Jongjin memang memiliki moment khusus dengan Donghae. Donghae yang membuat Jongjin bangkit, ia ditemukan oleh Donghae sedang menangis sambil memeluk jasad ibunya… mulai sejak itu, Jongjin selalu berada di dekat Donghae, bahkan membantu kami merawat pasien anak-anak di sana…” jelas Kyuhyun.

Eunyoung menganggukan kembali kepalanya, mengerti semua penjelasan Kyuhyun. “lalu bagaimana dengan Hyung-nya?” tanya Eunyoung kembali penasaran.

“Sampai sekarang kami belum tahu kabar Jongjin lagi… memang Jongjin menanti Hyung-nya yang hilang karena bencana itu, dan mungkin itu yang membuat Donghae penasaran dengan kabar Jongjin..”

mmm… aku jadi penasaran dengan Jongjin…” ucap Eunyoung. “Oh, iya, satu lagi oppa… Aku ingin memberi kejutan di ulang tahun Donghae oppa… Kau ingat kan, seminggu lagi Donghae oppa ulang tahun… mmm… Bagaimana kalau kita ajak Jongjin ke Seoul… ?” excited Eunyoung.

“ah, iya… si ikan itu ulang tahun… aku hampir lupa, ini sudah bulan oktober ya…?”

isshh.. oppa, si ikan itu suamiku, dan sahabatmu, masa kau melupakan hari ulang tahunnya…” kesal Eunyoung. “Kita bisa membuat suatu kejutan untuknya, kau ingat dulu Donghae oppa mempersiapkan semua kejutan di hari ulang tahunku… sekarang aku ingin membuatnya untuk suamiku…” lanjut Eunyoung yang lebih bersemangat dari sebelumnya.

“Wah, ide bagus Young-ah, maksudmu kita buat pesta kejutan untuk si ikan itu kan?” Kyuhyun ikut bersemangat mendengar usul Eunyoung. Eunyoung kembali mendengus, seakan tidak rela suaminya dipanggil dengan sebutan ‘si ikan’ oleh Kyuhyun. “Hyunnie juga pasti sangat setuju dengan ide-mu, Young-ah… dan semoga ini bisa mengembalikan canda tawanya seperti dulu…”

‘Ddrrrrtt… Ddrrrrtttt…’

Tiba-tiba ponsel Kyuhyun bergetar di sakunya. Kyuhyun tersenyum menatap layar ponselnya dan membuat Eunyoung heran menantapnya. Eunyoung menatap Kyuhyun seakan mengatakan “ada apa?” lalu Kyuhyun menunjukan ponselnya ke arah Eunyoung. Sebuah pesan dari Younghyun…

‘oppaaaaaaa… Eunyoung belum datang, kau juga belum kembali, Jaejoong oppa harus kembali bekerja… kau membelinya atau membuatnya sendiri di rumah? Kalau kau membuatnya, pastikan sandwich nya lolos uji kelayakan makanan ya, Oppa…!!! :* ‘

From : nae sarang… Hyunnie

 

Eunyoung ikut tersenyum setelah membaca pesan di ponsel Kyuhyun. Kini ia semakin menyadari Younghyun perlahan mulai kembali ceria. Kyuhyun pun ikut tersenyum lega. Selain penasarannya terhadap Donghae terjawab, isterinya mulai kembali seperti Youghyun yang dulu.Pesanan sandwich Younghyun pun tiba. Kyuhyun dan Eunyoung pun segera bergegas kembali menuju ruangan Younghyun.

To be continue…

79 Comments (+add yours?)

  1. AnisCLouds
    Aug 31, 2012 @ 11:38:07

    .kasiannn Hyunnie ..
    .kasiaannnn Donghae Oppa ..
    .semoga mreka mendapatkn keajaiban n hidup yg indah … (ayoo .. Bwt keajaiban chingu)
    .Lanjuttttttttttt ..

    Reply

  2. WonKyu_ELF
    Feb 17, 2013 @ 04:21:07

    Astga! Gimana nasib hyun couple klo rahimnya sdh diangkat??
    Konfliknya bnr2 menumpuk😦
    Tp diselingi dgn kisah kasih mereka yg luar biasa bikin adem.

    Reply

  3. Melody Amell
    Feb 19, 2013 @ 07:19:46

    aigooo!! ceritanya daebakk.. bikin aku nangus… kasian youyhunnya…

    Reply

  4. Wei - Ni
    Mar 02, 2013 @ 10:17:11

    HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH andwe
    author … jahat … hiks hiks … knp hyunnie di bkn keguguran trus ga bisa hamil lagi? ( ga bisa ngebayangin perasaan hyunnie dan KYUHUYN )
    pasti kyu hyun – hyunnie terpukul abis tuh…

    HIKS … HIKS … part ini NGENES abis ………………

    Reply

  5. HalcaliGaemKyu
    Aug 12, 2013 @ 05:40:36

    Huft… Pasti berat buat hyunnie. Kehilangan anaknya jg hrs kehilangan kesempatan untuk menjadi ibu kelak. Syukurlah ada kyu yg bs menguatkan hyunnie. Aku senang hyunnie sdh mulai bangkit dan ceria..
    Lanjut ya

    Reply

  6. ginachoi407
    Oct 24, 2013 @ 03:35:15

    waahh kasian Younghyun.keilangan dua bayinya, trs donghae knp?? jgn sampe donghae nya meninggal jg…
    mudah”an mereka dpt keajaiban …

    Reply

  7. enkoi
    Nov 28, 2013 @ 17:08:45

    Dokternya ko penyakitan semua, sedih sih untung akhirannya lucu,younghyun dah ga hamil ko ngidamnya masih lanjut…

    Reply

  8. inggarkichulsung
    Mar 20, 2014 @ 20:42:18

    Aigoo sepertinya penyakit Hae oppa semakin parah, smg mrk semua bs slg menguatkan pasangan masing2 krn cinta mrk ber4 sgt indah

    Reply

  9. Cho In Hyun
    May 17, 2014 @ 11:23:59

    Hhuuuaa sedihhh babynya gak bisa diselamatkan kasian Younghyun…ehh iyahh jongjin gimana kabarnya ? Semangat Younghyun Dan Kyuhyun yah walaupun kalian sedang terpuruk Dan berduka

    Reply

  10. Kim Heena
    Jun 03, 2014 @ 14:00:08

    Semua orang punya cobaan hidup masing-masing..Hyunnie dng rahim dan babynya..sementara Hae dng CA..AHH sedihh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@fanfict_palace

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Memories

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  
%d bloggers like this: